HOAX Disebar, Maut Menjemput

Tiffa News

Oktober tahun lalu, seorang guru sejarah di College du Bois d’Aulne, Conflans-Sainte-Honorine Perancis, Samuel Paty, tewas dipenggal kepalanya oleh Abdoullakh Abouyedovich Anzorov, seorang fanatik radikal asal Chechnya. Penyebabnya adalah laporan seorang siswi muslim yang mengaku gurunya mempertontonkan karikatur Nabi dalam keadaan telanjang. Ia menyebutkan bahwa sebelum menunjukkannya pelajar muslim diminta untuk meninggalkan kelas.

Pada 7 Maret lalu, Polisi Perancis berhasil mengungkap fakta yang sebenarnya dari insiden tersebut. Diketahui siswi tersebut telah berbohong selama ini, Dalam pengakuan terbaru kepada polisi, seorang siswi berusia 13 tahun mengakui telah berbohong dan secara keliru menuduh Paty meminta siswa Muslim meninggalkan kelas saat dia akan menunjukkan karikatur tersebut. Faktanya, siswi itu tidak pernah hadir dalam kelas Samuel Paty karena dihukum skorsing akibat sering membolos.

Kebohongan yang tampaknya sederhana tersebut, ternyata berdampak luas dan bahkan mematikan. Seorang guru tewas secara mengenaskan, dan seantero Eropa bahkan dunia memboikot produk-produk asal Perancis. Hoax memang bisa membawa maut.

Dari peristiwa di atas, kita belajar bahwa sebuah informasi yang menyesatkan dapat membawa dampak yang begitu buruk. Apalagi dengan perkembangan teknologi informasi yang begitu cepatnya, dimana setiap orang dapat bertindak menjadi jurnalis, apapun beritanya, tanpa peduli darimanapun sumbernya, kecepatan berita untuk diunggah menjadi yang utama tanpa mempedulikan lagi soal kebenaran.

Tak berbeda jauh dengan apa yang terjadi pada umumnya di dunia, hoax juga sering menjadi andalan kelompok-kelompok kepentingan yang ada di Papua. Sebagai contoh sederhana, di media sosial beberapa waktu lalu ramai diberitakan soal Pemerintahan Sementara West Papua yang memperoleh dukungan dari 79 negara di dunia. Bahkan berita ini ikut disebarkan beberapa tokoh agama Papua yang ikut bersimpati. Padahal, faktanya hingga saat ini, dari 195 negara yang diakui PBB, indonesia menempatkan 131 perwakilannya di seluruh dunia, mulai dari KBRI, KJRI, KRI hingga PTRI yang mewakili Indonesia berdiplomasi dengan organisasi-organisasi resmi internasional.

Tetapi hoax adalah tetap hoax, orang lebih memilih membacanya daripada sibuk mencari kebenaran fakta di balik itu semua. Pepatah Rusia menyebutkan,” trust, but clarify,” orang Islam menyebutnya dengan istilah tabayyun yang artinya adalah klarifikasi. Shidartha Buddha Gautama bahkan menekankan, ” sebelum kita berbicara pastikan sudah melewati tiga gerbang yaitu, apakah benar? Apakah perlu? dan apakah baik?”

Menurut pandangan saya, sulit untuk menangkal penyebaran hoax yang begitu massive dan menyesatkan ini, selain dengan meningkatkan kecerdasan kita dalam memilah dan memilih serta mengklarifikasi berita. Karena, sejatinya manusia akan memberikan apa yang dia punya, jika sampah yang dia punya maka sampahlah yang akan dia berikan. Persoalannya kembali ke diri kita sendiri, apakah kita mau menerima ataukan menolak sampah itu.

Demikian sedikit ulasan saya, seraya berharap Papua tetap aman, damai dan semakin sejahtera serta terbebas dari jebakan dunia tipu-tipu.

Salam,

Rafli Hasan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Buka Muscab PKB Se Papua, Gus Ami Minta Kader Terus Rebut Hati Rakyat

TIFFANEWS.COM-Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdul Muhaimin Iskandar secara resmi membuka pelaksanaan Musyawarah Cabang (Muscab) Dewan Pengurus Cabang (DPC) PKB serentak di 29 Kabupaten -Kota Provinsi Papua dan Papua Barat secara virtual yang berlangsung di Hotel Horizon Jayapura, Kamis (11/3). Pria yang biasa disapa Gus AMI ini mengaku,  pelaksanaan […]
Instagram did not return a 200.

Subscribe US Now

[mc4wp_form id="88"]
Translate »