Mendekati Mansinam (Bagian 1) “Berawal dan Berakhir sebagai Pariwisata”

0
71
Indahnya pantai di Pulau Mansinam (Foto: Ist)

Oleh : Adolina Velomena Samosir Lefaan

Mansinam, kata ini begitu akrab di telinga dan membawa imajinasi menuju tempat-tempat di timur Indonesia. Setiap tahun tepatnya 5 Februari, Mansinam selalu disebut, karena berhubungan dengan perayaan injil masuk ke Papua dan orang menyebutnya awal orang Papua mengenal tradisi dari luar.

Tapi apa sebenarnya Mansinam itu? Nama pulau kah? Atau nama sebuah tempat di Tanah Papua? Lalu apa hubungan dengan pariwisata?

Mansinam, adalah nama pulau yang berada di teluk Doreri, yakni sebuah teluk dekat Manokwari, ibukota Provinsi Papua Barat. Pulau ini dekat sekali dengan pulau Raimuti, dan bersebelahan dengan pulau Lemon atau Nusmapi.

Pulau Mansinam memang tergolong pulau kecil karena hanya memiliki luas 420,97 hektar, membentang luas dengan pesisir pantai nan indah.

Menurut ceritra masyarakat, dahulu Mansinam hanyalah sebuah pulau kosong ditumbuhi berbagai tetanaman dan pohon besar. Alam semacam ini menjadikan Mansinam tempat burung-burung menyinggahi untuk memenuhi kebutuhan makanan.

Lalu bagaimana dengan penduduknya ? Apakah mereka berasal dari Manokwari tempat yang dekat dengan pulau ini? Ternyata tidak. Orang-orang dari pulau ini berasal dari suku Numfor dari pulau Numfor di Provinsi Papua.

Lagi-lagi menurut cerita penduduk setempat, mereka yang datang ini menamai tempat ini “Mancinam”. Dalam bahasa Numfor terdiri atas kata “man dan cinam” artinya, tempat burung mencari makan. Kemudian seiring perkembangan, nama pulau ini lebih dikenal Mansinam.

Ternyata, orang Numfor, tak hanya memberi nama pada pulau Mansinam, tapi juga untuk “Doreri”, yang artinya daerah teluk. Jadi, sekarang sudah jelas Mansinam dan Doreri dinamakan oleh para leluhur suku Numfor yang pertama kali menempati pulau tersebut.

Sekarang, Mansinam ini sudah jadi jadi tempat wisata. Tak hanya wisata religi yang ditandai dengan monumen rohani yang begitu kokoh, tapi juga keindahan alam dan kearifan lokal yang menyertai hidup masyarakatnya.

kembali ke awal orang Numfor datang ke tempat ini, sebenarnya karena bertolak dari keinginan untuk berwisata. Dapatkah dibayangkan bahwa keindahan pulau Mansinam, menjadi wisata orang-orang Numfor-Doreri kala itu.

Jika ditelusuri perjalanan hidup manusia, sebenarnya bermula dari keinginan untuk berwisata, Dan itu juga cikal bakal dari pariwisata yang lahir karena pergerakan manusia dalam mencari sesuatu yang belum diketahui sebelumnya. Manusia menjelajahi wilayah-wilayah baru, mencari perubahan suasana untuk mendapatkan kehidupan baru, (Ben, 2018:1)?

Pandangan (Sugiarto dan Amaruli 2018), bahwa pariwisata adalah perjalanan dari suatu tempat menuju tempat lain. Pariwisata bermula dari pergerakan manusia yang melakukan perjalanan. Setiap orang melakukan perjalanan untuk mengafirmasi, berwisata adalah kebutuhan, (Ardika, 2018:67).

Penjelasan ini membawa kita pada hierarki kebutuhan Abraham Maslow, bahwa kebutuhan wisatawan untuk melakukan perjalanan tidak hanya dalam rangka memenuhi kebutuhan fisiologis dan rasa aman, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan sosial (afiliasi), penghargaan, dan aktualisasi diri.

Hakikat kepariwisatawan adalah fenomena kemanusiaan. Demikian juga leluhur suku Numfor dengan cipta, rasa, dan karsa sebagai makhluk budaya, telah pula menghasilkan kebudayaan dan peradaban.

Kebudayaan yang khas antarkelompok manusia menjadi daya tarik bagi orang lain. Itulah unsur perbedaan atau keunikan. Perbedaan menjadi sangat hakiki dalam kepariwisataan, bahkan menjadi jiwa kepariwisataan (Ardika, 2018: 6-7).

Begitu pun dengan orang Numfor. Mereka merayakan kehidupan di pulau ini dengan menerima siapa saja yang datang. Bagai alam yang menyajikan keberagamaan, manusia pun demikian. Pada dasarnya, perbedaan atau keunikan itulah yang menjadi motivasi utama bagi manusia atau wisatawan untuk melakukan perjalanan.

Sorga Kecil

Pulau Mansinam adalah sorga kecil di atas tanah Papua, terpenuhi kekayaan nilai budaya, dan situs-situs religi. Semua itu dihidupkan dalam tradisi lisan Numfort dan menjadi warisan yang mencerminkan ajaran leluhur, terpatri kokoh di dalam jiwa generasinya.

Vitasurya (2016),  menjelaskan bahwa kearifan lokal berasal dari nilai-nilai adat-istiadat, nilai-nilai keagamaan dan budaya lokal yang secara alamiah terbentuk dalam suatu kelompok masyrakat untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

Kearifan lokal yang menjadi suatu ciri khas masing-masing daerah yang berpotensi untuk mendukung pengembangan suatu daerah. Potensi budaya dan kearifan lokal dalam pengembangan pariwisata menjadi bagian dari produk kreatifitan manusia yang memiliki nilai ekonomi, (Amaruli & Sugiarto, 2018).

Pariwisata Mansinam adalah bagian dari dua tradisi, yakni tradisi lisan dan tradisi modern. Tradisi lisan inilah sebagai produk kebudayaan masyarakat menjadi salah satu daya tarik pariwisata Mansinam, karena orang Numfor merayakan hal itu.

Karenanya, kearifan lokal juga berkaitan erat dengan sejarah peradaban masyarakat yang melahirkan tradisi lisan dan disertai kearifan lokal termasuk nilai-nilai iman kristianis.

Nilai agama mendasari kehidupan manusia penganut dan memiliki hubungan erat yang hakiki antara pariwisata kebudayaan dan tradisi lisan. Kebudayaan tidak sekedar dinikmati, tetapi sekaligus sebagai media untuk membina sikap saling pengertian, toleransi, dan hormat-menghormati antarsuku bangsa, (Setiadi B.Y.2007).

Informasi wisata religi di pulau Mansinam dapat diperoleh melalui media sosial, namun belum terdapat pembahasan secara khusus mengenai hubungan wisata religi dengan tradisi lisan suku Numfort seperti terulas sebelumnya.

Mendekati Mansinam, ternyata banyak hal tentang kearifan lokal belum dioptimalkan sebagai daya tarik spesifik terhadap para wisatawan. Itu juga yang membuat Mansiman yang adalah sorga wisata religi, belum setenar wisata di pulau Raja Ampat.

Mansinam kini mendapat perhatian serius sebagai lokasi religi,sejak masa kepemimpinan mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, tahun 2009. Selain situs-situs ikon religi, keasrian alam, pantai, air laut yang membiru, dan hal utama adalah keramahtamaan masyarakatnya sangat mendukung daya tarik wadah rekreasi alamiah bagi pelancong domestik dan mancanegara.

Saat berjumpa dan bertanya kepada beberapa pelancong termasuk kelompok mahasiswa yang mendatanggi Mansinam, selalu saja dijawab, mereka datang untuk mengisi waktu liburan, melepas kepenatan, dan menikmati keindahan alam.

Tetapi bukankah Mansinam diindahkan juga oleh sejarah peradaban iman manusia asli Tanah Papua? Mengulanggi, ketegasan masyarakat yang dijumpai, “Pulau Mancinam Bukanlah Nama Tanpa Makna”, dan di atas pulau ini ada penghuninya.

Ungkapan filosofi dalam tradisi lisan masyarakat penghuni Mansinam membutuhkan perhatian serius dalam memaknainya. Perlu adanya pemahaman lebih tajam lagi mengenai tujuan berwisata religi, yakni bukan sekedar mendatangi tempat tersebut, tetapi dapat meningkatkan pemahaman secara mendalam tentang makna keimanan melalui situs-situs religi di Mansinam.

Mansinam adalah sumber pengetahuan dan pembelajaran, alfa-omega, manusia asli Tanah Papua mengenal yang menerima iman Kristen dan membentuk ikon situs religi, dan tradisi lisan titisan leluhur Numfor-Doreri. Fakta ini didasari oleh falsafah dan ajaran Kristen oleh dua missionaris, C.W.Ottow dan J.G.Gaissler.

Perjalanan wisata Mansinam, selalu menunggu antusiasme masyarakat  untuk  berkreasi melestarikan kearifan lokal. Semestinya perhatian itu datang dari para perpanjangan tangan masyarakat, yaitu pemerintah daerah (Pemda), Majelis Rakyat Papua (MRP), dan pihak Senode Gereja. Semuanya harus bersinergi untuk memberikan pengalaman wisata religi. (Bersambung)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini