DAOED JOESOEF: “Anak Kampung, Sang Teladan”

0
109

Tiffa News – Dalam tulisannya tentang keindahan, ia mengutip sajak Chairil Anwar yang bertutur dengan sendu, tentang Lagu Siul. “Laron pada mati. Terbakar di sumbu lampu. Aku juga menemu ajal dicerlang caya matamu. Heran! Ini badan yang selama berjaga, habis hangus di api matamu. ‘Ku kayak tidak tahu saja.”

Dan akhirnya, seperti laron yang telah menemui ajalnya, ia pun demikian. Ia pergi dengan kepenuhan waktunya. 23 Januari 2018 kemarin, sang mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Pembangunan III (1978-1983), harus meninggalkan kita diusia 92 Tahun. Ia telah menemu ajal di usia yang benar-benar senja. Ia mendahului kita, kurang dari delapan tahun menuju satu abad.

Daoed Joesoef lahir di Medan tanggal 8 Agustus 1926. Seorang anak kampung, yang melalui sebuah petualangan intelektual membawanya ke Sorbonne Perancis. Kota yang ia cintai dan ia kagumi, sebagaimana ia mengagumi Rene Descartes bersama dengan filsafat Rasionalismenya.

Sang anak kampung berjalan jauh untuk menyelesaiakan Pendidikan S-1 di Universitas Indonesia (1950-1959), ia melanjutkan Pendidikan S-2 dan S-3 nya di Universite Pluridisciplinaire de Paris I Pantheon-Sorbonne tahun (1964-1972).

Perjumpaan dan perkenalan saya dengan Daoed Joesef terjadi beberapa tahun silam. Tepatnya tanggal 28 November 2011. Saya mengenalnya lewat sebuah buku yang dia tulis, yang berisi sejumlah gagasannya tentang “Aneka Masalah Kehidupan Bersama.”

Sebagai teladan, kita harus banyak belajar darinya. Dalam tulisannya tentang “Intelektual dan Kerja Intelektual”, ia mengajarkan kita bahwa seorang intelektual bukan hanya tentang gagasan dan kualitas pemikiran. Lebih jauh dari itu, intelektual harus memiliki nilai dan norma yang harus dipegang dan dihidupi. Itulah mengapa, baginya nilai dan moral adalah “pagar” yang membatasi diri seorang intelektual ketika diperhadapkan pada pusaran kepentingan yang absurd.

Dalam karakterisasi sifat-sifat intelektual, satu hal yang ia masukan adalah seorang intelektual harus memiliki komitmen moral yang kuat. Seorang intelektual harus memperjuangkan dan bertanggung jawab terhadap nilai-nilai kebenaran, keadilan, persatuan, kesejahteraan umum dan kemanusian dimanapun dia berada. Ia tidak pernah abu-abu. Memiliki pancaran nurani yang bersih dan murni. Ia selalu memperjuangkan kebaikan bersama. Dalam kepincangan situasi, ia harus hadir mencerahkan, serta mencari dan memikirkan solusi penyelesaian.

Seperti tulisan St Sularto untuknya, “Prof Dr Daoed Joesef adalah pekerja keras, intelektual sejati, jujur, cendekiawan, dan puritan. Pun seorang pelukis.” Kitapun akhirnya merindukannya. Walaupun dalam ketiadaannya kita berusaha untuk belajar darinya. Meneladani semangat hidupnya.

Sang teladan, sang anak kampung telah pergi. Ia pergi dengan meninggalkan pesan-pesan luhur kepada kita.

Selamat jalan Sang Teladan. Ajarlah kami, seperti yang telah kau nasehati. “Semoga kami tidak menghabiskan waktu untuk mengubah ramalan, tetapi kami menggunakan waktu untuk membuat masa depan kami sendiri.” Dan yang lebih penting, kami tidak menjadi intelektual karbitan tetapi menjadi manusia puritan.

Oleh: Karl Karoluz Wagab Meak.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini