Memahami Surat Gembala Uskup Leo Soekoto dan Uskup Leo Laba Ladjar

Tiffa News
Peter Tukan

Oleh: Peter Tukan*

SUDAH merupakan semacam  tradisi dalam Gereja Katolik, setiap menyongsong perayaan Natal dan Paskah, Uskup – selaku Gembala Gereja Katolik di suatu wilayah gerejani memberikan “Pesan atau Amanat Kegembalaan” bagi umatnya untuk secara rohani mempersiapkan diri merayakan perayaan iman (Natal dan Paskah) yang penuh misteri dan agung ini.

Intinya adalah: Uskup mempersiapkan umatnya untuk merayakan misteri Keselamatan Tuhan bagi umatNya  melalui perayaan Natal dan Paskah, bukan mempersiapkan umatnya untuk dengan semangat yang berkobar-kobar dan  terprovokasi untuk menggelar unjuk rasa memrotes banyak persoalan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sebuah “Surat Gembala”  bukanlahSurat politik praktis- provokatiftetapi  surat atau suara atau amanat  (tertulis) seorang Gembala “kawanan domba” (bukan serigala)  yang menyapa,  mengajak, dan menghimbau  umat Allah yang digembalakannya  untuk mempersiapkan diri  merayakan imannya secara pribadi dan kelompok di dalam realitas hidup – konteks hidup di sini dan sekarang  (hic et nunchere and now).

Surat Gembala Uksup Leo Soekoto

Pada tahun 1987- ketika itu saya masih berada di bangku kuliah mendapatkan satu buku yang selalu saya bawa (bersama buku-buku lainnya) hingga  hari ini . Buku itu adalah kumpulan “Surat Gembala Prapaskah  Tahun 1971 – 1987 dari Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Uskup Leo Soekoto,SJ”.  Buku berisi 17 Surat Gembala Uskup Leo Soekoto,SJ ini jika dilihat hari ini terbilang sudah agak “kumal”. Yang kumal itu kertasnya, tetapi isinya, sangat bermutu: Mendalam-berbobot, singkat, padat, jelas, langsung ke tujuan dan sama sekali tidak bernada  memprovokasi umat.

Sungguh luar biasa! Surat Gembala yang ditulis oleh seorang yang beriman teguh, cerdas-pintar, rendah hati dan tahu banyak-bicara sedikit, kapan harus berbicara dan kapan pula harus tutup mulut.

Jika membaca surat-surat gembala seorang Uskup, kita lantas mengerti pepatah melayu yang sudah sangat tua ini: “Jauh berjalan – Banyak dilihat; Lama Hidup- banyak dirasakan!”. “Seandainya, saya memahami secara baik dan benar makna  peribahasa tua ‘jauh berjalan-banyak dilihat; lama hidup-banyak dirasakan’,  maka saya  menjadi “malu sendiri” apabila  dengan segala kebodohan dan kepicikan diri saya, saya yang berusia masih seumur jagung, memberikan komentar buruk atas sebuah Surat Gembala dari seorang Uskup yang sudah banyak makan asam garam dalam ziarah hidupnya,” kata saya bergumam dalam hati ketika sedang  menulis artikel ini.

“Pertama-tama, marilah kita mohon ampun dan kembali kepada Tuhan. Untuk ini, mengeheningkan cipta-berefleksi jauh lebih berguna daripada pidato dan  berteriak memprovokasi; berdoa lebih berguna daripada debat kusir tidak terarah; menyesali dosa lebih bermanfaat daripada membenarkan diri sendiri dan  mempersalahkan orang lain serta  menuntut orang lain berbuat dan bertindak seperti yang saya inginkan,” tulis Uskup Leo Soekoto dalam salah satu Surat Gembalanya pada sekitar 30 tahun yang lampau.

Pada bagian lain dari Surat Gembalanya, Uskup Leo Soekoto menulis sebagai berikut:

Untuk menghindari kerukunan yang semu saja atau palsu, baiklah secara khusus dalam masa Prapaskah 1982 ini, kita bertanya diri: Terlibatkah saya dalam kegiatan hudup menggereja dan memasyarakat di paroki saya sendiri, atau bukankah saya ini sebetulnya termasuk orang yang hanya mau menikmati jasa-pelayanan paroki dan hanya menuntut..menuntut dan menuntut saja?” tulis Uskup Leo Soekoto.

Pada Prapaskah 1983, Uskup Leo Soekoto menulis Surat Gembala bertemakan “Keadilan”.  Uskup Leo Soekoto  mengawali Surat Gembalanya itu dengan mengutip kata-kata Paus Paulus VI :”Kalau ingin perdamaian, tegakkanlah keadilan”.

Selanjutnya, Uskup Leo Soekoto menulis:

Pemerintah sudah berusaha keras untuk memerangi kejahatan dan menegakkan keadilan. Tetapi tugas ini adalah tugas seluruh rakyat. Kita  semua harus ikut serta. Untuk menegakkan keadilan harus diperkenalkan peraturan-peraturannya. Memekikkan slogan-slogan atau memajang spanduk-spanduk, bisa juga membantu untuk membangkitkan semangat. Tetapi yang lebih penting dari semuanya itu untuk menjamin keadilan dalam masyarakat, bukanlah itu, tetapi orang-orangnya harus dibuat berjiwa adil dulu. Dan untuk ini,  diperlukan Pendidikan yang panjang beserta latihan-latihannya,” tulis Leo Soeko.

Surat Gembala Uskup Leo Laba Ladjar,OFM

Pada September 2019, saya menerima sebuah buku kumpulan Surat Gembala Uskup Keuskupan Jayapura, Uskup Leo Laba Ladjar,OFM. Terdapat 47 judul Surat Gembala yang dilayangkan kepada umat Katolik Keuskupan Jayapura antara tahun1997 – 2019 dalam rangka menyongsong perayaan Natal dan Paskah.

Dari Pengantar Buku yang ditulis oleh Uskup Leo sendiri di bawah judul “Pesan Awal”, diketahui bahwa Surat Gembala itu diterbitkan untuk dibaca, direnungkan, dipahami dan dilaksanakan di lingkungan hidup masing-masing umatnya, baik secara pribadi (sendiri-sendiri), maupun bersama-sama rekan  umat Katolik  di dalam apa yang disebut “Komunitas Basis Gerejawi” (KBG). Di wilayah Keuskupan Jayapura dikenal dengan sebutan : Komunitas Basis (Kombas).

Surat Gembala, tulis Uskup Leo adalah salah satu cara dan sarana yang dipakai seorang uskup untuk memberitakan Injil kepada saudara-saudaranya. Dengan cara dan sarana itu seorang uskup mewujudkan tugas dan panggilannya untuk memberitakan Injil, evangelisasi. Bentuk sastranya disebut  Surat. Karena itu, isinya adalah salam, berita, pujian dan teguran, nasehat dan ajakan, doa dan berkat. Biasanya tidak Panjang. (Hal.X).

Surat Gembala ini tidak hanya dibacakan di mimbar Gereja pada saat ibadah bersama umat tetapi juga dibaca, dibahas dan direnungkan dalam pertemuan komunitas basis atau himpunan lainnya dalam umat.

Di Kombas, Surat Gembala ini dibaca dan direnungkan bersama serta dicari pesan dan maknanya untuk perjalanan kita bersama sebagai komunitas gerejawi di tengah masyarakat yang beraneka ragam.  Dengan cara itu diharapkan bahwa Injil yang diberitakan tidak tinggal melayang di atas kepala kita, tetapi masuk menyentuh hati dan membaharui cara hidup dan perilaku kita, agar kita mampu membawa pembaruan dalam dunia dan masyarakat kita (Hal.X)

(catatan penulis opini ini: Camkan baik-baik dan bijaksana kata “kita” yang tertulis di atas dengan huruf hitam tebal. Artinya: di dalam kata “kita”  terdapat: Saya, engkau, dia dan mereka, bukan hanya Uskup atau Pastor saja).

Patut digaris bawahi lagi bahwa Surat Gembala Uskup Leo Laba Ladjar yang dikeluarkan pada setiap menjelang perayaan Natal dan Paskah itu ditujukan kepada umatnya untuk direnungkan, direfleksikan dan didialogkan dengan diri sendiri dan lebih dari itu dengan dan bersama dengan saudara-saudara, rekan-rekan umat di dalam Kombas dimana  anda  berada.

Diskusi dan tukar pikiran tentang isi Surat Gembala itu terjadi di Kombas. Dengan demikian, Surat Gembala itu tidak perlu diuraikan panjang-lebar, berhalaman-halaman kertas folio,  berisi banyak  hal praktis kehidupan internal umat Katolik dan kehidupan eksternal  kemasyarakatan.

Hal-hal itu akan didapat pada kesempatan bertukar-pikiran, berbagi pengalaman hidup (sharing)  di dalam Komunitas Basis (Kombas).

Tidak perlu menuntut atau memaksakan pemimpin kita  untuk berteriak secara provokatif tentang masalah ketidakadilan yang dialami masyarakat, tetapi masalah ini harus didiskusikan, didialogkan, dan digumuli  bersama-sama rekan umat dalam Komunitas Basis  dan dicari jalan keluar dari permasalahan itu sesuai dengan situasi dan kondisi (Sikon) umat di Kombas tersebut.

Uskup Leo juga dalam Pengantar Bukunya itu menulis:

Tidak semua yang ditulis itu berpadanan dengan  situasi hidup yang nyata dari semua Saudara-saudari. Banyak hal mungkin terasa jauh, tinggi dan tidak kena-mengena dengan pengalaman hidup Anda yang nyata. Mengapa demikian? Di satu pihak, karena gaya bicara dan pola pikir saya mungkin tidak “merakyat” sehingga tidak gampang ditangkap. Di lain pihak, karena umat kita amat beraneka keadaannya; pandangan hidup dan tingkatan pendidikan serta budayanya amat berbeda-beda sehingga sapaan saya mungkin kena untuk yang satu tetapi tidak kena bagi yang lain. (hal.X).

Menanggapi isi Surat Gembala seorang Uskup sebaiknya dilakukan  bersama-sama rekan umat di Kombas.

Surat Gembala  seorang Uskup akan menjadi hidup dan nyata justru di Kombas,  bukan berteriak-mengritik secara destruktif  di media massa atau media sosial yang hasilnhya sangat minim atau nihil dan tidak membawa perubahan yang positif, tidak membawa kemaslahatan bagi banyak orang, malahan sebaliknya, hanya memuaskan diri sendiri -merasa legah lantaran sudah berhasil “menyemprot” yang terpendam. Ternyata,  semakin berteriak histeris, khafilah itu pun terus berlalu di tengah kita!

Dari pada frustrasi karena teriakan di media massa atau media sosial tidak membuahkan hasil yang nyata dan positif bagi banyak orang, maka lebih baik dengan sikap rendah hati “menceburkan diri” ke dalam kelompok-kelompok umat basis, baik secara teritorial, atau secara fungsional maupun   secara kategorial.

Komunitas Basis Gerejawi (KBG) atau  Basic Christian Community (BCC) adalah cara baru hidup menggereja zaman ini,  suatu persekutuan umat beriman atau Gereja yang berupaya meragakan suatu pola hidup Kristiani yang bersifat kolektif dan sangat berbeda dengan pola hidup individualistis, egois dan konsumptif yang sudah menjadi bagian yang tidak terelakan dari budaya global saat ini.

 Komunitas Basis  ini hadir di tengah masyarakat sebagai Gereja yang hidup, bergerak dan dinamis dalam pergumulan iman kristiani dalam terang lnjil. Ia menghadirkan wajah baru Gereja sebagai kesatuan umat Allah yang terbuka, solider dan berbela rasa dengan masyarakat lokal terutama dengan mereka yang miskin dan tertindas seperti halnya diragakan Yesus sendiri.

 Komunitas Basis Gerejani berorientasi dan berakar dalam diri Yesus Kristus dan Injil.

Akhirnya, Surat Gembala itu tidak perlu ditanggapi atau direspons  dengan nada puji-pujian, memuji dan memuja  penulis Surat Gembala ini  hingga ke langit ke-tujuh.  Hal yang paling penting adalah: Paling tidak, Surat Gembala itu pernah dibaca atau pernah mendengar orang lain membacanya untuk diri saya, dengan harapan: semoga ada seberkas cahaya Injil yang menerangi langkah-langkah hidup Anda (anda yang telah baca dan anda yang telah mendengar itu), baik  secara bersama-sama  sebagai satu persekuuan maupun  masing-masing pribadi! (bdk.Hal.XI paragraph 1)

*Peter Tukan: Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

DPRD Keerom, Papua Terlambat Berikan Persetujuan APBD 2022

TIFFANEWS.COM– Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupten Keerom, Provinsi Papua sangat terlambat memberikan persetujuan atas Rancangan APBD Keerom  Tahun Anggaran (TA)  2022 yang seharusnya berdampak buruk  pada diberikannya  sanksi oleh  Pemerintah Pusat kepada Bupati Keerom yakni tidak mendapatkan gaji, tunjangan jabatan dan hak-hak  lainnya,  atau paling tidak ditunda penerimaannya selama […]
Translate »