Catatan LP3ES di Hari Pers: “Jurnalisme Kita Gagal sebagai Medium Aspirasi dan Pikiran Publik”

0
8
ilustrasi

TIFFANEWS.COM,- Senjakala media mainstream di Indonesia bukan disebabkan terpaan penetrasi revolusi digital, namun karena pers sendiri berhenti untuk menjadi relevan bagi publik. Banyak peristiwa menunjukkan bahwa jurnalisme kita gagal untuk menjadikan dirinya sebagai medium yang menghadirkan aspirasi dan pikiran publik.

Hal itu disampaikan Direktur Center for Media and Democracy, Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Wijayanto, Ph.D, sebagai catatan dalam peringatan Hari Pers Nasional yang jatuh pada hari ini, Minggu (9/2/2020).

Wijayanto mengatakan, hari ini demokrasi kita membutuhkan jurnalisme lebih dari sebelumnya karena demokrasi tengah mengalami proses regresi yang serius yang sangat rentan mengarah pada autoritarianisme.”Alih-alih mendorong konsolidasi, jurnalisme kita justru memunggungi demokrasi,” sebut Wijayanto.

Dalam catatan LP3ES ini, disebutkan Sembilan elemen jurnalistik yang tidak diindahkan oleh pers Indonesia terutama media mainstream. Sembilan elemen jurnalisme dirujuk dari Kovach dan Rosenstiel (2016).

Pertama, jurnalisme adalah kebenaran. Catatan LP3ES menyebutkan masih maraknya kabar bohong dan ujaran kebencian menjelang pemilu 2019 adalah satu bukti bahwa jurnalisme kita gagal untuk menjadi rujukan demi menjernihkan polusi di ruang publik kita.

Elemen kedua jurnalisme adalah loyalitas kepada publik. Catatan LP3ES menyebutkan suara public gagal dihadirkan dalam pemberitaan media karena pemberitaan yang hanya diisi oleh statement elit politik.

Elemen ketiga jurnalisme adalah disiplin verifikasi. Jurnalisme memberikan metode untuk mendapatkan kebenaran yang disebut verifikasi. Disiplin verfikasi ini sering disampaikan dalam anekdot: “even if your mom says she loves you, you have to check it.”.  Catatan LP3ES menyebutkan banyak media yang melanggar salah satu prinsip paling esensial dalam kerja mereka ini.

Elemen keempat jurnalisme adalah independensi. Di kalangan ilmuwan komunikasi politik, terdapat perdebatan apakah media seharusnya berpihak atau netral dalam pemilu. Masing-masing memiliki argumennya sendiri. Hal ini bersumber dari tradisi liberal Amerika Serika yang memang diwarnai pernyataan dukungan media di setiap pilpres.

Namun catatan LP3ES menyebutkan bahwa media TV yang menggunakan frekuensi publik tidak boleh berpihak, apalagi jika keberpihakan itu hingga mengaburkan atau bahkan memanipulasi fakta.  Merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Wijayanto dan Hasfie (2019) menemukan bahwa setiap media tidak netral dalam derajad tertentu.

Elemen kelima jurnalisme adalah mengawasi kekuasaan dan menyambung lidah mereka yang tertindas. Catatan LP3ES menyebutkan, manifestiasi dari pengawasan pada kekuasaan ini paling baik tampak dalam praktik jurnalisme investigasi. Sayangnya, praktik jurnalisme investigasi bukanlah mainstream dalam media mainstream kita.

Untuk itu, masih dalam Catatan LP3ES, media justru perlu lebih berperan dan mengambil inisiatif dalam upaya memerangi ketimpangan ekonomi yang ada jika ingin tetap berada di dalam hati publik.

Elemen keenam jurnalisme adalah media harus bisa menjadi forum publik untuk menyampaikan kritisisme. Catatan LP3ES menyebutkan partisipasi publik melalui komentar dan tanggapan merupakan bagian yang melekat dari proses jurnalisme. Hari ini, kemajuan teknologi digital sebenarnya memungkinkan terjadinya interaksi antara pembaca/audiens dengan media. Sayangnya, hal itu masih jarang kita temui dipraktikkan.

Elemen ketujuh adalah jurnalisme harus memikat dan relevan. Catatan LP3ES menyebutkan jurnalis tak hanya membuat artikel yang memikat pembaca karena sensasional, tetapi bisa menyajikan artikel penting dan relevan dengan cara yang menarik bagi pembaca. LP3ES menyayangkan pada era digital ini justru banyak berita sampah yang mencari sensasi atas nama mencari clickbait atau mengejar rating.

Merujuk pada beberapa kasus, ditegaskan dalam catatan LP3ES ini, memang banyak berita tidak mengandung kebohongan karena  diangkat adalah fakta persidangan, namun hanya membagikan sensasi dengan berbagai variannya, menurut LP3ES,  hanyalah mengejar click dan tidak mengusung nilai-nilai jurnalistik.

Elemen kedelepan adalah berita harus proporsional dan komprehensif. Diakui bahwa pemilihan berita sangat subjektif dan itu wartawan harus ingat agar proporsional dalam menyajikan berita.

Catatan LP3ES menyebutkan di Indonesia terjadi apa yang oleh para pengamat media sebagai Java centrism yang berpusat pada Jakarta. Akibatnya, semua keresahan yang terjadi di Jakarta berubah menjadi keresahan nasional.

Masih dalam catatan LP3ES, krisis representasi konten media yang hanya berisi tentang Jakarta (Jakarta-centris) ini tentu saja bertolak belakag dengan prinsip demokrasi yang mengandaikan perlunya representasi warga Negara dari Sabang sampau Merauke.

Prinsip kesembilan jurnalisme adalah mendengarkan panggilan hati nurani. Ini berarti setiap jurnalis harus memiliki tanggungjawab untuk menyuarakan sekeras-kerasnya panggilan hati nurani. Salah satu manisfestasi dari hal ini adalah kemampuan seorang jurnalis untuk mendengarkan amanat hati nurani rakyat. Catatan LP3ES menyebutkan kemampuan ini mulai menjadi barang langka dalam jurnalisme kita.

Di akhir catatan dikatakan, pesan yang dapat dilihat dari kegagalan penerapan 9 elemen jurnalisme menunjukkan defisit demokrasi sebagai res-publica di mana publik dan segenap apirasinya seharusnya mendapat tempat utama, namun media dan jurnalisme Indonesia justru menjadi corong dari elit yang juga memunggungi nilai-nilai demokrasi, dipenuhi bias dan sensasi, urung menegakkan indepensi dan menjalankan disiplin verfikasi.

“Harus disadari bahwa ketika demokrasi runtuh dan berubah menjadi otoriterisme, salah satu korban pertamanya adalah kebebasan media! Dalam keadaan ini, media harus melakukan istrospeksi dengan sangat serius dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Semakin ditinggalkannya media mainstream oleh publik, seharusnya menjadi peringatan sangat kuat bahwa mereka harus berubah, atau justru musnah!” demikian akhir dari catatan LP3ES. (Bn)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini