Pusat Inovasi Digital, Strategi Hadapi Revolusi 4.0

0
24
Foto Ilustrasi (Dok Tiffa News)

TIFFANEWS.COM,- Era revolusi industri 4.0 dan digitalisasi yang berkembang saat ini, sangat membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang berkompeten. Para pelaku usaha terutama yang terlibat dalam industri kreatif dituntut untuk terus berinovasi dan memaksimalkan teknologi informasi baik dalam proses pembejaran, produksi, promosi maupun pemasaran.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Eko S.A. Cahyanto, mengatakan guna menciptakan SDM industri yang berkompeten, Kemenperin sedang membangun Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI 4.0) dan saat ini masih dalam proses pembangunan. Pusat inovasi tersebut ditargetkan bisa selesai tahun 2021.

“PIDI 4.0 memiliki lima pilar, pertama sebagai showcase untuk menunjukkan proses produksi pada skema industri 4.0 yang seperti apa. Kedua menjadi capability center untuk meningkatkan kapasitas, ketiga menjadi ekosistem, kemudian menjadi delivery center, dan terakhir untuk mentransformasi ke industri 4.0,” Eko S.A. Cahyanto, di Jakarta, Selasa (12/11).

Sementara itu Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih menyampaikan, pihaknya  berharap perkembangan e-Commerce akan menjadi gerbang bagi pelaku IKM dalam negeri untuk melakukan transformasi dengan menggunakan alat promosi digital, sistem informasi digital, pembayaran digital, serta manajemen relasi dengan pelanggan secara digital pula.

“Dalam era digital seperti sekarang, transisi proses jual beli konvensional menjadi jual beli online semakin berkembang. Tidak hanya untuk produk berupa barang, bahkan jasa. Karena itu kami melihat industri e-commerce menjanjikan potensi pasar yang sangat besar,” katanya.

Gati menambahkan, untuk membantu para pelaku IKM dalam menangkap peluang sekaligus menghadapi tantangan saat munculnya banyak e-Commerce, sejak 2017, Kemenperin telah meluncurkan program e-Smart IKM yang melibatkan marketplace digital di Tanah Air sebagai salah satu infrastruktur pendukung.

“Kami telah melaksanakan workshop e-Smart IKM yang diikuti sebanyak 10.038 peserta, dan hingga saat ini total transaksi penjualan yang dihasilkan mencapai Rp3,27 Miliar,” ungkapnya.

Masih dengan cara lama

Plt. Direktur Pengendalian Aplikasi Informatika, Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Riki Arif Gunawan menyatakan saat ini cara melakukan validasi pengguna di industri e-commerce dan perbankan masih mengadopsi cara manual. Padahal, dalam layanan digital menurutnya tidak lagi membutuhkan bukti fisik dan saksi visual.

“Seperti yang biasa dilakukan secara offline diantaranya dengan meminta data berupa scan KTP, foto selfie, dan membubuhkan tanda tangan di tablet atau ponsel. Regulasi manual ini dipaksakan untuk mengatur regulasi digital padahal tidak bisa,” kata Riki dalam Sesi Talkshow bertema “Implementasi Tanda Tangan Elektronik” dalam acara Launching Penyelenggara Sertifikasi Elektronik dan Promosi Tanda Tangan Elektronik di Hotel Merlynn Park, Jakarta Pusat, Rabu (13/11/2019).

Menurut Plt. Direktur Pengendalian Aptika, cara tersebut muncul karena perusahaan yang memberi layanan terbiasa melakukan validasi secara fisik dengan bertatap muka langsung dengan pengguna, padahal di dunia digital seharusnya cara yang dilakukan berbeda. “Layanan digital tidak membutuhkan bukti fisik dan tidak membutuhkan saksi visual,” katanya.

Riki Gunawan mencontohkan seringkali suatu aplikasi atau situs meminta untuk mengunggah scan KTP atau ijazah padahal belum tentu pihak yang mengunggah hasil scan tersebut adalah orang yang memiliki dokumennya. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu teknologi untuk menjamin keaslian sebuah dokumen elektronik agar dapat dipercaya oleh masyarakat diantaranya dengan menggunakan tanda tangan elektronik. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini