Memoria Pasionis, Masalah Kesehatan di Papua Masih Belum Tuntas Teratasi

0
26
Diskusi Buku "Papua Bukan Tanah Kosong, yang dipandu modertaor Maria Rita Hasugian (Foto : Tiffa News)

TIFFANEWS.COM,-  Direktur Sekretariat Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan Fransiskan Papua (SKPKC FP), Yuliana Langowuyo, mengatakan masalah kesehatan dan pendidikan merupakan masalah yang tak kunjung tuntas terselesaikan di Tanah Papua.

“Sejak penerbitan buku memoria pasionis yang pertama tahun 1999, hingga saat ini masalah kesehatan dan pendidikan tetap tidak berubah. Kesehatan berujung pada gizi buruk, sementara pendidikan adalah masalah buta huruf,” kata Yuliana dalam diskusi buku “Papua Bukan Tanah Kosong: Beragam Peristiwa dan Fakta Hak Asasi Manusia di Tanah Papua ” yang digelar di Gedung Tempo, Jumat, 15 November 2019.

Diskusi buku menghadirkan pembicara diantaranya, Direktur SKPKC FP Yuliana Langowuyo, Peneliti LIPI Cahyo Pamungkas, dan Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara. Diskusi dipandu moderator Maria Rita Hasugian.

Buku “Papua Bukan Tanah Kosong”, merupakan seri ke 37 dari penerbitan dan dokumentasi narasi dan peristiwa hak asasi manusia baik di bidang Sipil Politik (Sipol) maupun Ekonomi, Sosial, Budaya (Ekosob) dan Ekologi Tanah Papua.

Diskusi dan Peluncuran Buku “Papua Bukan Tanah Kosong”

Yuliana menuturkan, situasi kesehatan tidak ada perubahan dan tetap ada kasus gizi buruk, dari seri pertama 1999 sampai terakhir 2018 yang dibuka dengan kasus buruk di Asmat.

Kelaparan, gizi buruk, tidak adanya persedian obat-obatan dan makanan yang memadai telah merenggut nyawa banyak orang, khususnya anak-anak dan kaum perempuan di tanah Asmat dan Nduga.

Situasi ini diperburuk dengan konflik bersenjata yang membuat banyak orang harus mengungsi dan meninggalkan kampung halamannya secara terpaksa.

Menurut Yuliana, buruknya kesehatan di Papua bukan soal anggaran, melainkan pada penyelenggara pemerintahan baik di pusat maupun di daerah yang tidak secara serius melakukan upaya perbaikan pada bidang kesehatan dan pendidikan.

“Upaya yang dilakukan masih di bidang infrastruktur, sekolah dibangun, puskesmas dibangun, tetapi dalam perjalanan apakah sekolah itu berfungsi, apakah puskesmas itu punya tenaga medis, apakah punya obat-obatan, itu tidak terlihat dalam pengawasan. Jadi kita bisa memasukan hal itu dalam pembiaran. ,” ujarnya.

Yuliana menjelaskan buku seri memoria pasionis lebih banyak berceritra tentang kekerasan, tentang korban sehingga laporan itu dikasih nama memoria pasionis atau ingatan penderitaan.

Penyerahan buku secara simbolis.

“Sebenarnya saya yakin pendahulu saya tidak berencana bahwa ingatan penderitaan dapat terbit sampai ke seri 37. Harusnya ingatan akan penderitaan itu sudah terputus,” kata dia

Yuliana mengakui, tentu ada perbaikan selama 19 tahun, namun karena seri buku difokueskan pada memoria pasionis, maka yang dibicarakan adalah kekurangan sebagai catatan untuk perbaikan.

Menanggapi masalah kesehatan, Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cahyo Pamungkas mengatakan, saat ini telah terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat di Papua. Perubahan ini terjadi seiring masuknya produk industri ke sana.

Hasil penelitian LIPI menyebutkan bahwa masuknya produk industrial ini menjadikan orang Papua meninggalkan alam, yang juga berpengaruh pada daya tahan tubuh orang Papua.

“Orang Papua jadi bergantung terhadap barang seperti mi instan sehingga menjadi malas berburu, berkebun, dan tidak lagi bergantung pada alam. Maka daya tahan mereka berkurang,” kata Cahyo.

Menurut Cahyo, perubahan pola konsumsi ini tak hanya menurunkan ketahanan tubuh namun juga membuat orang Papua bergantung pada hasil industri.

“Yang mulanya bergantung ke alam kemudian berubah. Sebagian besar daerah di Papua kemasukan uang malah meningkatkan konsumsi, tapi ketahanan sosial berkurang. Padahal dulu berburu,” katanya.

Secara khusus, buku “Papua Bukan Tanah Kosong” atau buku Seri Memoria Pasionis ke -37, mengungkapkan tragedi buruk di bidang kesehatan di kabupaten Asmat, konflik bersenjata di Tanah Ndugama, kabupaten Nduga dan kebebasan berpendapat.

Buku tersebut juga berisi narasi alam Papua yang semakin memprihatinkan. Hutan dan tanah, tempat tinggal dan sumber kehidupan mengalami penghancuran karena kekuasaan, uang dan kepentingan golongan. Tanah dan hutan Papua dijadikan lahan bisnis, termasuk dalam proyek pembangunan infrastruktur oleh Negara.

Selain itu, persoalan baru yang muncul . Benih-benih konflik yang digiring ke konflik berbau SARA mulai tumbuh di tanah Papua.

“Papua Bukan Tanah Kosong, mau menegaskan bahwa di tanah Papua ada kelimpahan sumber daya alam dan manusia yang harus dihormati, dihargai, dijaga dan dilestraikan demi peradaban yang lebih manusiawi,” ujar Yuliana. (Ben)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini