Titus Pekei : “Memahami Papua Butuh Ketulusan”

0
20
Diskusi Ragam Budaya Papua, di Sarinah Thamrin Plaza, Jakarta Pusat, Senin (18/11).

TIFFANEWS.COM,– Memahami Papua butuh ketulusan, karena ketulusan adalah nilai penting yang dihidupkan dalam budaya Papua. Melalui noken ketulusan itu dirayakan baik saat membuat,maupun saat menggunakannya. Ketulusan inilah yang menjadikan budaya Papua memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya menjaga kerukunan

Hal ini diungkapkan putra Papua yang menjadi Ketua Lembaga Ekologi Papua dan pencetus gagasan menominasi Noken ke UNESCO Titus Pekei, saat menjadi pembicara dalam diskusi Ragam Budaya Papua, di Sarinah Thamrin Plaza, Jakarta Pusat, Senin (18/11).

Diskusi yang merupakan bagian dari Gelar Wicara, Lokakarya, dan Pameran Budaya Papua ini, selain Titus Pekei, narasumber yang lain Peneliti LIPI Adriana Elisabet, dan Tokoh Muda Papua Billy Mambasar.

Titus menjelaskan, budaya Papua yang merupakan cipta, rasa dan karsa orang Papua sejak dari leluhur Papua telah menjadi daya perekat beragam suku yang ada di Papua dan merupakan cara yang terbaik menerima orang yang datang dari luar Papua termasuk menerima perbedaan.

“ Budaya Papua sudah hidup sejak leluhur pertama Papua dan terus dikembangkan oleh pewaris kebudayaannya. Perjumpaan pertama orang Papua dengan penduduk yang datang dari luar juga dimulai dengan pendekatan budaya yang mengedepankan ketulusan,” kata Titus.

Titus menjelaskan, nilai ketulusan sebagai suatu pendekatan budaya untuk Papua sangat strategis, karena semua orang Papua dari kecil sampai besar sudah paham tentang budaya ketulusan. Ketulusan inilah yang membuat orang saling menghargai,  hidup penuh kekeluargaan, toleransi dan menghendaki perdamaian.

“Kalau budaya perang itu sudah ada sejak dulu, tetapi itu pun bisa dinegosiasikan, bisa didialogkan dalam konteks budaya. Konflik pun selalu muncul dari ketidaktulusan, maka perdamaian adalah komitmen akan ketulusan,” terangnya.

Secara khusus pada kesemapatan itu Titus mejelaskan tentang nilai-nilai yang ada pada noken sebagai warisan budaya Papua, diantaranya, noken menggambarkan hati orang Papua dan merupakan indentitas diri orang Papua.

Menurut Titus, sebagaimana hati yang selalu dekat dengan diri manusia,  Noken pun demikian karena segala aktivitas selalu menggunakan noken. “ Noken digunakan untuk menggendong bayi, menyimpan bahan makanan, digunakan dalam upacara perkawinan dan juga menyimpan kebutuhan masing-masing orang,” kata Titus.

Dalam penjelasannya,  Titus juga menyangkan jika nilai budaya masyarakat Papua termasuk noken ini tidak menjadi perhatian pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Padahal lanjutnya, noken sendiri sudah diakui Unesco dan sudah terbukti nilai-nilai noken dapat menyelesaikan persoalan di Papua.

“Sangat disayangkan pula bila orang yang tak mengerti budaya Papua, merampas noken yang dipakai warga Papua atau melarang menggunakan noken. Sangat disayangkan bila museum noken hingga saat ini dibiarkan terlantar, dan masih banyak mama Papua yang menjual noken di pinggir jalan,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia mengharapkan adanya perhatian yang lebih intensif atas perkembangan budaya Papua termasuk noken di dalamnya. (Bn)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini