Titus Pekei : “Pemerintah Terlantarkan Noken Warisan Budaya Papua”

0
24
Titus Pekei saat jadi pemicara pada Diskusi Ragam Budaya Papua, di Jakarta, Senin 18 November 2019.

TIFFANEWS.COM,- Noken Papua sebagai warisan budaya tak benda yang diakui Unesco 4 Desember 2012, kini nyaris diterlantar. Padahal, dengan pengakuan dari Unesco seharusnya membuat noken warisan budaya ini lebih diperhatikan dan dimanfaatkan.

Putra Papua sekaligus penggagas nominasi Noken untuk diakui Unesco, Titus Pekei mengatakan  hal itu kepada Tiffa News, yang ditemui di Jakarta usai Diskusi “Ragam Budaya Papua” di Sarina Plasa, Jakarta Pusat, Senin (18/11). Titus Pekei menyayangkan bila noken saat ini hanya digunakan sebagai cendramata dan dipakai hanya untuk menunjukkan keberpihakan terhadap Papua.

“Setiap kali Bapak Presiden ke Papua, selalu dikalungi Noken. Selama di Papua, Presiden selalu mengenakan noken. Namun, bagaimana nasib pelestarian noken itu, kini mulai tidak jelas,” kata Titus.

Titus menjelaskan, pelestarian noken pernah digagas sebagai bagian dari program pemerintah daerah, namun semangat itu hanya ada di awal saja, selanjutnya tidak jelas bahkan taman budaya dan museum noken pun kini terlantar.

“Sejak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melepaskannya ke Pemerintah Daerah (Pemda) setempat, kegiatan yang berhubungan dengan noken pun menjadi terlantar dan memprihatinkan,”ujarnya.

Padahal, lanjutnya manfaat Taman Budaya  dan museum noken itu sebagai wadah bagi masyarakat untuk berekspresi dan berkreasi. “Itu baru taman budaya dan museum. Belum lagi kita bicara tentang kelompok pengerajin noken termasuk upaya memasarkan noken. Semuanya kini mulai tidak jelas” kata Titus.

Penulis sejumlah buku tentang budaya Papua ini, mengakui bahwa noken sebagai bagian penting kebudayaan Papua, memang tidak akan tergerus hanya karena tidak adanya perhatian pemerintah. Beberapa kelompok masyarakat masih tetap menjalani rutinitas membuat noken dan di antaranya juga mendapat bantuan dari swasta.

Namun, kata Titus, inisiatif masyarakat bukan indikator bahwa tetap ada kegiatan seputar noken, karena bagaimana pun upaya pelestarian harusnya dibuat  lebih terencana, da nada indicator keberhasilannya.

“Noken jangan sekadar ada, tapi harus menjadi. Itulah esensi kebudayaan. Sebagai produk kebudayaan, upaya pelestarian dan pemanfaatan harus menjadi titik tolak untuk merekam dan mendokumentasikan perkembangan budaya dari masyarakat yang bersangkutan,” jelasnya.

Dia mengharapkan pemerintah bisa lebih memperhatikan pelestarian noken ini, sehingga masyarakat semakin dekat dan memperoleh manfaat dari noken sebagai warisan budaya.

“Presiden sudah menetapkan SDM sebagai prioritas pembangunan. Mendikbud juga mempertegas dalam kebijakan operasional. Tinggal soal bagaimana hal itu dijawab dalam kegiatan konkrit dan tak sekedar wacana saja,” kata Titus.

Titus mengutip pernyatàn Nadiem Makarim bahwa dunia kini memerlukan manusia yang kompeten diikuti berbagai keterampilan termasuk keterampilan lunak seperti empati, kreativitas, kemampuan komunikasi dan kolaboras. Kata Mendikbud Nadiem, lanjut Titus, Karakter hanya bisa diperoleh dari berpartisipasi di kegiatan yang memang membangun nilai-nilai tersebut.

“Hal yang diungkapkan Mendikbud ini tidak bisa dicari refensinya di luar, kecuali memasuki lingkungan dan budaya masyarakat setempat. Dan di sini noken menjadi relevan karena sejumlah nilai yang disebutkan itu ada pada Noken dalam masyarakat Papua,” saran Titus.

Titus mengharapkan agar pemerintah pusat dan daerah segera memikirkan kembali nasib noken ini agar pembangunan budaya terutama sumber daya manusia Papua bisa terealisasi dengan baik. (*Bn)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini