oleh

Covid-19 dan Kemajuan Umat Manusia

“Mengapa fatal? Google barangkali guru yang baik untuk beberapa orang, namun ia adalah dokter yang buruk untuk banyak orang.”

Oleh: Karl Karoluz Wagab Meak

SAMPAI DENGAN SAAT INI, Covid-19 telah membuat banyak adaptasi baru dalam kehidupan manusia. Pekerjaan-pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara langsung dengan cara bertatap muka, saat ini diusahakan untuk dilakukan dengan cara online. Hampir semua hal, saat ini di-online-kan.

Banyak orang sadar akan Covid-19. Bagaimana penyebaran, bagaimana pencegahan sampai dengan upaya untuk penyembuhannya. Informasi rinci tentangnya telah menjadi pengetahuan dasar yang dimiliki oleh setiap orang.

Banyak artikel dari berbagai bidang telah dihasilkan. Dalam situs ScienceDirect, ketika memasukan keywords: Covid-19, terdapat 27.134 artikel ilmiah bereputasi internasional yang membahas tentang Covid dari berbagai peneliti, diberbagai bidang dan dari seluruh penjuru dunia. Padahal, Covid-19 belum setahun.

Jumlah artikel ini akan terus bertambah. Penemuan-penemuan baru pun terus terjadi. Dalam ruang-ruang sepi, ilmuwan terus menunjukan berbagai kemajuan. Gairah ilmu pengetahuan dan sejumlah penemuan menambah optimisme baru. Vaksin hanya tinggal menunggu waktu saja.  Kita bergerak lebih cepat dari abad-abad yang lalu.

Diujung itu, satu kepastian yang bisa disaksikan bersama yaitu, Covid-19 telah merubah perspektif kita, cara kita hidup, dan juga bagaimana kita sebaiknya bekerja.

Ia menaikan standar hidup dalam kehidupan kita. Adaptasi dan perubahan kebiasaan, telah membawa umat manusia naik pada level kehidupan yang baru. Level dimana ia belum pernah melaluinya.

Tentang cara kita bekerja

Saat ini (yang terpikirkan), setidaknya ada dua pekerjaan yang tidak bisa dibuat secara online. Pertama adalah pekerjaan yang berhubungan dengan kesehatan. Contohnya pemeriksaan atau diagnosis kesehatan oleh dokter, dan yang kedua adalah petugas kebersihan kota.

Seorang dokter tak bisa secara online mendiagnosis pasiennya. “Oke, bapak dan ibu, diagnosisnya via online saja ya. Hasilnya akan kami kirim via email.” Ketidakmungkinan seperti ini, disaat ini, masih bisa memberikan kemungkinan dimasa depan.

Tapi bagaimana jika kemungkinan itu ada sekarang?

Kita tidak perlu bertemu dokter, lalu dokter secara online mendiagnosis kesehatan kita. Tentu jika seperti ini, tidak ada bedanya dengan membuka google, menggoogling sendiri penyakit berdasarkan kata kunci, sesuai gejala yang dialami, lalu kita akan mendapati jenis penyakit apa yang kita alami. Tentu ini sangat murah, efisien tetapi tidak efektif dan berakibat fatal.

Mengapa fatal? Google barangkali guru yang baik untuk beberapa orang, namun ia adalah dokter yang buruk untuk semua orang.

Hanya sakit kepala, google bisa membawa kita sampai pada segala jenis penyakit yang tidak pernah kita kenali atau duga sebelumnya.

Dalam sebuah wawancara di youtube channel pribadi Gita Wirjawan, Nadhira Afifa, anak muda Indonesia, lulusan Harvard University, yang terkenal karena dipilih memberikan pidato kelulusan di Harvard tahun 2020 menjelaskan perbedaan antara dokter di Indonesia dan di Jepang.

Menurutnya, di Jepang dokter lebih bergantung kepada teknologi ketimbang pengetahuan dokter itu sendiri. Sedangkan di Indonesia, 80% diagnosis berdasarkan ngobrol sama pasien. Di Jepang, 80% hasil merupakan diagnosis dari laboratorium, tidak bergantung pada pengetahuan dokter. Perbedaan pendekatan ini, disebabkan juga karena culture.

Jepang kemungkinan akan menuju kesana lebih cepat. Dikemudian hari, dokter mereka tidak harus bertemu dengan pasien. Dan kita bisa saja menyusulnya.

Pekerjaan kedua yang tidak bisa dionlinekan adalah petugas kebersihan kota. Hanya ada dua pilihan untuk mejadikan pekerjaan ini ada, ataupun tidak ada.

Selama sampah berada di jalan, selama itu, kita masih membutuhkan petugas kebersihan kota untuk membersihkan kegagalan kita memahami apa yang disebut dengan membuang sampah pada tempatnya. Kita hanya dapat membuat mereka berganti pekerjaan, dengan cara, kita secara sadar perlu membuang sampah pada tempatnya.

Diluar kedua pekerjaan itu, mungkin masih ada beberapa lagi. Namun sisanya, kita akhirnya bisa melakukan dengan, atau tanpa bertatap muka.

Covid-19 telah menghadirkan sebuah tantangan baru dalam kehidupan manusia. Ia mendisrupsi kehidupan kita, sekaligus membuat kita dengan cepat meresponnya dengan cara beradaptasi yang tepat.

Umat manusia telah menunjukan bahwa ia adalah spesies terbaik yang pernah ada didunia. Ia makluk dalam kondisi apapun, ia dapat beradaptasi, dan itulah satu kemajuan dari berbagai kemajuan yang ada pada dirinya.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed