oleh

Buta Huruf Modern Bukan Tidak Bisa Baca Tulis

TIFFANEWS.COM,– Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di era modern dewasa ini sangat berkembang pesat. Hal itu membuat kemudahan akses informasi oleh masyarakat. Hanya dengan gawai dan media internet, berbagai informasi seperti akses berita dan literasi keilmuan bisa diakses dengan mudah. Namun, dengan melimpah ruahnya informasi justru muncul problem baru.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, tantangan yang dihadapi dunia termasuk Indonesia di tengah era serba mudah ini yaitu buta huruf (iliterarsi) modern.

Menurut Menko Muhadjir, Iliterasi modern bukan berarti tidak bisa membaca atau menulis, tetapi adanya ketidakmauan dan ketidakmampuan untuk mengelola informasi yang masuk di ruang kesadarannya. Dengan informasi yang melimpah, kata dia, justru masyarakat menjadi malas menyerap informasi secara menyeluruh.

“Itulah yang disebut dengan buta huruf modern. Bukan karena tidak bisa baca atau tulis. Tetapi dia tidak memiliki kemampuan,” ucap Menko PMK saat memberikan sambutan kunci dalam Webinar ‘Persiapan Perpustakaan dalam Menghadapi Pendidikan Jarak Jauh’ yang diselenggarakan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah, pada Kamis (13/8), sebagaimana dikutip dari laman kementerian PMK.

Muhadjir memaparkan dua tipe iliterasi di era modern, yaitu urban iliterasi dan rular iliterasi. Urban Iliterasi atau buta huruf perkotaan adalah karakteristik iliterasi modern, yakni informasi melimpah ruah tetapi gagal menangkap informasinya secara menyeluruh.

“Misalnya membaca berita cuma baca judulnya, membaca buku hanya kesimpulan saja. Tidak menyeluruh isinya. Informasi supervisial, terpenggal. Ini sangat berbahaya, karena itu kita harus melawan buta huruf urban ini,” terang dia.

Sedangkan, Rural iliterasi atau buta huruf desa, diakibatkan terbatasnya akses informasi yang ada, seperti di wilayah desa atau terpencil yang minim informasi dari dunia luar. Hal ini membuat penyerapan informasi tidak berjalan dengan baik.

Kedua jenis buta huruf itu, kata Menko Muhadjir, sangat berbahaya dan bisa menimbulkan misinformasi. Tantangan teknologi informasi di era modern bukan jadi pemerataan informasi justru menjadi menumpuk. Sedangkan yang tidak mendapatkan akses semakin tertinggal.

“Karena itu ketimpangan yang lebar antara masyarakat perkotaan dan masyarakat desa. Jadi perlu ada regulasi pemerataan informasi. Kalau dibiarkan tidak ada intervensi kebijakan yang tertinggal akan semakin tertinggal,” katanya.

Perpustakaan dan pustakawan memiliki peran sangat strategis dalam ranah keilmuan. Apalagi di ranah akademis, peran perpustakaan sebagai jantung informasi di universitas perlu terus dikuatkan. Karenanya, Muhadjir meminta, pustakawan dan dosen terus aktif memberikan pemahaman kepada mahasiswa baru untuk memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber ilmu utama agar tak terjebak dalam iliterasi modern.

“Pesan saya kepada pustakawan, saya minta mahasiswa baru ketika masuk harus diberikan pendalaman tentang perpustakaan. Karena itu senjata utama apabila ia ingin menjadi insan akademis,” pungkasnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed