Corona, Kita dan Pilihan Menjadi Orang Baik

1
82
Karl Karoluz Wagab Meak

Oleh: Karl Karoluz Wagab Meak

KETIKA dunia sedang sibuk menghadapi bahaya pandemi global Covid-19, kita dituntut untuk menjadi orang baik hari ini. Dalam sejarah umat manusia, menjadi orang baik adalah sebuah cita-cita dan pilihan paling mulia.

Ini pilihan, karena tawaran menjadi orang baik datang bersamaan dengan kebalikannya. Ia menjadi cita-cita karena menjadi orang baik adalah sebuah perjalanan panjang dan pembuktian diri tanpa lelah seorang manusia. Ia tak datang secara begitu saja. Butuh perjuangan agar dapat digapai.

Menjadi orang baik adalah prestasi terbesar manusia dalam sejarah peradabannya. Tentu pilihan ini adalah panggilan murni manusia untuk menjadi manusia utuh. Titik ini merupakan strata paling tinggi manusia sebagai manusia.

Defenisi menjadi orang baik sangatlah sederhana, yaitu dengan tidak merugikan orang lain.

Beberapa menit sebelum saya menulis tulisan ini, saya berbincang dengan seorang teman.

Ia berbicara mengenai komunitas religiusnya yang kesulitan mendapatkan hand sanitizer untuk digunakan di tempat ibadahnya pada hari minggu nanti. Ia kesal bahwa usulannya yang diusulkan jauh-jauh hari tak ditanggapi secara serius oleh pengurus komunitas.

Menurutnya, saat ini hand sanitizer telah habis di toko-toko yang mereka cari. Ia lanjut bercerita tentang pimpinan komunitasnya juga belum memutuskan untuk membatalkan ibadah hari minggu besok. Ibadah akan tetap akan dilakukan.

Setelah mendengar cerita itu saya langsung protes. Saya katakan, cobalah menjadi komunitas yang baik. Dengarlah pemerintah sebab mereka sedang berjuang dengan segala kemampuan, baik dengan kelebihan maupun kekurangan melawan kondisi saat ini.

Bagi saya, sebaiknya komunitas religious tidak melalukan ibadah atau perayaan apapun sesuai anjuran pemerintah. Sudah ada himbauan untuk tidak berkumpul. Upacara keagamaan sebisa mungkin dicari bentuk yang aman dan ideal tanpa mengurangi substansinya.

Kita tahu komunitas religius tak bisa diintervensi. Ia lembaga yang otonom. Namun, demi kemanusian dan keselamatan umat manusia, pemerintah perlu didengar.

Banyak cara untuk menjadi orang dan komunitas baik saat ini. Paling sederhana dengan tidak keluar rumah (social distancing). Itu tindakan kecil yang memiliki dampak yang luar biasa.

Selain itu pilihan social distancing merupakan sebuah usaha untuk bersolider dengan para medis yang saat ini sedang berada digaris depan berjuang dan melawan Covid-19.

Belajar dari Shincheonji Cruch of Jesus

Saatnya, komunitas religious belajar dari apa yang terjadi pada komunitas Shincheonji Cruch of Jesus  di Korea Selatan.

Merujuk rubrik Internasional koran Kompas edisi Jumat 20 Maret 2020, “Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Korea Selatan, Kamis (19/3/2020) menyebutkan jumlah kasus positif Covid-19 di Korsel sebanyak 8.565 kasus. Mayoritas dari kasus itu, 60 persen terkait dengan kelompok kepercayaan Shincheonji Cruch of Jesus.”

“Perkumpulan Shincheonji kala itu diselenggarakan di Daegu dan dihadiri ratusan orang. Ironisnya, Lee (pemimpin komunitas) melarang jemaatnya menggunakan masker, bahkan mewajibkan mereka tetap menghadiri perkumpulan meski sedang dalam kondisi sakit” (Tirto.id).

Setelah diidentifikasi dan diketahui penyebaran virus di Korea Selatan memiliki hubungan dengan Shincheonji Cruch of Jesus. “Lee Man-hee, pemimpin Shincheonji Cruch of Jesus berlutut dan membungkuk disebuah konferensi pers untuk meminta maaf” (www.bbc.com)

Kita tidak ingin ada komunitas religious yang ceroboh, lalu dikemudian hari pemimpinnya berlutut dan memohon maaf seperti yang dilakukan oleh Lee Man-hee, karena menganggap remeh masalah ini.

Saatnya aktivitas komunal ditiadakan dalam rangka melawan penyebaran Covid-19.

Hasil permodelan matematik yang dilakukan oleh Pusat Permodelan Matematika dan Simulasi (P2SM), Program Studi Matematika, Institut Teknologi Bandung (ITB), menunjukan puncak epidemi akan berakhir pada akhir Maret 2020. Sedangkan akhir epidemi akan terjadi pada pertengahan April 2020. Jumlah kasus maksimal lebih dari 8.000 kasus di Indonesia. Estimasi ini perlu membuat kita mawas diri.

Tentu ini waktu yang lama. Namun saya merasa tak bisa melakukan apapun saat ini untuk membantu pemerintah dan bersolider dengan para medis kecuali dengan melakukan social distancing.

Social distancing tidak hanya mengajarkan kita untuk menghitung hari. Tapi juga mengajak kita untuk merenungkan kembali makna menjadi orang baik. Lalu memberi konteks pada pemahaman ini.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini