Ketua MUI Papua: Stop Istilah Orang Asli Papua dan Pendatang, Kita Semua Indonesia

0
2011

Jayapura, 5 Okt 2019.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Papua, KH. Saiful Islam Al Payage meminta masyarakat menghentikan istilah “Orang Asli Papua dan Pendatang “ bagi seluruh warga di tanah Papua. Menurut Al Payage tidak semestinya warga di Papua dibeda-bedakan, karena kita berpijak pada tanah air yang sama, terbentang dari Aceh hingga Papua, kita ini Saudara sebangsa. Hal tersebut ditegaskan Al Payage dihadapan awak media pada Jum’at 04/10/2019 di Pesantrennya, daerah Angkasa Jayapura Utara Papua.

Tokoh Muslim kharismatik asli Papua asal Kabupaten Yahukimo ini menghimbau kepada masyarakat di Papua untuk lebih tenang dan bijak melihat permasalahan di Bumi Cenderawasih. Al Payage atas nama Pribadi dan seluruh ummat Muslim Papua menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas serangkaian kejadian di tana Papua khususnya pada tanggal 29 Agustus dan 23 September 2019 di kota Jayapura dan Wamena yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan harta benda baik bagi kalangan warga pendatang maupun warga asli Papua.

KH. Saiful Islam Al Payage memastikan, konflik di Papua tak ada kaitannya dengan agama atau SARA. Ia pun menolak dengan tegas adanya rencana jihad ke Papua.

“Perlu Saya sampaikan pada kesempatan baik ini, kita mesti stop bicara Orang Asli Papua dan pendatang. Istilah seperti ini mesti kita hentikan mulai detik ini,” tegas Ketua MUI Papua, Saiful Islam Al Payage.

Al Payage mengatakan selama ini Papua tetap bagian dari Indonesia. Dia meminta masyarakat tidak membeda-bedakan latar belakang siapa pun, selama ini masyarakat di Papua berbaur dengan baik. Bahkan ada masyarakat Papua yang menikah dengan masyarakat dari luar Papua.

“Siapa pun, warna kulit apa pun, kalau dia warga negara Indonesia, dia adalah saudara kita sebangsa setanah air. Tidak ada istilah pendatang dan orang asli. Selama ini Papua bagian dari NKRI maka kita adalah bagian dari saudara,” ujarnya.

“Saya berharap ini semoga terpelihara terus sehingga persatuan kita tetap dalam bingkai NKRI. Semoga Indonesia semakin maju, Papua juga maju ke depan, dan semoga hubungan baik antar masyarakat yang telah terjalin lama di Papua terus berlanjut.” imbuhnya.

Dalam situasi Papua saat ini semua pihak harus bersinergi untuk menenangkan situasi dan menjaga kerukunan, persaudaraan dan kebersamaan, demi keutuhan bangsa dan negara.

Selain itu Al Payage juga menekankan beberap hal antara lain agar warga menghentikan penyebaran berita bohong atau hoax di media sosial karena ini yang memicu terjadinya konflik diantara masyarakat dan mengakibatkan jatuhnya korban.

MUI Papua menolak keras adanya rencana jihad ke Papua karena konflik yang terjadi bukan konflik agama atau masalah SARA, biarlah Pemerintah Daerah (Pemda) Papua bersama para tokoh dan aparat keamanan yang menyelesaikan masalah tersebut sesuai kearifan lokal yang ada.

Bila ada kelompok tertentu yang datang mengatasnamakan jihad ke Papua, maka akan semakin memperkeruh situasi Papua yang saat ini sudah semakin kondusif sehingga dapat menimbulkan terjadinya konflik baru yang bernuansa SARA.

Al Payage menolak segala bentuk kekerasan di Papua karena ajaran agama apapun tidak mengajarkan kekerasan. Pihaknya meminta aparat keamanan terus menjaga Papua agar tetap aman dan damai. Aparat hukum agar memproses dan menindak tegas para pelaku kerusuhan sesuai dengan hukum yang berlaku.

Mengajak kepada seluruh Tokoh Ormas untuk menenangkan situasi dan menjaga kerukunan, persaudaraan, perdamaian demi keutuhan Bangsa dan Negara. Meminta kepada pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk bekerjasama bersinergi dalam upaya pemulihan situasi pasca kerusuhan.

Pada kesempatan ini pula Al Payage meminta kepada mahasiswa yang eksodus/kembali ke Papua agar segera kembali ke tempat kuliah masing-masing di luar Papua karena Pemerintah dan aparat keamanan telah memberikan jaminan keamanan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini