Masyarakat Adat Papua Selatan Berhasil Tuntaskan Masalah Dua Prajurit TNI AU

Tukan Ben
Tokoh masyarakat adat Papua Selatan, John Gluba Gebze

TIFFANEWS.Com –  Tokoh Besar masyarakat adat  Anim-Ha Papua Selatan, Provinsi Papua, John Gluba Gebze menegaskan,  salah satu karakter masyarakat asli wilayah adat Anim-Ha Papua Selatan, adalah mampu dan cepat menyelesaikan berbagai permasalahan pelik yang terjadi di tengah kehidupan mereka sendiri, termasuk masalah tindakan kekerasan yang dilakukan dua prajurit TNI Angkatan Udara (AU) di Merauke pada Selasa (26/7) pekan lalu.

Hal itu disampaikan John Gluba Gebze  kepada Tiffanews.com di Merauke, Minggu (1/8) sehubungan dengan telah tuntasnya urusan penyelesaian masalah tindak kekerasan yang dilakukan dua prajurit TNI AU terhadap seorang warga masyarakat setempat pada Rabu (26/7) lalu yang berujung pada keputusan Panglima TNI menggantikan Komandan Pangkalan Angkatan Udara (Danlanud) Johannnes A.Dimara, Merauke  pada Jumat (30/7) dari  Kol.Pnb.Herdy Arief Budiyanto, SE kepada Kol.Pnb.A.Gogot Winardi,ST serta pergantian Komandan Satuan (Dansat)  Polisi Militer Angkatan Udara (Pomau) Lanud JA Dimara, Merauke.

“Salah satu karakter masyarakat adat Anim-Ha adalah tidak suka berlama-lama berada dalam situasi konflik. Jika terjadi masalah, diupayakan cepat diselesaikan secara musyawarah untuk mufakat demi perdamaian, bukan sebaliknya,  bertindak  provokatif, membuat masalah berlarut-larut dan merumitkan masalah,” kata Bupati Kabupaten Merauke periode 2005-2010 itu.

Sikap seperti inilah yang tampak jelas pada permasalahan yang terjadi pada pekan lalu dimana tindakan kekerasan oleh dua oknum anggota TNI AU terhadap salah seorang warga masyarakat adat Anim-Ha dapat segera diselesaikan secara cepat dan damai dalam semangat persaudaraan sejati.

Mungkin saja, jika kasus serupa terjadi di wilayah lain maka masalah itu  akan dipolitisir sedemikian rupa  sehinnga terjadi pertikaian antarwarga, menimbulkan konflik baru  yang lebih rumit lagi yang  menghancurkan nilai-nilai kekerabatan, dan persaudaraan sekaligus  terkoyaknya kerukunan hidup antarwarga  di wilayah Selatan Papua.

John Gluba Gebze berpendapat, terjadinya masalah kekerasan tersebut, membuat semua pihak terutama petinggi TNI akan semakin menyadari bahwa proses penerimaan calon prajurit TNI harus dilakukan secara proporsional dimana putra-putri masyarakat asli Papua dapat diterima untuk mengisi kebutuhan setiap angkatan dalam lingkup TNI.

“Kita menyaksikan penerimaan anak-anak asli Papua menjadi calon prajurit dari matra Angkatan Darat dan Kepolisian sangat maju. Putra-putri asli Papua diberi kesempatan seluas-luasnya untuk melamar masuk menjadi calon prajurit  TNI AD dan anggota Polisi,” katanya.

Namun, untuk matra AL dan AU, kelihatannya peluang itu belum diberikan secara luas dan merata bagi anak-anak asli Papua.

Jika anak-anak Papua juga direkrut dalam jumlah yang banyak untuk menjadi prajurit TNI AU dan AL maka kejadian kekerasan seperti pekan lalu oleh dua prajurit TNI AU di Lanud Merauke itu dapat diredam sendiri oleh prajurit TNI AU dari anak-anak asli Papua sendiri.

“Dari sisi psikologis dan kultural, jika sebuah masalah di sebuah daerah ditangani dan diselesaikan oleh putra daerah sendiri secara profesional dan prosedural maka masalah tersebut paling tidak dapat segera dituntaskan dan perdamaian pun segera tercapai,” katanya.

Di pihak lain, John Gluba Gebze menilai, rekrutment anggota TNI untuk semua matra dan Polri saat ini kelihatannya masih lebih mengutamakan kuantitas (banyaknya calon)  dan  tidak disusul dengan peningkatan kapasitas diri (capacity building) setiap prajurit itu.

“Peningkatan kapasitas diri setiap prajurit TNI dan anggota Polri menjadi sangat penting usai dilakukan rekrutment calon prajurit,  agar mereka memilki wawasan pengetahuan dan kemampuan diri, kemampaun berorganisasi yang baik dan mentalitas prajurit TNI-Polri yang mumpuni. Dengan demikian mereka memiliki karakter yang tangguh sebagai anggota prajurit TNI-Polri yang profesional, memahami budaya setempat dan memiliki moralitas yang mumpuni,” katanya.

“Saya selaku orangtua bagi masyartakat adat Anim-Ha meminta agar setiap prajurit TNI  benar-benar menjadi alat pertahanan dan keamanan Negara Republik Indonesia yang profesional dan beretika, bukan sebagai alat keamanan keluarga, alat keamanan bagi sukunya dan daerahnya sendiri,” kata John Gluba Gebze. (Ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Atlet Biliar dan Catur Papua Siap Sumbang Emas di PON XX

TIFFANEWS.COM, –Atlet billiar dan catur yang saat ini masih melakukan pemusatan latihan di pulau Jawa siap menyumbang emas bagi Papua di PON XX. 18 Atlet billiar saat ini melakukan TC di Sleman, Yogyakarta didampingi dua pelatih, sedangkan catur TC di Ciawi, Jabar dengan 10 atlet didampingi dua pelatih. Sekum POBSI […]
Instagram did not return a 200.
Translate »