Solidaritas

0
19
Karl Karoluz Wagab Meak

“Kita harus mengubah hidup, sekarang juga. Solidaritas adalah kewajiban kita bersama.” – Presiden Jerman, Frank Walter Steinmeier (dikutip dari media Jerman Deutsche Welle, oleh harian Kompas).

Oleh: Karl Karoluz Wagab Meak

SOLIDARITAS dalam Oxford Learner’s Dictionary berasal dari kata “solidarity” yang artinya, “support by one person or group of people for another because they share feelings, opinions, aims, etc.” – Dukungan satu orang atau kelompok orang kepada yang lain, atau satu sama lainnya karena memiliki kesamaan perasaan, pendapat, tujuan, dan sebagainya.”

Menurut Oxford Dictionary, istilah solidarity ini berasal dari bahasa Perancis; solidarité dan solidaire pada pertengahan abad ke 19. Sedangkan dalam penjalasan etymologeek.com; solidarity berasal solidarité dan solidaire (Perancis), namun istilah Perancis ini datang dari bahasa latin yaitu “solidus.”

Dalam bahasa Indonesia, solidarity diserap menjadi solidaritas.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) Edisi Keempat memberi arti mengenai solidaritas yaitu: sifat (perasaan) solider; sifat satu rasa (senasib); perasaan setia kawan. Kata solider sendiri berarti memperlihatkan perasaan bersatu; senasib; setia kawan.

Akhir-akhir ini kata solidaritas sangat bermakna bagi kita semua untuk menghadapi kondisi dunia saat ini. Solidaritas menjadi semacam ‘key word’. Banyak orang diminta untuk bersolider dengan sebuah tindakan untuk bersatu dan kompak guna menghadapi disrupsi global yaitu Covid-19.

Dari banyak tempat di belahan dunia, para pemimpin mengirimkan pesan pentingnya membangun solidaritas demi kemanusiaan. Solidaritas ditingkat global dan lokal harus menjadi sebuah gerakan bersama. Solidaritas merupakan suatu pesan moral yang juga harus berujung dengan tindakan moral.

Xiao Qian, Duta Besar Republik Rakyat Cina untuk Indonesia dalam tulisannya Selasa 17 Maret di Harian Kompas berjudul: Solidaritas dan Kerja Sama untuk Mengalahkan Pandemi, menulis; “Solidaritas dan kerja sama adalah senjata China melawan korona. Masyarakat China tidak ingin berpangku tangan melihat tanah airnya dilanda bencana.”

Beberapa hari setelah tulisan Xiao Qian, Budiman Tanuredjo pada harian Kompas edisi Sabtu 21 melalui tulisannya “Ujian Kebersamaan dan Kewarasan” memberi kesimpulan mengenai tulisan Xiao Qian: “itulah gotong royong.”

Di China, di negara komunis itu, semua orang menunjukan solidaritasnya dengan banyak cara dan kemampuannya masing-masing. Xiao Qian bahkan melihat adanya perasaan bersatu masyarakat dan solidaritas antara negara didunia.

“Pandemi Covid-19 telah membuktikan bahwa takdir semua negara adalah saling terkait. Masyarakat adalah komunitas dengan masa depan bersama yang tidak terlepas satu sama lain. Hanya dengan solidaritas dunia bisa memenangi pandemi ini” tulisnya.

Frank Walter Steinmeier, Presiden Jerman menekankan pentingnya makna solidaritas kepada warganya untuk menghadapi Covid-19 sebagai bahaya global saat ini. Mengutip dari media Jerman Deutsche Welle, harian Kompas memberitakan bahwa Steinmeier mengajak warganya agar bersolider.  “Kita harus mengubah hidup kita sekarang juga. Solidaritas adalah kewajiban kita bersama kita.”

Lee Hsien Loong, Perdana Menteri Singapura dalam pidatonya menyampaikan bahwa hal yang paling fundamental adalah Singapura sebagai bangsa akan melewati ini dengan bersatu dan gotong royong.

Edouard Philippe, Perdana Menteri Perancis, memohon warganya untuk bersolider dengan cara yang tak romantis. “Jika kamu mencintai seseorang, kamu harus menghindari untuk memeluknya.” Tentu ini keganjilan mencinta, tapi itulah solidaritas.

Tidak sampai pada pemimpin negara dunia. Orang-orang terkaya di dunia juga terpanggil untuk melakukan tindakan-tindakan solider. Bill Gates, Jack Ma, dan yang lainnya terpanggil untuk berkontribusi untuk melawan pandemi global ini dengan memberikan kekayaan mereka.

Covid-19 telah menghentikan segalanya. Pada 28 Februari lalu di Genewa Swiss, Badan Kesehatan Dunia (WHO) melalui Direktur Jenderalnya Tedros Adhanom menyatakan bahwa ada 20 kandidat  vaksin. Namun Wuhan akhirnya menang dengan senjata utama yang bernama solidaritas seperti kata Xiao Qian.

Gelombang pandemi yang terjadi di China sekarang telah bergeser dan berada di Indonesia. Kita telah dan sedang memulai apa yang pernah terjadi di China. Saatnya membaca pesan kemenangan yang telah mereka tulis dalam buku perlawanan terhadap Covid-19. Kita telah terlambat memulai namun dapat segera mengakhirinya.

Para pemimpin kita telah mengirimkan pesan yang sama. Saatnya mendengarkan mereka.

Presiden, menteri, gubernur, walikota, bupati, tokoh agama; kiyai, pendeta, monsinyur juga pimpinan universitas, dan semua pemimpin diberbagai tingkatan telah mengirimkan pesan solidaritas dengan berbagai kebijakan. Semua pilihan terbaik telah diberikan.

Saatnya bersolider dengan dunia. Manusia yang bersolider adalah manusia yang tak egois. Dukungan satu orang atau kelompok kepada yang lain sangat kita butuhkan saat ini.

Tentu sikap solider setiap orang berbeda. Seorang kaya akan memberikan sejumlah kekayaan yang ia miliki sebagai bentuk solidaritasnya. Seorang pendoa akan memberikan doa-doa terbaik yang ia miliki. Seorang pejalan kaki dan penikmat keramaian akan berhenti melakukan rutinitasnya karena Covid-19. Inilah solidaritas.

Solidaritas adalah soal panggilan dan peran sesuai dengan kapasitas diri. Solidaritas soal perasaan yang sama namun dengan tindakan yang berbeda untuk mencapai tujuan bersama.

Dunia hari ini adalah dunia yang merana. Melalui bangsa lain dan pengalaman lain kita tak memiliki alternatif lain kecuali: solidus; solidaire; solidarité; solidarity; solidaritas!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini