Kardinal Suharyo, Bunda Maria untuk Tanah Papua

0
248
Kardinal Suharyo (kanan) menerima patung Bunda Maria Segala Suku dari AM Putut Prabantoro (baju putih) di kediamannya komplek Katedral Jakarta, Rabu (04/09/2019).

TIFFANEWS.COM– Kardinal Suharyo, yang juga Uskup Agung Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), memberikan sebuah patung Bunda Maria yang sedang menggendong bayi Yesus, kepada tanah dan rakyat Papua sebagai tanda cintanya yang mendalam kepada pulau terbesar di Indonesia itu.

Kardinal berharap patung yang terbuat dari kayu gaharu itu akan membawa kedamaian dan perdamaian di tanah Papua yang saat ini sedang bergejolak.

Kardinal Suharyo mengungkapkan maksud pemberian patung ini kepada pegiat devosi kebangsaan, AM Putut Prabantoro dan Georgius Gomas Harun, di rumah kediaman Kardinal di Jakarta, Rabu sore (4/9/2019). 

Patung Maria Bunda Segala Suku ini, selanjutnya akan diberikan ke tanah dan rakyat Papua melalui Uskup Jayapura  Leo Laba Ladjar.

Menurut Gomas Harun, patung dengan berat 4 (empat) kg  dan tinggi 60 cm terbuat dari kayu gaharu yang sudah sangat langka dijumpai. Bahan dasar patung yakni kayu gaharu itu merupakan persembahan dari Antoni Ong yang tinggal di Jayapura, Papua dan kemudian dibuat menjadi patung oleh salah satu maestro patung di Bali.

“Saya tidak tahu berapa tahun usia kayu gaharu tersebut, namun saya kira sudah tua sekali jika dilihat dari urat-urat yang ada pada patung tersebut,”ujar Gomas Harun

Menurut Gomas Harun, saat Kardinal menghendaki patung tersebut dihadiahkan kepada tanah dan rakyat Papua, dirinya dapat merasakan cinta Kardinal yang sangat mendalam kepada tanah dan rakyat Papua.

“Beliau ingin patung Bunda Maria itu dapat menghadirkan kedamaian dan perdamaian di tanah Papua. Beliau sangat prihatin atas apa yang terjadi di tanah Papua saat ini,” ujar Gomas Harun.

Namun Gomas Harun menyatakan belum tahu kapan waktu yang tepat untuk membawa patung tersebut ke Papua. Dirinya harus berkordinasi dengan Uskup Jayapura Leo Laba Ladjar terlebih dahulu untuk mendapatkan masukan apa saja yang harus dipersiapkan.

Sementara itu AM Putut Prabantoro menegaskan bahwa patung dari Kardinal Suharyo ini adalah momentum sejarah bagi Gereja Katolik di Indonesia dan Tanah Papua khususnya terkait dengan penunjukan Mgr Ignatius Suharyo sebagai Kardinal oleh Paus Fransiskus akhir pekan lalu.

Dalam konteks ini, Putut Prabantoro yakin bahwa Tanah dan Rakyat Papua menjadi perhatian Kardinal Suharyo, yang karena gelar tersebut memiliki hak  memilih dan dipilih sebagai Paus.

 “Patung Maria Bunda Segala Suku menjadi salah satu ikon Keuskupan Agung Jakarta yang diawali dengan perlombaan Seni patung, lukis dan fotografi yang diadakan pada tahun 2015. Pada bulan Mei 2017 diumumkan pemenang dari lomba tersebut adalah Robert Gunawan, seorang guru lukis anak-anak yang berasal dari Matraman, Jakarta.

Dari lukisan tesebut kemudian dijadikan patung yang dikerjakan oleh maestro patung di Bali,” ujar Putut Prabantoro dalam keterangan tertulisnya.

Maria – Bunda Segala Suku” adalah sebutan istimewa untuk Bunda Maria dan disebut fenomenal karena terkait dengan merebaknya ancaman terhadap keutuhan kebangsaan dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (Bn)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini