Tingkatkan Minat Baca di Era Digital, Pustakawan Harus Kreatif

0
13
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dede Yusuf Macan Effendi bersama pembicara lainya usai menjadi pembicara pada seminar perpustakaan.( Foto: Runi/rni/dpr.co.id)

TIFFANEWS.COM,- Perkembangan peralatan digital dan akses akan informasi dalam bentuk digital menimbulkan tantangan serta peluang bagi para pustakawan dalam meningkatkan literasi minat baca masyarakat Bangsa Indonesia.

Editor Indonesiabaik.id, Edy Supangat mengatakan suatu informasi mesti dikemas menarik agar isi pesannya sampai kepada khalayak.  “Era digital saat ini, masyarakat lebih senang menerima informasi berbentuk visual, apalagi generasi milenial. Kita (lembaga negara) harus membuat konten yang menarik melalui pemanfaatan media sosial yang kita miliki,” ungkapnya dalam seminar yang bertema “Pemanfaatan dan Kita Pengguna Media Sosial Bagi Pengelola Perpustakaan”, di Ruang Abdul Muis, Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Senin (2/12/2019).

 Seminar yang diselenggarakan Bidang Perpustakaan Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR RI ini dibuka oleh Sekretaris Jenderal DPR RI Indra Iskandar. Seminar menghadirkan pembicara Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dede Yusuf Macan Efendi dan Editor Indonesiabaik.id Edy Supangat dan dimoderatori oleh CEO Good News From Indonesia (GNFI) Wahyu Aji.

Dijelaskan Edy Supangat,  gawai atau gadget adalah fenomena dasyat abad ini. Bahkan, bisa dikatakan gadget merupakan kebutuhkan keempat setelah pangan, papan dan sandang. Berdasarkan riset yang Indonesiabaik.id, dalam satu hari ada sekitar 2,5 milliar pesan yang tersebar, ada 5 juta video yang ditonton, serta seseorang mengecek gadget-nya mencapai 200 kali dalam satu hari. “Minat baca sangat rendah,” tandas Edy Supangat

Maka, lanjut Edy Supangat, cara menarik perlu dilakukan dalam penyebaran informasi melalui visual content perlu dibuat dalam format video,  komik, infografis, quotes, meme, foto beserta caption menarik, atau hal yang menyentuh emosi masyarakat.

Sebagai lembaga negara, menurut Edy Supangat, kecepatan menyebar informasi adalah bonus yang utama harus dilakukan dalam informasi yang di-publish. “Kita kan sering mendapatkan data, teks. Kita harus sampaikan informasi yang benar,” pesannya.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dede Yusuf Macan Effendi menilai, di era digitalisasi saat ini, para pusatakawan harus mampu mendorong minat baca masyarakat melalui pemanfaatan media sosial.

Menurut Dede, kreativitas dalam menyebarkan informasi melalui media sosial merupakan salah satu hal yang perlu dilakukan oleh pengelola perpustakaan. “Pustakawan harus keluar dari zona nyaman, harus ada terobosan serta inovasi yang dibuat dalam menyampaikan informasi yang dapat menarik minat baca masyarakat,” tutur politisi Partai Demokrat itu usai menjadi narasumber dalam seminar sebagaimana dikutip dari laman drp.co.id.

Perpustakaan DPR

Dikutip dari laman dpr.co.id, Sekretaris Jenderal DPR RI Indra Iskandar menilai, secara fungsi Perpustakaan DPR RI memiliki fungsi yang strategis. Tidak lagi hanya meningkatkan minat baca pegawai Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR RI, tapi juga berfungsi untuk berbagai kepentingan.

Seperti kepentingan sejarah kedewanan, tugas akhir seperti skripsi, tesis ataupun disertasi, sehingga pemanfaatan dan penggunaan media sosial bagi pengelola perpustakaan juga digunakan untuk hal-hal yang lebih produktif lagi.

“Jadi, perpustakaan kita sebenarnya bukan dengan konteks minat baca dalam arti yang sederhana, tapi sudah ada kepentingan-kepentingan yang lebih luas lagi. Para peneliti yang ingin juga memberikan bahan berkaitan dengan keputusan-keputusan dewan. Jadi, perpustakaan kita ini sangat strategis fungsinya,” katanya

Sementara, kaitan antara perpustakaan dan penggunaan media sosial, Indra menilai bahwa penggunaan media sosial juga seperti pisau bermata dua, dimana penggunaannya bisa positif, bisa juga negatif. Melalui perpustakaan ini Indra berharap, agar media sosial digunakan untuk hal-hal yang lebih produktif, positif, menghindari hoaks dan sejenisnya.

“Jadi perpustakaan ini menghindari berita negatif dan hoaks, menjelaskan juga misalnya media sosial yang ada di DPR ini bisa diakses untuk kepentingan-kepentingan yang lebih positif. Dan banyak juga orang-orang luar yang membutuhkan berbagai referensi mengenai sejarah kedewanan, baik kepentingan untuk penulisan, disertasi, dan penulisan-penulisan ilmiah lainnya, dan larinya ke Perpustakaan DPR RI,” katanya.

Indra menambahkan, medsos yang dimiliki sebuah lembaga mengalami perkembangan menjadi media promosi dan sosialisasi. Menurutnya itu menjadi tantangan untuk penyedia informasi di tengah kemajuan internet, khususnya perpustakaan. Oleh karenanya, gagasan meningkatkan literasi melalui medsos perlu dijadikan tujuan utama. “Tujuan utamanya memang literasi minat baca. Kita ingin literasi minat baca itu mengarah pada kekuatan data dan sumber berita sebagai pengetahuan dan bahan penulisan,” tuturnya.

Lebih lanjut Indra menambahkan, bagian dari semangat parlemen modern atau lembaga perwakilan modern ini nantinya masyarakat juga ingin tahu tentang produk-produk hukum di DPR RI. Ia berharap nanti segala hal yang ada di perpustakaan itu bisa diakses di masyarakat dengan baik, sehingga berbagai risalah-risalah dan keputusan-keputusan dewan itu diketahui masyarakat luas.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini