oleh

AGAMA DAN RASISME

-OPINI-752 views

Oleh: Sen.Sei*

Beberapa waktu yang lalu dalam petualangan saya di internet, saya tidak sengaja menemukan tulisan yang menarik untuk dibaca, dan pada akhirnya saya mencoba untuk membahas lebih mendalam. Tulisan tersebut di tulis oleh Dr. Socratez S. Yoman dengan judul “Rasisme Sistemik: Akar Masalah Papua yang Merupakan Watak Penguasa Indonesia & Rakyatnya”, dan dari tulisan tersebut terdapat hal-hal yang tidak asing bagi kita yaitu Agama dan Rasisme. Agama, karena sipenulis menggunakan ayat-ayat Alkitab, serta mengangkat permasalahan yang katanya sering dialami oleh masyarakat Papua yaitu Rasisme.

Apa itu Agama?

Menurut bahasa Sansekerta, Agama terdiri dari dua kata yaitu, “A” artinya tidak, dan “Gama” artinya kacau, sehingga jika dilihat dari asal katanya dapat didefinikan bahwa agama adalah suatu peraturan yang dapat menghindarkan manusia dari kekacauan, serta mengarahkan manusia menjadi lebih teratur dan tertib.

Menurut seorang pencetus sosisologi modern yaitu Emile Durkheim mengatakan bahwa agama adalah sistem kepercayaan dan praktek yang telah dipersatukan dan berkaitan dengan hal-hal yang kudus, kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek yang bersatu menjadi suatu komunitas moral yang tunggal.

Tidak sampai disitu, masih banyak lagi pengertian dan konsep agama menurut para ahli maupun pembuka agama lainnya. Namun, di satu sisi tidak mudah untuk mendefinisikan atau melukiskan agama secara universal, karena adanya suku dan bangsa yang bermacam-macam di dunia serta faktor-faktor lainnya. Tetapi yang perlu digaris bawahi dari setiap definisi dan Konsep agama adalah adanya suatu ajaran atau pedoman hidup yang mengajak kita kejalan yang lebih baik dan penuh dengan perdamaian serta kasih sayang.

Apa itu Rasisme?

Menurut organisasi Human Rights and Equal Opportunity Commission, Rasisme adalah suatu ideologi yang merendahkan etnis atau ras kelompok atau individu, karena alasan mitos yang beredar.

Selain itu, berdasarkan buku yang berjudul Bumi Manusia yang ditulis oleh seorang penulis terkenal Indonesia yaitu Pramoedya Ananta Toer, menjelaskan secara tersirat bahwa Rasisme adalah suatu pemahaman yang menolak satu golongan atau individu atas dasar perbedaan ras.

Dari pengertian diatas, seharusnya Agama dapat dijadikan sebagai pencegah dari Rasisme, karena Agama itu sendiri mengajarkan untuk saling menghormati dalam perbadaan, baik itu perbedaan agama, ras, budaya, dll.

Namun, Berdasarkan kasus-kasus Rasisme di seluruh dunia, Agama malah menjadi korban dari Rasisme itu sendiri, seperti kasus Rasisme yang terjadi di negara-negara Eropa. Menurut laporan dari European Network Against Racism (ENAR) tentang Rasisme telah memberi bukti diskriminasi dan stigmatisasi umat Islam, khususnya sebagai akibat dari kejahatan rasial, kebijakan “anti-terorisme”, hukum diskriminasi yang mencegah akses di beberapa bidang kehidupan seperti pendidikan dan pekerjaan, dan wacana populis oleh politisi di media.

Minoritas Muslim di Eropa semakin menggambarkan bahwa, muslim bukan dari bagian masyarakat Eropa, bahkan di anggap sebagai ancaman terhadap cara hidup masyarakat Eropa. Selain itu, kebijakan “anti-terorisme” berdampak pada tidak proporsionalnya terhadap komunitas minoritas, terutama Muslim dan migran. Perampasan kebebesan orang-orang muslim yang tidak bersalah secara sewenang-wenang memicu rasa tidak aman, ketidakadilan dan penolakan terhadap pihak berwenang, sehingga langkah-langka keamanan ini kontradiktif dalam jangka panjang. Dengan adanya kebijakan keamanan, stigmatisasi dan bahasa diskriminatif yang semakin meningkat, mengakibatkan muslim sebagai musuh dari dalam yang perlu dikendalikan dan diawasi.

Dengan kata lain, kasus Rasisme yang terjadi pada Muslim di Eropa tidak hanya dilakukan oleh kebanyakan masyarakat Eropa, namun juga dilakukan oleh pemerintah melalui kebijakan-kebijakannya.

Di Indonesia sendiri kasus Rasisme sering kali dikaitkan dengan Papua. Hal tersebut marak diperbincangkan sejak kejadian di Asrama Mahasiswa Papua, Surabaya, pada bulan Agustus 2019, yang mana pada saat itu terlontar kata-kata monyet dan binatang lainnya oleh beberapa oknum Ormas dan Aparat terhadap Mahasiswa Papua, karena dipicu dugaan perusakan bendera Merah Putih di Asrama tersebut. Selanjutnya, kasus tersebut terus berkembang hingga menyebabkan aksi anarkis di beberapa wilayah khususnya Papua.

Berdasarkan pengertian Rasisme yang sebelumnya sudah dijelaskan, memang kejadian tersebut dapat dikatakan sebagai kasus Rasisme. Namun, apakah tidak terlalu berlebihan jika hal tersebut dinilai dilakukan oleh Negara Indonesia, karena dari tulisan tuan pendeta tersebut secara gamblang telah mengatakan demikian, dan bahkan didukung oleh para tokoh maupun aktivis HAM lainnya. Jika dikaitkan dengan kasus Rasisme di Eropa, tentu kasus Rasisme yang terjadi pada 2019 lalu bukanlah hal yang harus dibesar-besarkan, karena pemerintah sendiri telah memberikan hukuman yang setimpal kepada oknum-oknum tersebut. Selain itu dalam kasus tersebut, masyarakat Indonesia juga banyak yang menaruh simpati dan empatinya kepada Mahasiswa Papua tersebut, sehingga perlu ditekankan lagi bahwa kejadian tersebut hanya dilakukan oleh segelintir oknum.

Jika ditinjau dari sisi sosiokultural, apa yang terjadi terhadap terhadap Mahasiswa Papua di Surabaya, baik yang dilakukan oleh individu maupun sekelompok oknum, hal tersebut tetap dikatakan sebagai kasus Rasisme. Namun di Indonesia sendiri, pemerintah tidak pernah sekalipun mendukung terjadinya aksi-aksi Rasisme, karena dalam hal ini pemerintah telah bertindak tegas terhap oknum-oknum tersebut. Bahkan, Pemerintah Indonesia telah memberikan kebebasan terhadap masyarakat Papua untuk mengatur wilayahnya sendiri melalui Otonomi Khusus. Dengan kata lain, saya pribadi tidak setuju terhadap tuan Dr. Socrates Sofyan Yoman, bukan hanya karena tuduhannya terhadap Pemerintah Indonesia tetapi juga karena menggunakan ayat-ayat Alkitab sebagai pembenaran terhadap perilaku yang dianggapnya benar. Oleh karenanya, memahami persoalan Rasisme di Papua hendaknya dilakukan secara utuh, tidak membeda-bedakan, yang justru menjebak bapak pendeta ini dalam berperilaku rasis itu sendiri.

*Sen.Sei: Internet Activist

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed