oleh

Energi Besar Otsus

“Dalam hal psikologi, ribut-ribut hal yang tak nyata disebut histeri.”
Terkait Otsus, mungkin kitapun sedang histeri!

Oleh: Karl Karoluz Wagab Meak

Sosial media lagi rame tentang Otsus. Ini bukan yang pertama, juga barangkali bukan yang terakhir. Mirip Simone de Beauvoir yang mengomentari diskursus tentang feminsme sebelum menulis bukunya yang terkenal The Second Sex: “telah banyak tinta yang ditumpahkan demi perdebatan feminisme.”

Barangkali begitu juga dengan Otsus. Telah banyak tinta untuk Otsus (artikel dan buku). Pun, telah banyak mulut berbusa tentang Otsus.

Tak hanya habis dengan tinta, ruang-ruang publik yang nyata sampai virtual pun mengisi diskursus dengan tema ini. Dari warung kopi yang remang-remang, dengan harga kopi lima ribu rupiah, hingga hotel berbintang dengan menu mahal pun tak luput dari tema ini.

Terbaru, istilah webinar tentang Otsus turut hadir meramaikan jagad sosial. Dari organisasi mahasiswa, pemuda hingga lembaga kajian. Wah, luar biasa ramainya. Dari yang serius sampai omong-kosong. Semuanya ingin meneropong “udang jenis apa yang sedang bersembunyi di balik batu bernama: Otsus.”

Paul Baru, senior saya dari Papua Barat, menulis di wall facebook miliknya dengan nada yang progresif. Tulisannya di screenshot oleh salah satu anggota WA group lalu dibagikan. Karena tidak bermain facebook, saya hanya membaca tangkapan layarnya:

“Saya mau lihat pejabat Papua siapa yang berani bicara Otsus Gagal, mereka juga ikut bertanggung jawab terhadap kegagalan tersebut! Otsus gagal karena semua salah Jakarta, baru selama ini kam bikin apa? Kam hanya bunga kah? Aneh? Seharusnya kalian mengakui bahwa ada porsi bagian kegagalan kalian ikut berkontribusi.”

Bung Paul Baru memberi jebakan batman. Jika pejabat mengatakan Otsus gagal, lalu mereka selama ini berbuat apa? Jika mereka mengatakan Otsus tidak gagal, bagaimana membuktikannya? Ini butuh energi besar.

Lalu pagi ini, saya membaca kiriman lain lagi yang ‘mungkin’ sebuah respon (karena diforward)  terhadap Otsus yang datang dari seorang rohaniwan yang pernah memimpin lembaga gereja di Papua. Pernyataan pribadi yang diakhiri dengan permohonan maaf itu kurang lebih begini:

“…Gereja mendapat porsi 10% untuk membangun umat setiap tahun. Ada dana segar ke gereja yang diatur oleh anak Tuhan yang menjadi pejabat di provinsi, kabupaten, kota yang juga untuk pembangunan sarana-prasarana…Gereja harus jujur bahwa kader-kader gereja sudah menolong gereja. Kalau gereja mau meyangkal silahkan…”

Di Group saya yang lain, sebuah tanggapan muncul merespon sebuah flyer Webinar Otsus dari Papua Barat. Salah satu anggota merespon: “Ini baru mantap, Papua Barat juga harus bicara jangan hanya diam.”

Selalu menarik mengikuti pernyataan, pengakuan jujur, tuduhan, klaim, teori konspirasi dan semua dengan istilah apapun yang berlangsung tentang Otsus di ruang-ruang publik, baik maya maupun nyata.

Pertanyaan serius saya terhadap Otsus terjadi 23 Januari 2018. Ketika itu saya menulis, dan dalam tulisan, saya  bertanya atau meminta penjelasan dari gubernur Papua, bagaimana bisa wujud dana Otsus 5.58 triliun rupiah dapat menghasilkan manusia Papua yang kurang gizi seperti yang terjadi di Asmat.

Yang lain, sayapun, dulu pernah menulis atau memprotes perayaan libur Otsus. Bagi saya, libur Otsus adalah perayaan kegalalan (dari sudut pandang mereka yang menolak). Merayakan Otsus adalah merayakan kegagalan dan ketertinggalan.

Barangkali kegagalan Otsus sama seperti kegagalan komunisme seperti penjelasan Franz Magnis-Soseno dalam opininya berjudul “Komunisme Memang Gagal” pada tanggal 10 Juli 2020 lalu. Ia menulis: “Dalam hal psikologi, ribut-ribut hal yang tak nyata disebut histeri.” Terkait Otsus, mungkin kitapun sedang histeri!

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed