oleh

Media Online: Dilema Antara Kecepatan dan Tanggung Jawab Moral

-OPINI-1.579 views

“If you don’t read the newspaper, you’re uninformed and if you do read it, you’re misinformed”

—Denzel Washington—

Di era teknologi yang berkembang sedemikian cepatnya, media sosial seolah telah melumat pemberitaan konvensional sehingga menjadikan setiap orang bisa menjadi jurnalis dan memiliki kewenangan untuk memberitakan secara cepat suatu peristiwa, tanpa merasa perlu menghadapi konsekuensi apapun.

Tag line di atas, merupakan cuplikan dari wawancara aktor ternama Hollywood, Denzen Washington ketika diwawancara oleh seorang Wartawati dengan pertanyaan sederhana, “Ada sebuah rumor tentang berita palsu dan anda adalah subjek dari rumor besar itu?”

Denzel menjawabnya dengan sedikit berseloroh, “Oh ya? Apa yang mereka bilang? Saya maju menjadi Presiden?”
Sang Wartawati menjawab singkat, “Bukan”
Lalu Denzel mengatakan,” bukan? Saya memilih…ohh saya pindah kubu? Jika anda tidak membaca berita, maka anda kekurangan informasi, tetapi jika anda sudah membacanya, maka anda akan mendapatkan informasi yang salah.”
Sang Wartawati melanjutkan pertanyaannya,”Lalu apa yang anda lakukan?”
Denzel Washington menjawabnya dengan tenang, “ Itu adalah pertanyaan yang bagus. Apa akibat jangka panjang dari terlalu banyak informasi? Salah satu akibatnya adalah kepentingan untuk menjadi yang pertama menyampaikan. Bukan lagi untuk menyampaikan kebenaran. Jadi tanggung jawab kalian adalah menyampaikan kebenaran.

Penggalan wawancara Denzel Washington dengan Wartawati tersebut, menjadi inspirasi saya dalam menjalani profesi sebagai jurnalis, bahwa menyampaikan kebenaran merupakan tanggung jawab moral di atas semua kepentingan, termasuk kecepatan dalam memberitakan. Kenapa? Ibarat dua sisi mata uang, setiap sisinya memiliki gambar yang berbeda, disitulah persepsi dapat muncul dan apabila kita hanya melihat dari sisi yang sebelah, maka kebenaran yang sejati akan kabur.

Di Papua, sebagaimana halnya dengan berbagai wilayah di Indonesia, media sosial saat ini menjadi salah satu sumber asupan informasi publik yang haus akan perkembangan situasi. Keadaan ini sangat rentan dimanfaatkan oleh para jurnalis amatir yang secara bebas memberitakan suatu peristiwa, tidak peduli benar atau tidaknya, sudah terklarifikasi atau baru info awal yang penting segera diunggah untuk viral dan trending dalam waktu singkat. Tidak peduli apakah informasi tersebut akan melukai perasaan orang lain atau siapapun, yang penting segera diunggah dan disebarkan untuk dijual.

Seperti berita tentang tewasnya seorang pendeta di Intan Jaya, media-media online dan sosial lokal mengangkat berita tersebut secara massive dengan menuding pihak aparat keamanan yang bertanggung jawab atas pembunuhan pendeta tersebut. Pertanyaannya adalah sudahkah klarifikasi dilakukan oleh si Jurnalis? Sudahkah informasi tersebut dikonfirmasi oleh berbagai pihak dari dua sisi yang berbeda? Dan kita sebagai pembaca sudahkah kita melakukan cross check dari sumber-sumber yang berbeda?

Disinilah betapa tanggung jawab moral sangat diperlukan oleh setiap orang di era teknologi seperti saat ini, sebab apa yang kita tulis dan sebarkan di media sosial maupun online berimplikasi terhadap kehidupan orang banyak. Tentu kita semua paham, kecepatan untuk memberitakan menjadi faktor penting dalam dunia jurnalistik, karena ada uang dan popularitas disana, namun demikian bukankah tanggung jawab moral sebagai jurnalis atau mungkin bagian dari sebuah masyarakat adalah menyampaikan kebenaran? Ini patut kita renungkan bersama.

Akhirnya saya menutup tulisan saya dengan kata-kata bijak yang mungkin bisa menjadi bahan untuk direnungkan bersama,

“Sebuah kebohongan, tidak akan pernah menjadi sebuah kebenaran, kesalahan juga tetaplah sebuah kesalahan, begitu pula kejahatan tidak akan pernah menjadi kebaikan hanya karena diterima oleh mayoritas.”

Salam Sejahtera Bagi Kita Semua,
Rafli Hasan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed