LIPI : Pengakuan Hak Adat Dukung Pembangunan Berkeadilan

Tukan Ben

TIFFANEWS.COM, – Peneliti Pusat Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dedi Supriadi Adhuri mengatakan pengakuan hak masyarakat adat Papua akan mendukung pembangunan berkeadilan dan berkelanjutan terutama melalui pengelolaan sumber daya alam.

“Pengakuan itu bukan hanya sekadar memberikan hak konstitusional orang Papua tetapi juga sebagai bagian dari strategi untuk menciptakan pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan dengan memanfaatkan dan meningkatkan praktek-praktek pengelolaan sumber daya alam tradisional,” kata Dedi dalam acara Peluncuran Website Dokumentasi Papua dan Diskusi “Empat Dekade Kiprah LIPI di Tanah Papua” secara virtual, di Jakarta, Senin (3/5).

Mama dari Masyarakat Adat Moi Kelim sedang mengancam tas dari kulit kayu di Malaumkarta, Sorong, Papua Barat. (ANTARA/Virna P Setyorini)

Menurut Dedi, itu mengharuskan perubahan kerja-kerja pembangunan yang selama ini top-down ke arah partisipasi dan kolaborasi yang sesungguhnya.

Dedi menuturkan pembangunan baik secara substantif maupun teknis haruslah merupakan kerja bersama dari berbagai pihak utamanya pemerintah dengan komunitas tetapi juga melibatkan pihak-pihak lain.

Kearifan lokal adalah penting dalam pembangunan wilayah dan masyarakat, oleh karenanya posisi komunitas juga tidak lagi diperlakukan sebagai objek tetapi menjadi subjek pembangunan.

Dia mengatakan pengakuan hak-hak masyarakat adat Papua adalah sebuah keniscayaan.

“Jadi pengakuan terhadap komunitas adat dan hak-haknya itu bukan hanya untuk memenuhi hak komunitas tetapi kebutuhan untuk menciptakan pembangunan yang lebih baik, yakni pembangunan yang partisipatif, berkeadilan dan berkelanjutan dilakukan dengan menegosiasikan berbagai kepentingan dan mensinergikan berbagai macam pengetahuan modern maupun tradisional,” ujar Dedi. (ant/*bn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

AJI: Pelaku Kekerasan Terhadap Jurnalis Paling Banyak adalah Polri

TIFFANEWS.COM, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mencatat pelaku kekerasan terhadap jurnalis paling banyak adalah aparat kepolisian. Berdasarkan catatan AJI sepanjang Mei 2020 sampai Mei 2021, dari total 90 kasus kekerasan terhadap jurnalis, sebanyak 70 persen di antaranya dilakukan polisi. “Ada 58 kasus yang terduga pelaku-nya aparat polisi. Tentu ini ironi […]
Instagram did not return a 200.
Translate ยป