oleh

Covid-19, Menanti CSR Perusahan di Tanah Papua

-OPINI-328 views

TIFFANEWS.COM,- Pandemi Covid-19 tidak hanya berpengaruh terhadap kesehatan manusia tapi juga menyasar hingga ke persoalan ekonomi masyarakat. Pembatasan sosial yang bertujuan untuk memutus mata rantai penyebaran virus korona, ternyata membatasi juga pergerakan manusia terutama dalam mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup keseharian.

Dalam kondisi semacam ini, masyarakat membutuhkan dua hal sekaligus yang harus dipenuhi yakni pertama, tersedianya fasilitas kesehatan termasuk di dalamnya peralatan rumah sakit, tenaga medis, alat pelindung diri (APD), masker hingga penyediaan sarana penyemprotan disinfektan dan tempat cuci tangan.

Kedua, terpenuhi kebutuhan ekonomi hidup keseharian yang ditandai dengan tersedianya kebutuhan akan pangan, dan kebutuhan lain seperti listrik, telepon, air dan lain sebagainya,

Dua kebutuhan ini telah menjadi program pemerintah baik pemerintah nasional, provinsi maupun kabupaten untuk dipenuhi dalam masa Covid-19 ini.

Kita tahu bahwa ada sejumlah bantuan yang kini sedang disalurkan ke masyarakat seperti bantuan langsung tunai (BLT), bantuan sosial (bansos) dan bantuan sosial tunai (BST), bantuan dari Dana Desa(DD), program padat karya dan bantuan serta pengadaan fasilitas yang berhubungan dengan kesehatan.

Tak hanya pemerintah, para pihak lain pun ikut serta memberikan bantuan yang didasarkan pada solidaritas antar sesama. Bantuan tak hanya berupa materi seperti sembako dan bahan makanan, tapi juga terlibat sebagai sukarelawan baik di sisi kesehatan, maupun di sisi ekonomi sebagai penyalur bantuan ke masyarakat.

Dalam diskusi Darling yang diselenggarakan CSIS Kamis, 11 Juni 2020 yang membahas perkembangan penanganan Covid-19 di Papua, muncul pertanyaan, dimanakah peran swasta atau perusahan-perusahan di Papua dalam ikut serta mengatasi kesulitan masyarakat seperti saat ini ? Bukankah di perusahan-perusahan terdapat alokasi dana yang disebut CSR yang bisa dipakai?

Menarik disimak jawaban Asisten II Bidang Perekonomian dan Kesejahteraan Sekda Papua Dr Muhammad Musaad, M.Si yang saat itu menjadi salah satu narasumber. Beliau mengatakan, “khusus berkaitan dengan pihak swasta termasuk BUMN, beberapa perusahan BUMN juga perbankan di Papua telah  memberikan bantuan dalam bentuk peralatan, APD dan sebagainya.

Beliau mencontohkan PT Freeport di Timika yang menyediakan alat PCR-yang kemudian bisa digunakan, tidak hanya untuk Timika tapi juga untuk beberapa kabupaten yang ada di sekitar Timika termasuk dari Paniai dan kabupaten sekitarnya. Dengan tersedianya alat dan laboratorium ini, kata Beliau, pemeriksaan tidak harus datang ke Jayapura tapi cukup di Timika.

“Memang harus kita akui belum semua perusahan-perusahan swasta menggunakan CSR-nya, kita  arahkan CSR nya difokuskan dalam penanganan Covid. Masih ada perusahan di Papua yang tidak melakukan hal ini,”kata Dr Musaad.

Sebenarnya, harapan agar dalam situasi krisis akibat Pandemi Covid-19, perusahan dapat ikut serta terlibat dalam membantu meringankan beban masyarakat bukan hal yang mengada-ada.

Dalam lingkup Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Menteri BUMN Erick Thohir pada 20 Maret 2020 lalu,  menginstruksikan bahwa seluruh dana tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) BUMN agar fokus untuk membantu penanganan Covid-19.

“CSR BUMN tahun ini kita akan fokus pada hal-hal untuk memastikan kesehatan masyarakat terjamin, seperti pengadaan masker, alat pelindung diri (APD), obat, dan lain-lain,” ujar Menteri Erick melalui video konferensi di Jakarta, Jumat (20/5)  sebagaimana dikutip dari Antara.

Hal ini mesti menjadi perhatian semua pihak, karena saat krisis begini, sudah saatnya semua elemen masyarakat bergerak bersama, bergotong-royong dan bahu membahu untuk bisa melewati bencana kesehatan ini. Jadi tidak berlebihan untuk kembali melihat peran perusahan-perusahan di Tanah Papua melalui CSR-nya dalam masa pandemi Covid-19 ini.

CSR Tanggung Jawab Etis Perusahan 

Hal yang harus dijelaskan adalah mengapa perusahan wajib mengeluarkan dana untuk membantu kehidupan masyarakat di tengah Covid ini? Kata kunci tentu saja CSR atau Corporate Social Responsibility,  yang merupakan tanggung jawab sosial dan lingkungan sebuah perusahaan.

CSR bukan baru kali ini dibicarakan, bahkan karena seringkali dibicarakan di berbagai forum, maka pengertian dan tindakan perusahan dalam hubungan dengan CSR terus mengalami perkembangan yang amat dinamis. Konsekuensinya, seringkali makna, pendekatan, dan bahkan terminologi yang digunakan senantiasa diperdebatkan.

The World Business Council for sustainable Development (WBCSD) menjelaskan Corporate Social Responsibility sebagai komitmen dunia usaha untuk terus-menerus bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan .

Bank Dunia mendefinisikan CSR sebagai komitmen dari entitas bisnis untuk memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan bekerjasama dengan karyawan, komunitas lokal serta masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kualitas hidup, dengan cara yang menguntungkan baik bagi perusahaan maupun pembangunan.

Di Indonesia, definisi Corporate Social Responsibility(CSR) diterminologikan sebagai  tanggung jawab sosial dan lingkungan dari sebuah perusahaan. Oleh Undang-undang Nomor 40 tahun 2007 pasal 1 angka 3 mendefinisikan tanggung jawab sosial dan lingkungan itu adalah komitmen Perseroan untuk berperanserta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya.

Safety meeting dilakukan sebagian bagian dari persiapan pendistribusian bantuan sosial PTFI di Kantor Koperasi Maria Bintang Laut. (Foto : Ist)

Dari berbagai pengertian di atas, CSR tidak lain adalah kewajiban sosial perusahaan terhadap pemangku kepentingan, yang muncul sebagai dorongan etis perusahaan, dan dikelola dalam sistem manajerial yang baik sehingga bermanfaat baik bagi pemangku kepentingan sebagai penerima manfaat maupun perusahaan. CSR yang bermula dari kegiatan philantropy (sumbangan kemanusiaan), telah berkembang menjadi kesadaran baru untuk memenuhi tuntutan masyarakat. Soal CSR setiap perusahan dipayungi oleh undang-undang sesuai jenis usahanya.

Dalam hubungan penanganan Covid-19, tentu saja, kehadiran perusahan melalui dana CSR adalah cara lain untuk mendukung komunitas lokal yang terkena dampak Covid-19 dalam rangka menjadi sumber energi positif bagi lingkungan kerja dan komunitas tempat mana perusahan itu bekerja. Dari sini, melalui CSR, perusahan tetap menunjukkan inovasi sosialnya yang tidak lain menyimpulkan bahwa perusahan tetap ada sekalipun harus mengarungi masa sulit.

Belajar dari PT Freeport 

Di tengah krisis hidup masyarakat masa pandemi Covid-19 ini, di Papua banyak perusahan  tidak tinggal diam. Seperti yang diutarakan Asisten II Bidang Perekonomian dan Kesejahteraan Sekda Papua Dr Muhammad Musaad, M.Si,bahwa perusahan BUMN, Freeport dan perbankan ikut serta memberi bantuan.

Khusus PT Freeport, program-program CSR-nya boleh dibilang tidak perlu diragukan lagi. Sebagai perusahan terbesar di Papua, Freeport selalu tampil dalam kehidupan masyarakat dengan atau tanpa Covid sekalipun. Bahkan dapat dikatakan, begitu beragamnya kegiatan CSR-nya, pembicaraan tentang Freeport lebih banyak mengarah pada pemberdayaan masyarakat ketimbang membicarakan tentang omset dari emas yang ditambangnya.

Carlos Henriques, seorang alumni Program Studi Ilmu Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Parahyangan, yang berasal dari Jayapura, pada tahun 2019 secara khusus menulis skripsi sebagai tugas akhirnya berjudul “Pelaksanaan Corporate Social Responsibility oleh PT Freeport Indonesia seperti diamanatkan Kepmen ESDM No. 1824 K/30/MEM/2018”.

Di antara karya-karya tulis mahasiswa asal Papua yang memberi perhatian pada studi CSR PT Freeport, Carlos Henriques menyajikan gambaran betapa  PT Freeport  sebagai perusahan tambang, telah mengacu pada Keputusan Menteri ESDM No. 1824/K/30/MEM/2018 yang mengatur lebih lanjut kewajiban perusahan terhadap kegiatan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sesuai Permen ESDM No. 25 tahun 2018.

Dengan mengacu pada Kepmen ESDM No. 1824/K/30/MEM/2018 tersebut, pemanfaatan CSR di PT Freeport tidak jauh dari persoalan pelaksanaan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di dalamnya ada pendidikan dan kesehatan, pembangunan ekonomi masyarakat, pengembangan sosial budaya dan lingkungan, pengembangan kelembagaan komunitas masyarakat  dan kerangka kerja pembangunan infrastruktur.

Apa yang dilakukan perusahan seperti Freeport ini merupakan kelanjutan dari program-program pemberdayaan yang selama ini dilakukannya. Singkatnya, pemberdayaan masyarakat yang dilakukan PT Freeport tidak lain adalah upaya dalam rangka mendorong peningkatan perekonomian, pendidikan sosial budaya, kesehatan, dan lingkungan kehidupan masyarakat sekitar tambang, baik secara individual maupun kolektif agar tingkat kehidupan masyarakat sekitar tambang menjadi lebih baik dan mandiri.

Mengapa ini dilakukannya? Lagi-lagi karena dorongan internal perusahaan serta adanya kesadaran bahwa keberhasilan dan keberlanjutan usaha secara tidak langsung dipengaruhi oleh dukungan para pemangku kepentingannya(stakeholder) yang memberikan rekognisi (pengakuan) terhadap peran dan kontribusi perusahaan sebagai warga korporasi yang baik (good corporate citizenship). Sementara pada dorongan kewajiban eksternal, perusahan bekerja demi memenuhi aturan dan hukum yang berlaku.

Deskripsi yang tertuang dalam skripsi Carlos Henriques  tersebut menyajikan data sebelum datangnya Covid-19. Tapi bagaimana dengan perkembangan program CSRnya di masa Pandemi Covid-19 ini ?

Dari pemberitaan sejumlah media, menunjukan bahwa PT Freeport tidak tinggal diam dalam menghadapi kesulitan masyarakat menghadapi pandemi Covid-19.

Dalam konteks pandemi Covid-19, sebagaimana kita tahu dari media, Freeport ikut serta dalam penyediaan fasilitas kesehatan dan secara ekonomi membantu masyarakat dengan pembagian bahan makanan atau sembako.

PTFI meningkatkan kapasitas perawatan COVID–19 di area kerja, di antaranya dengan menambah ruang rawat dan ruang isolasi di Rumah Sakit Tembagapura, serta alat bantu pernapasan (ventilator) bagi yang memerlukannya. Selain itu, Klinik Kuala Kencana juga disiapkan untuk melayani rawat inap dan sebagai laboratorium pemeriksa RT–PCR yang dapat mengonfirmasi diagnosis COVID–19.

*** 

Belajar dari apa yang dilakukan PT Freeport, sudah sewajarnya bila orang bertanya tentang apa peran dan keterlibatan perusahan-perusahan yang beroperasi di Papua untuk menjawabi kebutuhan masyarakat di tengah Pandemi Covid ini?

Pandemi Covid-19, melumpuhkan banyak sektor kesehatan dan ekonomi. Kita masih bisa bersyukur sebab saat ini semakin banyak pihak yang memberi perhatian  dan peduli terhadap persoalan masyarakat, sebagaimana yang ditunjukkan oleh PT Freeport sekarang dan selama ini.  Namun kita juga masih membutuhkan peran serta perusahan-perusahan lain sebagai tanggung etis perusahan.

Memang tidak mudah bagi perusahan untuk merealisasikan CSR-nya dalam  kondisi pandemi seperti ini, mengingat banyak perusahan juga harus berupaya keras menjawabi keberlanjutan usaha sebagai akibat dari pandemi Covid ini. Begitu juga penyaluran bantuan setiap perusahan didasari dengan mekanisme dan prosedur yang berlaku di perusahan.

Akan tetapi,  itu bukanlah jawaban final untuk berdiam diri, karena dana CSR sudah merupakan bagian dari kehidupan perusahan selama ini. Demikian juga apa yang dilakukan saat ini kepada masyarakat, merupakan suatu bentuk pemberdayaan berkelanjutan demi kemandirian masyarakat dengan atau tanpa Covid sekalipun.

Di sinilah keberadaan perusahan itu dipertaruhkan, apakah kehadiran hanya mengeruk keuntungan, atau justru hadir bersama masyarakat  menyelesaikan persoalan untuk menjemput masa depan yang lebih baik. Kita tunggu saja. (bn)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed