Ave Levaan : Masyarakat Papua Kehilangan Akar Budayanya Sendiri

0
8
Diskusi publik bertemakan “Peran Pers Dalam Pembangunan di Papua” yang diselenggarakan atas kerjasama Komunitas Sastra Papua (Ko-Sapa) dengan Laboratorium Kesejahteraan Sosial FISIP Uncen di kampus FISIP Uncen,Jayapura, Selasa (11/2). (Foto : TiffaNews)

TIFFANEWS.COM,- Pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Cenderawasih (Uncen), Papua, Dr Drs Ave Levaan mengatakan, pada saat ini masyarakat Papua pada umumnya telah kehilangan akar budayanya sendiri. Oleh karena itu dibutuhkan budaya menulis di kalangan mahasiwa sehingga tradisi lisan dapat direkam dan didokumentasikan.

Hal ini dikatakan Dr Drs Ave Levaan dalam diskusi publik bertemakan “Peran Pers Dalam Pembangunan di Papua”  yang diselenggarakan atas kerjasama Komunitas Sastra Papua (Ko-Sapa) dengan Laboratorium Kesejahteraan Sosial FISIP Uncen dalam rangka Peringatan Hari Pers Nasional 2020 yang digelar di kampus FISIP Uncen, kawasan Waena, Kota Jayapura, Selasa (11/2).

Diskusi publik itu  dibuka secara resmi oleh Pembantu Dekan I,Marlina Flassy, Ph.D dengan menampilkan nara sumber antara lain Dr. Drs Ave Levaan,  Dr Albertina N.Lobo,S.Sos, M.Si,  Andi Tagihuma, Dr Ferry Sitorus,  Fin Yarangga dan Peter Tukan.

“Tidak hanya mahasiswa tetapi masyarakat Papua pada umumnya  telah kehilangan akar budayanya sendiri sehingga kehilangan jati diri sebagai orang Papua sekaligus terombang-ambing di dalam hempasan gelombang perubahan zaman,” kata Ave Levaan.

Menurutnya, melalui karya tulis ilmiah populer, para mahasiswa akan banyak menuangkan cerita-cerita rakyat yang terkandung di dalam tradisi dan  budaya masyarakat Papua  yang memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang sangat dalam.

Pada masa lalu di Papua, lanjut Ave,  terbit dan beredar luas salah satu media cetak bernama  “Tifa Irian”  yang menampilkan rubrik “Kabar Dari Kampung”  menampilkan kisah keseharian hidup  masyartakat Papua yang populer.

Ribruk ini sangat digemari oleh masyarakat Papua sendiri lantaran mampu mengangkat tradisi dan budaya masyarajat yang tercermin dalam sepak terjang hidup harian masyarakat di kampung-kampung.

“Patut diakui bahwa pada saat ini, banyak media, baik cetak maupun elektronik juga media online menampilakan berita dan gambar-gambar konflik di Papua yang akhirnya membuat masyarakat memiliki pandangan bahwa Papua selalu bergolak, Papua adalah daerah konflik yang menakutkan. Padahal, media atau karya jurnalistik harus mempu menampilkan berita-berita damai, sejuk bagi iklim kehidupan masyarakat di Tanah Papua,” katanya.

Sementara itu, Fin Yarangga – salah seorang aktivis perempuan Papua sekaligus alumni Uncen berpendapat, masyarakat tradisional Papua adalah masyarakat berceritera. Masyarakat yang memiliki budaya lisan, bukan budaya menulis.

“Sehingga pers harus mampu mengangkat budaya lisan itu ke dalam karya tulis dan gambar yang bermutu,” katanya.(*BN)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini