Cerita Rakyat Teluk Bintuni “Pohon Kelapa Jelmaan Batinato”

0
106
Cover Buku

Judul Asli : Pohon Kelapa Jelmaan Batinato (Erita Marga Braweri)

Penulis : Ina Samosir Lefaan

Dahulu di kampung Weriagar daerah Teluk Bintuni Papua Barat, tinggallah seorang perempuan bernama Jawa, bersama anak perempuannya Batinato. Sejak kelahiran Batinato, bapaknya meninggal dunia. Dengan penuh kasih sayang, mama Jawa merawat dan membesarkan Batinato.

Suatu hari, Mama Jawa hendak memberi makan pada Batinato, ia terkejut karena melihat pancaran cahaya emas dari dalam mulut Batinato. Melihat kenyataan itu, hati mama Jawa sangat terpukul.

Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Anaknya. Lalu ia memeluk erat anaknya dan mengatakan, “Ada apa dengan cahaya aneh dari dalam mulut anak saya? Ia menatap wajah anaknya, yang belum mengetahui banyak hal. Batinato tersenyum membalas Mamanya.

Setelah peristiwa itu, hampir jarang Batinato berbicara dengan siapapun termasuk Mamanya. Ia lebih banyak mengunakan bahasa isyarat, tetapi dia tidak bisu. Mama Jawa sangat sedih melihat kejadian aneh yang menimpa anak gadisnya. Namun, Ia berusaha untuk tidak menampakkan kesedihannya, agar Batinato tidak kecewa dengan nasibnya.

Batinato tumbuh menjadi perempuan dewasa dan ia dilamar oleh seorang laki-laki bernama Tauza, yang sangat dicintainya. Keduanya menikah dan hidup berbahagia.

Suatu waktu, Tauza pergi melaut untuk memancing ikan. Di tengah laut, ia diterjang badai. Akhirnya, ia meninggal.

Para nelayan yang melihat kejadian itu menghantar mayat Tauza ke kampungnya.

Mendengar peristiwa kematian suami tercinta, Batinato berlari sambil menangis histeris. Sungguh, ia tak mampu menghadapi kenyataan itu.

Masyarakatpun terharu melihat Batinato sangat sedih. Dengan penuh haru dan sedih hatinya, Batinato memeluk erat mayat suaminya.

Tangisan sedih disertai teriakan “Bapa ooo… bapa ooo…” berulang kali, sambil mengesekkan bokongnya, membuat satu per satu emas yang sekian tahun tinggal di dalam mulutnya terjatuh.

Ia tidak memperdulikan emas yang keluar dari mulutnya. Namun, terus meratapi nasib suaminya. Tiba-tiba, keluarlah akar pohon kelapa dari bokong dan kepalanya. Semakin ia mengesekkan tubuhnya, akar pun semakin banyak keluar.

Pada saat itu ada salah seorang laki-laki marga Kokop datang membantu Batinato mengeluarkan akar-akar pohon tersebut, namun sia-sia.

Akar pohon itu terus bertambah banyak. Sehingga membentuk pohon kelapa berwarna kuning kemerahan (yang dikenal dengan sebutan kelapa merah).

Semua warga yang menyaksikan peristiwa itu sangat terharu. Malanglah nasib Batinato. Akhirnya, Ia menjelma menjadi pohon kelapa merah.

Sampai sekarang masyarakat Weriagar percaya, bahwa air pohon kelapa merah jelmaan Batinato berkhasiat dalam menyembuhkan penyakit warga di Weriagar. Sebab itu, pohon kelapa tersebut dilindungi dan dijaga dengan baik.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini