Belajar Mencoba Berbagai Alternatif, Cara Agustinus Gereda

0
9
Agustinus Gereda

Orang yang kreatif dan inovatif akan selalu berusaha untuk mengubah cara pandang (sebagaimana ditulis oleh Gereda 2015 “Belajar Mengubah Cara Pandang Berani Memberi Kesempatan”) dan berpikir di luar kebiasaan (think out of the box). Dua sikap kreatif dan inovatif ini tidak hanya berasal dari gagasan yang luar biasa, bahkan dari ide-ide yang kecil dan sederhana sekalipun.

Ide atau gagasan yang sederhana dapat membawa pengaruh yang besar dalam kehidupan manusia, jika hal tersebut diwujudkan dalam sebuah praktik yang nyata, termasuk kehidupan di dunia pendidikan (guru dan dosen). Untuk memperoleh hasil yang memadai, kita berusaha belajar mencoba berbagai kemungkinan (alternatif) untuk memotivasi peserta didik. Mencoba! Mencoba! Dan mencoba!

Berikut ini adalah salah satu alternatif pemikiran Agustinus, pengajar di Universitas Musamus Merauke,dituangkan berdasarkan pengalaman mempraktikkan kreativitas dan inovasi. Tulisan ini pernah dimuat dalam Seri KAPUR & PAPAN 4, “Kisah Guru-Guru Pembelajar”, Lingkarantarnusa Yogyakarta (2015: 123-129).

BELAJAR MENCOBA BERBAGAI ALTERNATIF

Oleh : Agustinus Gereda

Orang yang menempu pendidikan tinggi tentu berniat untuk menyelesaikan studi pada waktunya. Niat tersebut perlu didukung oleh beberapa faktor, di antaranya kemampuan akademik, disiplin pribadi, biaya, dan motivasi. Hal yang disebutkan terakhir ini sering dilupakan, baik oleh orang tua atau wali maupun pihak perguruan tinggi.

Bila dibandingkan dengan yang dahulu, mahasiswa sekarang hidup dalam kemudahan, bahkan kecukupan. Banyak hal telah tersedia sehingga tinggal dimanfaatkan dan dinikmati. Akan tetapi, kemudahan tersebut dapat menjadikan manusia terikat pada materi. Bahkan, manusia telah menjadi hamba dari tiga monitor, yaitu televisi, HP, dan komputer. Lihat saja apa yang dilakukan mahasiswa setiap hari di kampus. Kalau bukan mengobrol dengan teman, sudah pasti setiap orang sibuk dengan HP-nya masing-masing. Kalau toh ada yang buka laptop, paling banter digunakan untuk bermain facebook atau twitter. Di rumah, mereka mungkin sibuk menonton acara kesukaannya di TV.

Keterikatan pada materi serta penghambaan kepada monitor itu, sadar atau tidak, dapat menjerumuskan mahasiswa ke dalam jurang kehancuran. Betapa tidak! Banyak waktu yang terbuang percuma, tugas akademik tertumpuk karena kebiasaan menunda, perpustakaan menjadi ruang yang sepi karena hampir tidak ada pengunjung, lorong-lorong kampus didominasi oleh musik via HP mahasiswa, ruang kelas menjadi ajang bercerita saat tidak ada perkuliahan, dan seterusnya.

Apa yang terjadi menjelang visitasi akreditasi? Mahasiswa “disetel” sedemikian agar memenuhi apa yang dipersyaratkan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Mereka diwajibkan hadir di kampus dan berbuat seolah-olah mereka biasa belajar dan berdikusi. Mereka diwajibkan pula untuk melakukan kegiatan ekstrakurikuler, seperti pramuka, futsal, basket, paduan suara pada saat kunjungan asesor.

Luar biasa! Kita pandai bermain topeng untuk menutup kepalsuan. Lalu, di mana kejujuran itu, yang merupakan salah satu butir pendidikan karakter? Terkadang orang berdalih, “Kita boleh menipu asal demi kebaikan bersama”. Akan tetapi, kalau penipuan menjadi suatu kebiasaan, hati nurani bisa tumpul. Orang tidak lagi membedakan mana yang benar, mana yang salah. Bahkan, terjadi penjungkirbalikan fakta. Yang benar menjadi salah, yang salah menjadi benar.

Kondisi di atas rupanya sedang menimpa kampus-kampus kita di tanah air, tidak terkecuali Universitas Musamus Merauke. Suasana tersebut menggambarkan adanya ketimpangan yang patut mendapat perhatian serius. Orang tua atau perguruan tinggi, dalam hal ini fakultas dan jurusan/program studi perlu digugat. Pasalnya, banyak mahasiswa lebih berlaku santai, masa bodoh, dan hura-hura. Akibatnya, studi tidak dilakukan secara rutin, tugas akhir tidak selesai-selesai, yudisium dan wisuda tertunda.

Di Universitas Musamus, mahasiswa pada umumnya lancar-lancar bergulir dari semester ke semester. Hanya yang menjadi masalah adalah saat mereka menyusun rancangan penelitian atau proposal. Kesulitan pun mulai dirasakan, di antaranya pemilihan topik penelitian, teori apa yang harus digunakan, dan seterusnya. Padahal bekal yang diberikan cukup memadai, misalnya melalui mata kuliah seperti Menulis, Menulis Karya Ilmiah, Metode Penelitian, Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dan sebagainya. Lalu, apa yang masih kurang? Apanya yang salah?

Sejauh ini, mahasiswa rupanya sedang mengalami ‘dilema’ ketika harus memilih satu dari berbagai tawaran. Bahkan mereka sedang berada dalam ‘keterpecahan batin’, sementara mereka belum mampu menolong diri mereka sendiri. Dalam kondisi demikian, mereka butuhkan dukungan berupa motivasi, setidak-tidaknya dari program studi ataupun dosen. Mereka membutuhkan orang yang mau memahami keadaan mereka, yang kemudian memberikan dorongan atau motivasi. Sisi inilah yang barangkali DILUPAKAN, kalau tidak mau disebut diabaikan.

Apakah sudah dilakukan upaya untuk memotivasi mahasiswa? Apakah dosen berani berbeda ataukah mengikuti saja apa yang ada? Lebih dari itu, apakah dosen berani mengambil risiko? Persoalan tersebut sudah lama menjadi refleksi dan pergumulan pribadi.

Berikut, beberapa kiat yang saya lakukan selama ini. Tidaklah berlebihan, pengalaman tersebut ingin saya share. Apa yang saya lakukan itu adalah modifikasi sebuah proses filosofis yang berasal dari pemikiran Hegel (1770-1831), yaitu tesis-antiteis-sintesis. Melalui proses tersebut, saya belajar untuk mencoba dan mencoba berbagai alternatif. Setiap tesis yang telah diajukan tidak relevan lagi sehingga perlu dilawan (antitesis), kemudian menghasilkan tesis yang baru (sintesis), dan seterusnya.

Barangkali saya mulai dengan mengatakan bahwa tidak cukup hanya berharap, tetapi kita perlu “memaksa” mahasiswa. Tentu saja dilakukan dengan syarat bahwa kita secara tulus ingin membantu mahasiswa. Tidak ada tujuan selebihnya. Ketulusan hati akan terbaca oleh mahasiswa melalui pancaran wajah kita. Dengan kata lain, hati yang tulus dapat “menundukkan” mahasiswa sehingga secara moril mereka mampu “menerima” apa pun yang kita katakan. Apalagi antara mahasiswa dan dosen sudah terjadi apa yang dalam sosiopragmatik disebut ‘prinsip kerja sama’, saling tahu. Jadi, mereka sudah tahu apa yang kita maksudkan.

Ketika banyak mahasiswa tidak segera memasukkan topik penelitiannya, saya “mengancam” akan mengejar mereka dengan menggunakan kampak. Inilah salah satu cara penuturan yang biasa dilakukan di Papua. Alhasil, semua mahasiswa dapat memasukkan topik penelitian mereka tanpa merasa tertekan sedikit pun. Dari total 80 mahasiswa, 63 orang dinyatakan berhasil dan diwisuda tepat waktu tahun 2013.

“Terima kasih atas dukungan Bapak”, ucap beberapa mahasiswa yang merasakan dan mengalami pernah diberi motivasi.

“Tidak ada yang mustahil bagi siapa yang berusaha melalui perjuangan dan perngorbanan. Syukurlah, satu babak kehidupan telah dilewati. Puji Tuhan! Selamat memasuki babak berikutnya.”

Dengan berlandaskan ketulusan hati pula, saya melemparkan pernyataan bahwa mahasiswi yang sedang menyelesaikan skripsinya “dilarang” hamil. Aneh! Saya sadar bahwa pernyataan kontroversial itu akan mengandung risiko. Sudah pasti, pelanggaran terhadap salah satu hak asasi manusia, yaitu menikah dan memiliki keturunan.

Akan tetapi lagi-lagi, pernyataan tersebut masih dalam koridor sosiopragmatik. Dengan demikian, maksud di balik pernyataan tersebut sudah mereka pahami. Tahu sama tahu! Bukankah dalam profesi lain seseorang perlu menunda pernikahannya demi cita-cita yang ingin diraihnya?

Bila seorang mahasiswi hamil (karena pernikahan sah ataupun tidak) dan melahirkan anak, dia akan lebih mengutamakan anak daripada menyelesaikan studinya. Terpaksa harus mengambil cuti akademik karena tidak ada cuti hamil dan cuti melahirkan bagi mahasiswa. Hal itu berarti, penyelesaian studi tertunda untuk satu atau dua semester, dan berdampak pula pada soal biaya perkuliahan.

Seorang mahasiswa sebaiknya membuat rencana, dan memiliki niat yang kuat untuk melaksanakan rencana tersebut. Dia harus mempertimbangkan secara matang dan menetapkan: menyelesaikan studi atau menikah. Setiap pilihan yang dijatuhkan selalu mengadung risiko. Artinya, bila memilih studi berarti menikah dikorbankan. Sebaliknya, bila memilih menikah berarti studi dikorbankan.

Berkaitan dengan rencana tersebut, mahasiswa harus menuliskan kalimat misalnya, “Saya akan diwisuda pada November 2024”. Tulisan itu dibuat dengan ukuran besar dan dapat disimpan di tempat-tempat yang strategis, seperti dalam buku harian, di ruang belajar pribadi, bahkan di ruang tamu. Tulisan itu akan selalu mengingatkan mahasiswa sehingga tetap fokus pada rencana dan niatnya. Dengan kata lain, setiap kali membaca tulisan yang berisi rencana tersebut, otaknya dikerahkan dan dikonsentrasikan untuk selalu berupaya menyelesaikan studi pada waktunya. Sebagai praktiknya, banyak mahasiswa telah menuliskan rencananya masing-masing sejak tahun 2014. Mudah-mudahan tercapailah apa yang direncanakan!

Motivasi tidak hanya berhenti pada kata-kata, tetapi disertai pula tindakan konkret. Kiat yang dilakukan adalah memungkinkan mahasiswa untuk berkonsultasi mengenai tugas-tugas, misalnya ujian tengah semester (UTS), ujian akhir semester (UAS), dan proposal skripsi. Tugas makalah sebagai pengganti UTS atau UAS, misalnya perlu dikonsultasikan dengan dosen. Tujuannya agar mahasiswa mengetahui apa kelebihan dan kekurangannya sehingga dapat memperbaikinya sebelum final. Terkadang ditemukan ada mahasiswa yang mengambil begitu saja hasil pekerjaan orang lain melalui internet, misalnya hasil penelitian tindakan kelas (PTK). Kalau terjadi begitu, mahasiswa diminta untuk mengerjakan ulang tugasnya; jika tidak, sanksinya adalah diberi nilai E. Inilah salah satu petunjuk bahwa kejujuran harus dijunjung tinggi. Mahasiswa perlu disentil kesadarannya bahwa dia akan lebih dihargai apabila mampu mengerjakan tugasnya sendiri sekalipun tidak sempurna.

Hal utama yang dibutuhkan adalah proses seorang mahasiswa mengerjakan tugasnya, baru kemudian hasilnya. Orang selamanya berjalan melalui proses, bahkan proses itu panjang dan melelahkan. Hasilnya mungkin memuaskan, mungkin pula belum memuaskan. Jika hasilnya belum memuaskan, proses itu perlu diulang, bahkan mungkin berulang-ulang. Kata orang bijak, “Ulangan adalah ibu dari orang yang sedang belajar” (repetitio est mater studiorum). Dengan begitu, seorang mahasiswa tidak boleh memetik hasilnya tanpa melewati proses menabur dan merawat.

Kegiatan pendampingan mahasiswa tersebut membutuhkan waktu yang tidak sedikit karena ada ratusan mahasiswa yang antre. Walaupun demikian, kegiatan tersebut benar-benar menguji mutu pelayanan saya kepada mahasiswa. Apakah saya bersedia? Akan tetapi dengan cara begitu, saya dapat mengenal banyak mahasiswa beserta segala keunikannya masing-masing. Lebih dari itu, saya sendiri diperkaya oleh mahasiswa. Semua orang, termasuk dosen bukanlah manusia yang sempurna sehingga perlu saling mengisi, saling melengkapi.

Keberhasilan seorang mahasiswa tidak selalu ditentukan oleh kemampuan akademik ataupun biaya yang memadai. Ada banyak mahasiswa yang menerima beasiswa. Apalagi yang menerima beasiswa Bidikmisi, tentu tidak mengalami kesulitan karena ada uang saku cukup lumayan setiap bulan yang langsung masuk ke rekeningnya. Akan tetapi, beasiswa belum tentu menjamin. Ternyata, ada penerima beasiswa yang tidak masuk kuliah, tidak menyelesaikan tugasnya, hidupnya santai saja. Lalu, persoalannya apa?

Persoalannya bukan terletak pada kemampuan akademik maupun tersedianya beasiswa. Sebagaimana disebutkan di awal bahwa dalam situasi keterpecahan batinnya, mahasiswa membutuhkan pendampingan, pencerahan, malah tantangan. Melalui pendampingan yang disertai tantangan, mahasiswa diharapkan dapat menjatuhkan pilihan secara tepat. Artinya, pilihan itu dilakukan setelah melewati proses pertimbangan yang matang, logis, jujur, dan bertanggung jawab.

Lalu, siapa yang memberikan motivasi tersebut? Yang bisa memberikan motivasi, antara lain dosen pendamping akademik, ketua program studi, para dosen lainnya, dan tentu saja orang tua atau wali. Sejauh ini, semua komponen yang disebutkan itu belum maksimal dalam memberikan pendampingan. Hal ini terjadi bukan karena tidak tersedianya kesempatan, melainkan karena mahasiswa sendiri tidak menemui dosennya. Bisa jadi mahasiswa belum menyadari manfaat dan tujuan pendampingan tersebut.

Bagi kita di Papua, dosenlah yang harus proaktif sambil berharap dan berusaha agar suatu ketika mahasiswalah yang proaktif. Pengalaman memotivasi siswa secara kontroversial tadi mungkin bisa dijadikan acuan, sekalipun tidak diterima oleh semua dosen. Apalagi menggunakan cara sosiopragmatik yang membutuhkan penafsiran terhadap setiap tuturan dan/atau pernyataan.

Dalam memberikan motivasi, seorang dosen harus belajar mencoba, mencoba, dan mencoba berbagai kemungkinan. Bahkan mungkin alternatif yang aneh, kontroversial sekalipun. Asal dosen berani berbeda, kritis, dan kreatif berikut memahami apa yang dibutuhkan mahasiswa sekarang. Mungkin inilah PR yang masih harus diperjuangkan. Kegiatan memotivasi mahasiswa merupakan bagian dari tugas dosen yang tak terpisahkan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat). Apa pun kondisinya, apa pun caranya, mahasiswa membutuhkan motivasi.

Selamat mencoba!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini