BBKSDA Papua Terima 51 Satwa dari BKSDA Sulawesi Utara

Tukan Ben
Dua burung kasuari gelambir tunggal ada di antara 51 satwa yang diserahkan BKSDA Sulawesi Utara ke BBKSDA Papua. (Foto : Humas BBKSDA Papua)

TIFFANEWS.COM,- Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua menerima 51 satwa jenis burung dan mamalia dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara.

Menurut siaran pers dari BBKSDA Papua , Jumat (16/7), satwa yang dipindahkan ke Papua meliputi 33 burung kasturi kepala hitam (Lorius lory), 11 burung kakatua rawa (Cacatua sanguinea), dua burung kasuari gelambir tunggal (Casuarius unappendiculatus), tiga angsa boiga (Anseranas semipalmata), dan dua pelandu Papua (Dorcopsis hageni).

Satwa-satwa tersebut diangkut dari Sulawesi Utara menggunakan Kapal Motor Sinabung dan tiba di Pelabuhan Jayapura, Papua, pada Kamis (15/7).

“Kami sambut hangat kedatangan 51 ekor satwa ini, yang diantarkan langsung oleh polhut, keeper (penjaga), dan dokter hewan dari BKSDA Sulawesi Utara. Luar biasa kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas semua melestarikan satwa endemik Papua,” kata Kepala BBKSDA Papua Edward Sembiring.

Menurut Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan, dan Pengawetan BBKSDA Papua Lusiana Dyah Ratnawati, di antara 51 satwa yang dipindahkan kembali ke Papua ada 15 satwa yang dipulangkan dari Filipina.

Satwa yang direpatriasi dari Filipina meliputi 11 kasturi kepala hitam, dua kasuari gelambir tunggal, dan dua pelandu papua.

“Sisanya merupakan satwa sitaan dan penyerahan masyarakat kepada BKSDA Sulawesi Utara,” kata Lusiana.

Menurut dia, sebelum dipindahkan satwa-satwa tersebut telah menjalani pemeriksaan dan semuanya dinyatakan sehat. Setelah tiba di Jayapura, dokter hewan kembali memeriksa kondisi kesehatan satwa dan menyatakan seluruh satwa dalam keadaan sehat.

Satwa-satwa tersebut selanjutnya akan menjalani rehabilitasi di Kandang Transit Buper Waena hingga siap dilepasliarkan ke alam, kata Lusiana.

Dia menjelaskan, satwa-satwa yang dipindahkan ke Papua oleh BKSDA Sulawesi Utara termasuk satwa dilindungi menurut  Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi.

“Dalam daftar IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources), semua satwa tersebut berstatus least concern (LC), artinya telah dievaluasi dan termasuk berisiko rendah (punah),” katanya.(ant/*bn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Peneliti: Peraturan Turunan UU Otsus Harus Perkuat Peran Gubernur

TIFFANEWS.COM,- Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cahyo Pamungkas mengatakan peraturan turunan UU Otonomi Khusus (Otsus) Papua harus memperkuat peran dan kewenangan gubernur untuk memaksimalkan penerapan regulasi tersebut. “Pemerintah harus membuat peraturan pemerintah (PP) yang memperkuat kewenangan gubernur untuk menjalankan kekhususan UU Otsus Papua,” kata Cahyo di Jakarta, Jumat (16/7). […]
Instagram did not return a 200.
Translate »