Mendekati Mansinam (Bagian 2) “Folklor Orang Numfor”

0
26
Penutur Wor Bapak . S.Demi (Foto : Ist)

Oleh : Adolina Velomena Samosir Lefaan

Haluan kemudi di arahkan menuju gunung Arfak. Inilah patokan yang terbaik yang dibuat leluhur suku Numfor menuju pesisir pantai Andai-Manokwari untuk kemudian berlabuh di pulau Mansinam. Laut tetap bergelora, ketenangan hanya sesaat saja, namun jiwa maritim tak menyurutkan niat untuk menggapai tujuan. Membaca tanda-tanda alam hanyalah cara untuk meyakinkan bahwa perahu kan tiba di tempat yang dituju.

Dari penuturan cerita penduduk di Pulau Mansinam, awal mula leluhur suku Numfor yang mendatanggi pulau Mansinam terdiri atas tujuh keret yakni Rumsayor, Rumadas, Rumbruren, Rumbekwan, Rumfabe, Rumbobyar, dan Rumbrawer. Selanjutnya, tujuh keret bertambah jumlah menjadi sembilan keret atas  penambahan keret Rumaikew, Rumander-Sobyar.  Sembilan keret mendapat sebutan baru “Rumberpur”, karena mereka hidup berdampingan bagai satu keluarga.

Suku-suku dari Numfor memang  manusia berjiwa maritim yang pantang menyerah dalam mengarungi hidup. Pengalaman hidup diperoleh melalui alam yang membentuk kekuatan fisik dan karakter mereka.

Sebagai masyarakat maritim dalam mengarungi berbagai tempat di seluruh tanah Papua, perjalanan dari Numfor ke Mansinam tak bedanya dengan perjalanan wisata. Meninggalkan tanah kelahiran agar dapat mengunjungi tempat baru tidak lain karena hendak mengembangkan diri, rekreasi atau kehendak mempelajari keunikan daya tarik tempat yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.

Awalnya, tak niat untuk berlama-lama di tempat baru, Pulau Mansinam. Namun, cerita dapat berubah di tengah perjalanan. Setelah tiba di pulau nan indah, pulau Mansinam, keinginan untuk lebih lama di tempat ini adalah godaan yang tak mungkin diabaikan. Mereka pun memutuskan tinggal di pulau ini.

Kesempatan tinggal sebagai panggilan alam, kemudian menghendaki leluhur Numfort untuk  membentuk kelompok suku yang disebut Numfort-Doreri. Artinya, suku Numfor dari pulau Numfor yang berpegang teguh pada tradisi, adat kepercayaan, dan menempati teluk Doreri.

Kehidupan Warga di Pulau Mansinam (Foto : Ist)

Kisah perjalanan hidup ini terekam baik melalui folklor lisan. Folklor lisan menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup leluhur Numfor, kemanapun mengarungi kehidupan selalu menjadi cermin dan kontrol sosial.

Konten folklor lisan bagi Numfor bukanlah cerita tanpa makna, bukan saja pengisahan tentang pembentukan kekuatan fisik ataupun tanda-tanda yang mengarahkan perjalanan hidup. Lebih dari itu mengisahkan jati diri mereka.

Perjalanan migran dari pulau Numfor ke pulau Mansinam melalui tanda-tanda alam terpatri di dalam folklor lisan yang merujuk pada satu sistem  “cultural sharing”, kemudian menjadi dasar tradisi lisan.

Folklor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan turun-temurun diantara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device), (Danandjaja, 2002:2).

Berikut adalah kutipan folklor lisan Numfort-Doreri, merupakan fakta tentang kehadiran leluhur Numfor di pesisir pantai Andai-Manokwari.

 Walau perjalan menuju arah gunung tersebut tak tentu wilayahnya, semangat bersyair memotivasi mereka terus berdayung. Dengan berpatokan pada tanda-tanda alam, tibalah pada pesisir pantai Andai di Manokwari.

Kutipan tersebut menginterpretasikan makna bahwa leluhur suku Numfor berjiwa besar, berani, dan tangguh dalam mengarungi hidup karena mereka percaya bahwa tanda-tanda alam adalah  relung kehidupan manusia yang patut menjadi sumber pengetahuan. Kemanapun hendak bepergian mereka percaya bahwa roh leluhur menyertai.

Begitu pula mengetahui pulau Mansinam masih kosong, diyakini tempat itu memang dikehendaki leluhur untuk mereka tempati. Semangat mengarunggi laut dibuktikan dengan menciptakan berbagai lagu daerah dan dilantunkan dalam perjalanan mendayung mengarunggi lautan. Fakta mengenai ungkapan kehadiran leluhur Numfor di Mansinam dibuktikan melalui cerita berikut.

Setiap hari mereka beraktivitas di atas pulau Mansinam dengan penuh suka cita, mulai dari melaut, berkebun, mengolah, dan memasak makanan. Asap mengempul membahana di atas udara menunjukkan bahwa mereka benar-benar menikmati hidup di tempat itu. Mereka percaya bahwa kehidupan itu ada karena diberi oleh roh leluhur. Oleh sebab itu, mereka selalu menyembah leluhur melalui patung-patung, batu-batu besar, dan pohon-pohon besar yang diyakini disitulah tempat bersemayan roh-roh leluhur yang sudah berada disinggahsana”.

Para perempuan dan laki-laki pemilik tradisi Numfor-Doreri

Pulau Mansinam sudah menyatu bersama jiwa raga leluhur Numfor sejak pertama kali menginjakkan kaki di pulau itu. Tidak saja berkemampuan dalam mengarungi lautan lepas, mengolah tanah menjadi sumbur untuk menanam maknan adalah bagian dari dasar hidup sebagai masyarakat berkebun.

Asap mengepul memberi simbol bermakna bahwa mereka adalah orang-orang yang mampu memanfaatkan talenta atas karunia sang Pencipta untuk mengelolah alam menjadi sember penghidupan. Hal tradisi adat istiada tetap melekat di dalam kehidupan mereka, sebagai bentuk cinta pada budaya asli mereka.

Warisan budaya tradisi kepercayaan merupakan jalan awal memahami kehidupan yang kemudian membentuk pola pikir sesuai perkembangan hidup yang disaring secara baik untuk dilakoni dalam hidup.

Sampai sekarang mereka tinggal dan beranak cucu di Mansinam bahkan keturuan mereka menyebar diseluruh tanah Papua.Sebab itu, suku Numfor-Doreri patut disebut tuan tanah di atas pulau Mansinam. Disadari, keberadaan mereka di Pulau mansinam atas migrasinya para leluhur. Perjalanan tersebut merupakan fakta leluhur Numfor-Doreri telah berpariwisata di atas tanah Papua sejak dahulu kala.(Bersambung)  

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini