Surat Paskah 2020, Uskup Leo: “Setiap Jumat kita berdoa untuk damai di Tanah Papua”

0
19
Uskup Jayapura Mgr Leo Laba Ladjar, OFM

TIFFANEWS.COM,- Jelang perayaan Paskah 2020,  umat Katolik memasuki masa khusus dalam tahun liturgi yakni masa Pra Paskah yang dimulai 26 Februari mendatang. Sebagaimana perayaan dalam lingkungan gereja Katolik dan khususnya di Keuskupan Jayapura, Uskup Jayapura Mgr. Leo Laba Ladjar kembali menulis Surat Paskah 2020 kepada para pastor paroki, komunitas basis gerejawi, komunitas para relgius, dan seluruh umat se-keuskupan Jayapura.

Surat Paskah 2020 yang diberi judul “ Berdoa dan Berpuasa untuk Damai di Tanah Papua” ini , Uskup Leo kembali mengingatkan akan komitmen para Pemimpin agama-agama di Provinsi Papua, yang bergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) pertengahan 2019 untuk membentuk kegiatan doa dan puasa bersama dengan intensi untuk kedamaian di Tanah Papua.

“Sudah bertahun-tahun FKUB menyerukan dan melakukan banyak kegiatan untuk membangun damai. Namun usaha-usaha itu belum berbuah banyak. Belakangan ini, di dalam masyarakat kita, suasana yang damai malah semakin redup. ” kata Uskup Leo.

“Semua itu membuat kita semakin yakin bahwa damai yang sejati memang bukan hasil usaha manusia. Damai yang sejati itu adalah anugerah Tuhan, dan tidak akan menjadi nyata dalam hidup kita kalau kita mau bangun  hanya dengan kekuatan manusia,”tulis Uskup Leo.

Uskup Leo mengatakan, para pemimpin agama-agama dalam FKUB Provinsi Papua menyadari betapa perlu berdoa bersama memohon damai. Mereka menyatakan niat dan seruan kepada penganut agama-agama agar melakukan doa dan puasa bersama untuk  damai bagi Papua.

Disarankan agar ditetapkan satu hari yang sama untuk semua, walaupun dilaksanakan di rumah ibadat/komunitas sendiri-sendiri. Maka dalam masa tobat ini baiklah kita menanggapi ajakan yang luhur itu dengan berdoa dan berpuasa untuk maksud khusus itu.

“Kami tetapkan agar setiap hari Jumat kita berdoa untuk damai di Tanah Papua. Doa itu bisa dilaksanakan waktu perayaan Ekaristi, maupun waktu kita merenungkan sengsara Tuhan dalam “Jalan Salib”,” tulis Uskup. (Bn)

Berikut isi Surat Paskah 2020 Keuskupan Jayapura

SURAT PASKAH 2020

BERDOA DAN BERPUASA UNTUK DAMAI DI TANAH PAPUA

Saudara-saudari terkasih

Mulai dengan Hari Rabu Abu, yang tahun ini jatuh pada tgl.26 Februari, kita memasuki masa khusus dalam tahun liturgi. Dalam urutan waktu, masa itu disebut “Masa Prapaskah” karena berlangsung sampai hari Jumat Agung menjelang Paskah. Tetapi, menurut isinya, masa itu kita sebut masa puasa atau masa pertobatan. Sebab pada masa itu, umat Allah diajak untuk lebih cermat dan tekun menjalankan pertobatan dan membarui diri agar siap merayakan Paskah dengan bangkit bersama Kristus dan hidup sebagai manusia baru.

Masa pertobatan itu kita jalani dengan berdoa, berpuasa dan beramal-kasih. Dengan berdoa kita mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan berpuasa dan berpantang, kita menolak hawa nafsu dan hasrat untuk mengejar hal-hal duniawi untuk kepuasan diri. Rasul Yohanes merangkumnya dalam tiga keinginan yang harus ditolak, yaitu “keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup” (1 Yoh 2:16). Dengan amal kasih, kita melakukan apa yang baik bagi orang lain dengan memberikan sesuatu walaupun kita sendiri masih berkekurangan. Dengan doa, puasa dan amal kita mewujudkan hukum tertinggi: mengasihi Allah di atas segala-galanya dan mengasihi sesama sebagaimana Tuhan Yesus mengasihi kita.

Pemimpin agama-agama di Provinsi Papua, yang bergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), sejak pertengahan 2019 membentuk kegiatan doa dan puasa bersama. Yang menjadi intensi kegiatan rohani itu adalah untuk damai di Tanah Papua. Sudah bertahun-tahun FKUB menyerukan dan melakukan banyak kegiatan untuk membangun damai. Namun usaha-usaha itu belum berbuah banyak. Belakangan ini, di dalam masyarakat kita, suasana yang damai malah semakin redup. Tindakan-tindakan kriminal bertambah, perjuangan aspirasi politik dan kepentingan golongan semakin sering disertai dengan tindak kekerasan, penyakit-penyakit sosial semakin banyak; tidak adanya rasa saling percaya tetapi justru gampang curiga dan berprasangka buruk satu terhadap yang lain.

Semua itu membuat kita semakin yakin bahwa damai yang sejati memang bukan hasil usaha manusia. Damai yang sejati itu adalah anugerah Tuhan, dan tidak akan menjadi nyata dalam hidup kita kalau kita mau bangun  hanya dengan kekuatan manusia. “Kalau bukan Tuhan yang menjaga kota sia-silah kamu bangun pagi-pagi” (Mz.127:1). Damai sejati adalah anugerah Kristus yang bangkit. Pada hari Kebangkitan-Nya ketika Ia memperlihatkan Diri kepada para rasul, Ia  menyalami mereka dengan berkata: ”Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu” (Yoh 14:27 ). Anugerah Tuhan itu menjawab kerinduan semua manusia karena semua makhluk ingin hidup damai. Kita harus membuka hati kita untuk menerimanya. Dengan berdoa memohon damai kita menyatakan kepada Tuhan betapa kita merindukan damai dan mohon agar Dia membantu kita dalam mewujudkan damai itu.

Para pemimpin agama-agama dalam FKUB Provinsi Papua menyadari betapa perlu berdoa bersama memohon damai. Mereka menyatakan niat dan seruan kepada penganut agama-agama agar melakukan doa dan puasa bersama untuk  damai bagi Papua. Disarankan agar ditetapkan satu hari yang sama untuk semua, walaupun dilaksanakan di rumah ibadat/komunitas sendiri-sendiri. Maka dalam masa tobat ini baiklah kita menanggapi ajakan yang luhur itu dengan berdoa dan berpuasa untuk maksud khusus itu. Kami tetapkan agar setiap hari Jumat kita berdoa untuk damai di Tanah Papua. Doa itu bisa dilaksanakan waktu perayaan Ekaristi, maupun waktu kita merenungkan sengsara Tuhan dalam “Jalan Salib”.

Sesudah Paskah kita tetap meneruskan doa dan puasa untuk damai di Papua pada setiap hari Jumat Pertama dan Sabtu Pertama dalam bulan. Mengapa Jumat Pertama dan Sabtu Pertama?  Sebab dalam tradisi katolik, pada Jumat Pertama ada devosi khusus kepada Hati Kudus Yesus dan Sabtu Pertama devosi kepada Hati tersuci Bunda Maria. Kita mohon agar damai dari Tuhan dituangkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus. Dan dari hati itu kemudian memancar keluar damai dalam kata, perbuatan dan cara hidup kita. Yesus mengajak kita untuk datang kepada-Nya dan belajar dari Dia: ”Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan”(Mat 11:29). Kita datang kepada Yesus agar Dia mengubah hati kita yang keras menjadi lembut dan suka damai; agar kebencian dan diskriminasi ras dilenyapkan; dan agar ditumbuhkan persahabatan serta persaudaraan antara semua manusia di Tanah Papua. Kita datang ke Bunda Maria agar dia mendekatkan kita kepada Yesus dan agar kita menerima Yesus sebagai damai sejahtera bagi kita semua. Doa berikut ini bisa dipakai bersama pada hari-hari Jumat yang ditetapkan di atas entah dalam Misa atau dalam kegiatan doa bersama lainnya seperti dalam keluarga atau KBG. Kegiatan dan doa dan puasa bersama untuk intensi khusus ini kita jalankan selama sembilan bulan, dari awal Maret sampai akhir November 2020

Doa Mohon Damai Bagi Papua   

Tuhan Yesus, Engkaulah Damai Sejahtera kami.

Engkau sudah mendamaikan kami dengan Bapa surgawi

dan merubuhkan tembok-tembok pemisah antara kami.

Semoga damai-Mu menyatukan kami menjadi saudara satu sama lain.

Kami yang berdiam di Tanah Papua ini sudah menerima Injil-Mu

yang mempersatukan kami semua

dalam hidup yang rukun dan damai.

Bantulah kami menjauhkan konflik dan perselisihan,

Persaingan kuasa dan kecongkakan hati

Agar kami dapat menjadi pembawa damai.

Engkau mengajak kami untuk belajar pada-Mu

karena Engkau lembut dan rendah hati.

Maka kami datang kepada-Mu

dan menimba dari hati-Mu kelembutan dan kerendahan.

Ubahlah hati batu yang keras menjadi hati dari daging yang lembut,

yang bisa tergerak dan terharu oleh sesama yang lemah. 

Ajarilah kami untuk menerima yang lain sebagai saudara,

dan janganlah perbedaan suku, agama atau politik

Memecahbelah persaudaraan kami.

Perbaruilah hati semua pelayan masyarakat

agar mereka melayani dengan hati

siapa saja yang Engkau percayakan kepada mereka.

Bunda Maria yang lembut dan rendah hati

jadilah Ibu bagi kami

dan bantulah kami menghadirkan dan mewartakan

bahwa Yesus adalah damai sejahtera kami.

Demi Dia kami mau bersaudara dengan semua orang.

Bapa Kami.

Salam Maria.

Kemuliaan.

Leo Laba Ladjar, OFM

Uskup Jayapura.

Dikirimkan kepada:

para Pastor Paroki,

Komunitas Basis Gerejawi,

Komunitas para Relgius,

seluruh umat sekeuskupan Jayapura.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini