Bantuan, Tak Sekadar Hanya “Maksud Baik”

0
11
Foto ilustrasi

Oleh :Agustinus Gereda *)

Orang yang memberi bantuan (donator) terkadang tidak melihat kebutuhan penerima bantuan. Yang penting bisa berbuat baik! Padahal bantuan itu belum tentu menjawab kebutuhan orang. Jika hal ini yang terjadi, maka bantuan tersebut mubazir dan/atau tidak tepat sasar.

Agustinus Gereda

Adalah seekor kera yang bersahabat dengan ikan-ikan di sebuah aliran sungai. Kera sering memberi makan kepada ikan-ikan itu. Ketika akan hujan, kera memperingatkan ikan-ikan itu, agar berhati-hati, karena sebentar lagi pasti banjir. Ketika banjir tiba, kera segera menangkap ikan-ikan tersebut, dengan maksud agar tidak dihanyutkan banjir. Lalu, ikan-ikan itu diletakkan di celah cabang pohon. Sayang sekali, beberapa saat kemudian, kera terkejut dan sedih. Ternyata ikan-ikan yang ditolongnya itu sudah mati.

Fabel ini mengandung pesan bagi kita. Ternyata maksud baik saja tidak bisa menjadi satu-satunya ukuran. Maksud baik harus didukung pula oleh rumusan yang tepat mengetahui kebutuhan. Dengan kata lain, bantuan dilakukan, bukan terutama demi maksud baik, tetapi demi terpenuhinya kebutuhan orang yang mengalami kesulitan. Kera dalam cerita tadi bermaksud baik, yaitu supaya ikan-ikan, sahabatnya itu, dapat terhindar dari bahaya banjir. Tetapi, kenyataan yang terjadi justru sebaliknya.

Dalam masyarakat kita, dapat dijumpai banyak kasus serupa. Demi maksud baik, pada masa orde baru dibangun berbagai infrastruktur dengan label “Instruksi Presiden” atau Inpres seperti SD Inpres, Pasar Inpres, dan Inpres Desa Tertinggal. Malah, banyak sekolah swasta yang dikelola oleh komunitas keagamaan seperti Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK), Yayasan Pendidikan Kristen (YPK), Yayasan Pendidikan Islam (YAPIS) di-Inpres-kan begitu saja demi maksud yang baik tadi.

Padahal tercatat dalam sejarah, sekolah-sekolah tersebut justru merupakan pioner pembangunan pendidikan di wilayah Papua. Sikap dan tindakan ini belum tentu menjawab semua persoalan sampai tuntas. Malah, hal itu mematikan sektor swasta, berikut mencaplok peran masyarakat sebagai mitra pemerintah, serta menghambat tumbuhnya sikap kritis, kreatif, dan inovatif.

Pemerintah cenderung melaksanakan program perbaikan jalan raya yang ada di kota kabupaten, misalnya, padahal belum begitu urgen. Sebab, masyarakat di kota masih dapat menikmati jalan yang lumayan bagus. Sementara masyarakat di desa-desa terpencil menderita karena pembangunan jalan yang memadai jauh panggang dari api. Mereka membutuhkan dan merindukan akses jalan, demi kepentingan pemasaran hasil bumi dan pertanian mereka.  

Sekolah merasa perlunya dana untuk pelajaran tambahan sore hari. Hal ini tentu demi kebaikan siswa itu sendiri. Namun persoalannya, banyak siswa yang tidak hadir. Apakah siswa malas?  Mungkin benar, tetapi mungkin juga mereka belum menyadari kebutuhan akan adanya program pengayaan tersebut. Risikonya, sekolah terpaksa “mengatur” nilai ujian sedemikian, agar dana yang telah diterima dapat dipertanggung-jawabkan ke atas.

Masyarakat kecil diberi bantuan dana untuk membuka usaha, seperti kios, demi peningkatan hidup ekonominya. Namun, selang beberapa waktu kios ditutup selamanya. Mengapa demikian?  Pertama, belanja dari kaum kerabat dan sahabat tanpa bayar tunai. Kedua, belum siap untuk masuk dalam dunia bisnis. Jadi, dibutuhkan proses transformasi yang tentu memakan waktu yang lama.

Kiranya bantuan tadi akan lebih cocok untuk usaha-usaha lain yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat sesuai dengan tuntutan lingkungan sosial budayanya, tanpa merasa ketinggalan di tengah-tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi.

Apakah boleh memberi bantuan uang kepada anak-anak jalanan (“anak aibon”)? Tentu saja boleh. Tetapi, uang yang kita berikan itu dipergunakan untuk membeli minuman keras (miras) dan/atau lem aibon lagi. Miras menyebabkan mabuk dan berpeluang menyebabkan kekacauan; lem aibon menyebabkan kecanduan. Jadi, bantuan dengan maksud baik tadi, ternyata disalahkangunakan, tidak tepat sasar.

Orang tua memberi bayinya nasi, atau buah apel, demi kasih sayang. Padahal sistem pencernaan bayi belum beradaptasi terhadap makanan yang keras. Dalam hal ini sang bayi membutuhkan susu dan bubur, bukan nasi ataupun buah apel yang keras.

Foto ilustrasi

Contoh-contoh maksud baik di atas kiranya dapat ditambah sendiri oleh para pembaca. Yang mau ditekankan di sini adalah bahwa bantuan apa pun harus dapat menolong mengembangkan inisiatif pribadi dan kreativitas orang yang menerima bantuan. Artinya, orang yang dibantu perlu punya target bahwa suatu ketika mereka harus bisa mandiri, tanpa mengharapkan bantuan sepenuhnya dari orang lain.

Tidak cukup hanya dengan maksud baik. Ikan-ikan dalam cerita tadi justru dibawa ke tempat lain yang justru tidak cocok dengan lingkungan sosialnya sehingga mati. Masyarakat perlu diberi kepercayaan untuk mengatur rumah tangganya sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan lingkungan sosial budayanya, tanpa dibebaskan dari rasa tanggung jawab. Dengan kata lain, maksud baik hendaknya “tidak memadamkan sumbu yang berkedip-kedip” atau “mematahkan batang gelagah yang terkulai”.

Mengapa sering maksud baik kita kurang berhasil?  Mengapa sering maksud baik kita menjadi “racun” bagi sahabat kita sendiri?  Kerap orang menyangka bahwa kesulitan si kecil, si miskin atau si lemah dapat diatasi jika si kaya, si penguasa atau si kuat turun untuk membantu. Ternyata ikan-ikan di sungai tadi mati. Bukan karena si kera tidak mau turun dan menolong, tetapi maksud baik kera itu bertentangan dengan kebutuhan ikan-ikan di sungai, yang justru mampu berenang dan hidup di dalam banjir. Persoalannya terletak pada masalah komunikasi. Yang menerima bantuan, karena dianggap tidak mampu, lupa diberi kesempatan untuk merumuskan apa yang menjadi kebutuhan mereka.

Aspek sosial budaya tersebut hendaknya menjadi prioritas dalam pertimbangan para pengambil keputusan, agar kebutuhan masyarakat sungguh-sungguh dipenuhi. Saatnya tiba masyarakat diberi kesempatan untuk merumuskan sendiri kebutuhan mereka. Sebab, masyarakat mana pun, siapa pun dia, pasti lebih tahu tentang persoalan dan kebutuhan mereka sendiri. Lebih dari itu, diperlukan target kapan mereka bisa mandiri, tanpa banyak campur tangan dari pihak yang berkepunyaan.

*) Agustinus Gereda: Alumnus STFK Ledalero Flores (1986) & Universitas Hasanuddin Makassar (2010); Mengajar di Universitas Musamus Merauke (2006 – sekarang)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini