Membaca Kepiawaian Lukas Enembe Memilih Wakil Gubernur Papua

Marcel 1
Peter Tukan

Oleh: Peter Tukan*

JUMAT, 21 Mei 2021 dini hari sekitar Pkl.04.00 WIB, Tanah Papua dirundung duka – telah pergi untuk selamanya ke “Yerusalem Baru – Surga Abadi”, Wakil Gubernur Provinsi Papua, Klemen Tinal.

Bersama Lukas Enembe yang adalah Tokoh Besar Masyarakat sekaligus Gubernur Provinsi Papua, keduanya telah bertekad bulat untuk: bergandengan tangan, bahu-membahu, seiring-sejalan, berat sama dipikul – ringan sama dijinjing, senasib-sepenanggungan, berdiri sama tinggi – duduk sama rendah – tidur sama rata-, untuk terus  “menahkodai” bahtera  Provinsi Papua  selama dua periode yaitu,   perode  pertama  2013 – 2018 (Lukmen Jilid-1)  dan periode kedua 2019-2023 (Lukmen Jilid-2).

Namun, sayang beribu sayang, Tuhan Sang Pencipta semesta alam – Allah Pencipta langit dan bumi berkehendak lain: “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu , dan jalanmu bukanlah jalan-Ku (Yes 55:8-9; Mzm.92:5).  Sebelum menyelesaikan secara sempurnah masa kepemimpinan  “Lukmen” Jilid ke-2 itu, Bapak Klemen Tinal telah pergi meninggalkan seluruh rakyat Tanah Papua untuk selama-lamanya.

Sebenarnya, dalam hitungan politik regional, banyak orang sudah menduga-duga bahwa,  usai pasangan Lukmen menyudahi masa pengabdian mereka 10 tahun secara sangat meyakinkan, maka  peluang paling besar untuk menggantikan Lukas Enembe (LE) menjadi Gubernur Papua periode berikutnya (tahun 2024- dan seterusnya) sekaligus meneruskan tekad pengabdian Lukmen menuju Papua Bangkit – Mandiri dan Sejahtera Berkeadilan adalah  Klemen Tinal (KT), bukan lainnya.

Realitas membuktikan, di dalam waktu yang begitu singkat, usai almarhum KT dibaringkan di haribaan ibu pertiwi, banyak pihak mulai beramai-ramai memperbincangkan, menakar, menduga dan mendikusikan tentang siapa pengganti alm.KT untuk menjadi Wagub Papua mendampingi Gubernur LE menyelesaikan masa bakti hingga 2023 mendatang.

Malahan, ada pula beberapa politisi putra Asli Papua yang berkeinginan menjadi Wagub Papua mendampingi Lukas Enembe pun mulai bergerak cepat kesana-kemari guna mendapatkan restu dan dukungan dari partai politik, kelompok masyarakat dan para  pengambil keputusan politik di Jakarta.

Banyak sekali pengamat politik, penulis,jurnalis, “dukun politik”   dan “peramal politik”   serta berbagai kalangan lain telah menuangkan begitu banyak pikiran dan pendapat  mereka terkait  ramalan politik “siapa orang atau figur yang tepat, pas dan mumpuni  pengganti alm.KT menjadi Wagub Papua pendamping Bapak LE

Setiap “peramal” memberikan ramalannya sesuai cara pandangnya, dari sisi mana dia memandang dan sesuai pengalaman dan pengetahuan yang dia miliki.

Ijinkan penulis memberikan beberapa catatan sederhana yang juga “mereka-reka” figur mana  yang dianggap  “pas” mendampingi Gubernur LE pada sissa masa pengabdiannya ini sekaligus yang “mendekati” keinginan dan harapan LE sendiri.

Menerka Siapa KT di  mata Hati LE?

Tidak semua kepala daerah (walikota, bupati dan gubernur) bahkan Presiden sekalipun,  yang dapat sukses berjalan dengan pasangan wakilnya selama dua periode kepemimpinan secara berturut-turut.

Pada umumnya, seorang presiden, gubernur, bupati dan walikota hanya lima tahun berpasang-pasangan dengan wakilnya. Apabila pada lima tahun berikutnya, keduanya ternyata ingin maju merebut kursi presiden, gubernur, bupati atau walikota maka,  mereka akan “pecah kongsi” – berjalan sendiri-sendiri dengan pendukungnya masing-masing.

Pasangan gubernur dan wakil gubernur “Lukmen”  yang berjalan bersama-sama selama dua periode (2 X 5 tahun) secara berturut-turut berarti 10 tahun adalah sebuah pasangan politik yang terbilang  langka.

Tidak ada yang mustahil di bawah kolong langit ini jika Allah Maha Besar lagi Maha Penyeyang dan Maha Mengetahui menghendaki pasangan Lukmen untuk terus bergandengan selama dua periode. Keduanya ternyata terbukti  “akur” untuk 10 tahun menjadi gubernur dan wakil gubernur.

Pertanyaan cerdas adalah: Mengapa LE sampai memilih KT untuk mendampinginya selama dua periode bertutur-turut menjadi wakil gubernur mendampinginya? Apa kunci rahasianya?

Pada umumnya, seorang  pemimpin itu memilih pendamping atau wakilnya pertama-tama atas dasar “rasa cocok” dan “rasa nyaman”   untuk bekerjasama dan bekerja bersama-sama; untuk “berat sama dipikul – ringan sama dijunjung”.

Apa “sisi lebih”nya seorang  KT sehingga LE  memilih dan memintanya untuk berjalan bersama selama dua periode berturut-turut itu?

Memang benar bahwa tidak semua manusia itu sempurnah. Setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan di dalam dirinya, begitu pun dengan LE dan KT. Tentu saja, dari sekian banyak  kelebihan yang dimilki KT, terdapat satu “titik lebih” yang disukai LE. Salah satu yang diinginkan LE  adalah “tidak ingin diganggu”. Selama menjadi Gubernur Papua, LE tidak mau diganggu dan mengganggu orang lain. Dia ingin memimpin seluruh rakyat Papua dengan “Hati yang tenang dan rasa Hati yang nyaman”.

Ternyata, KT adalah “orangnya!”. Bersama KT, Lukas Enembe merasa “Hatinya nyaman dan  tenang”. Dan memang benar adanya bahwa KT memilki kelebihan itu. Bersama dan di samping LE, KT tidak pernah “mengganggu” LE sedikitpun. Sebaliknya, KT juga merasa nyaman karena LE sendiri ntidak pernah menggganggunya: Keduanya berjalan bagaikan air sunagi yang mengalir!

Kepergian KT ke Tanah Terjanji Sorga Abadi merupakan “pukulan batin” yang luar biasa bagi LE. Dia merasa kehilangan seorang Saudara, rekan kerja, mitra yang handal dan teman seperjalanan dalam suka dan duka hidup di Papua –  tanah kelahiran mereka – “sorga kecil jatuh ke bumi”.

Pada hari ini, ketika LE dihadapkan dengan pilihan “Siapa- orang atau figur  yang tepat dan pas mendampinginya menggantikan KT sebagai wakil guernur untuk sisa masa bakti periode kedua memimpin Provinsi Papua ini?” Jawaban pertama adalah: Dia yang tidak mengganggu LE ketika LE sedang memimpin rakyat Papua periode kedua ini. Dia yang mampu membuat Hati LE merasa nyaman seperti yang sudah ditunjukkan KT sema hidupnya mendampingi LE sebagai Wakil Gubernur Papua.

Menurut pengamatan penulis, LE itu merasa “gerah” ketika kenyamanannya diganggu dan terganggu, sebaliknya, siapapun  yang membuat dirinya merasa terganggu dan merasa tidak nyaman, maka di situlah LE “bertindak!”

Seingat penulis, belum  lama ini, Gubenrur LE mengangkat Asisten Bidang Umum Sekretariat Daerah Provinsi Papua Ridwan Rumasukun sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Sekda Provinsi Papua. Salah satu alasan Gubenrur LE bertindak seperti ini karena dirinya merasa  tidak terganggu dan diganggu apabila Ridwan Rumasukun mendampinginya sebagai Sekda Papua.

Sejenak kita pun dapat membaca  “kilas balik” perjalanan sejarah perpolitikan Papua tahun 2017 lalu dalam buku “Jatuh Bangun Lukas Enembe” – Merakit Kisah Ancaman Kriminalisasi, Membongkar Fakta Gubernur Papua” yang ditulis oleh Elipus Hugi yang belum lama ini diluncurkan.

Penulis buku ini, Elpius Hugi begitu “terang-benderangnya” tanpa ditutup-tutupi sedikitpun membongkar tindalan Kapolda Papua saat itu yang membuat LE merasa sangat tidak nyaman alias mengganggu kenyamana hidup dan kenyamanan langkah politiknya.

Pada halaman 109- 117, mengisahkan kembali tindakan Kapolda Papua yang mengumumkan LE berstatus “Tersangka”. Bagi LE, pengumuman dirinya bersatus tersangka dan tindakan selenajutnya atas dirinya itu, merupakan bentuk pelecehan harga diri pemerintah daerah dan dirinya sebagai abdi negara (Hal.109).

Bagi seorang LE yang adalah “Anak Koteka”, apabila harga dirinya diganggu atau dicederai maka dia pasti akan berontak – “berperang” habis-habisan demi harga diri itu sendiri.

Tentang harga diri itu sendiri, Uskup Leo Laba Ladjar OFM dalam buku  yang sama yang ditulis Elpius Hugi,  pada halaman XVIII menulis:”Beberapa kejadian yan g menimpa Gubernur LE dan reaksi atas dirinya menunjukkan betapa pentingnya harga diri seseorang. Sebagai manusia, orang sudah mempunyai harga diri yang tinggi karena martabatnya yang luhur…… Orang Papua punya harga diri yang tinggi sebagai manusia dan sebagai Papua, dengan segala budaya dan adatnya; bahkan kulit dan rambut kepalanya pun dinyanyikan dengan bangga..”.

Masanya “Orang Gunung”

Satu hal yang patut kita sadari bersama realitas politik Papua hari ini yaitu pada hampir sepuluhtahun terakhir ini ketika LE tampil sebagai Gubernur Provinsi Papua, banyak orang dengan serta-merta mengatakan (sekaligus mengakui) bahwa masa ini adalah “masanya Orang Gunung”. Pepatah tua mengatakan, “ada orang – ada masanya. Ada masa – ada orangnya” berlaku juga di Papua pada hari ini.

Realitas perpolitikan Papua hari ini, seperti apa adanya sekarang. Kita tidak dapat memungkirinya. Hal yang dapat kita lakukan adalah berusaha “memahami”dan “bersahabat dengan keadaan iin”  sambil ikut serta berjalan bersama dalam suasana penuh persahabatan dan  persaudaraan sejati.

Jika kita mengambil sikap memahami sembari ikut berjalan bersama di dalam suasana Hati yang damai dan bersahabat maka keharmonisan, kenyamanan dan kedamaian  Tanah Papua menjadi sebuah kenyataan!

Terkait pilihan calon wakil gubernur Papua pengganti almarhum KT, maka pemahanam seperti ini harus dikutsertakan. Kita tidak boleh mengabaikan dan mengingkari realitas politik ini bahwa Bapak LE selaku Gubernur Papua tentu saja memiliki keinginan Hatinya yang sangat istimewa yang mungkin saja diwujudkan  dalam kalimat ini: “kiranya orang yang mendampingi saya pada sisa-sisa masa kepemimpinan periode kedua ini adalah sesama saya  dari Gunung. Saya merasa nyaman jika kami sama-sama dari Gunung. Berikanlah kesempatan ini untuk saya menyudahi kepemimpinan saya menjadi genap 10 tahun atau dua periode”.  Camkanlah bahwa KT pun berasal dan datang  dari Gunung. Dan dalam konteks pemahaman tentang “datang dari  Gunung”  itu, Hery Dosinaen yang pernah dipilih oleh Gubenur LE menjadi Sekda Papua periode lalu walaupun bukan kelahiran asli Papua tetapi Hery juga “datang dari Gunung” begitu pun dengan Ridwan Rumasukun sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Sekda Provinsi Papua. Baik Hery maupun Ridwan, keduanya pernah bersama LE hidup dan mengembara di wilayah Gunung.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia, baiklah kita biarkan masa ini adalah “masanya orang Gunung”. Berikanlah kesempatan  dan tempat yang pas buat mereka untuk memimpin Papua dengan segala jatuh-bangunnya. Kita tidak perlu mengganggu dan membuat mereka merasa terganggu. Dalam segala keterbatasan manusiawinya,  Orang Gunung pasti terus belajar dan belajar untuk menjadi pemimpin di negerinya sendiri dalam rangkulan Ibu Pertiwi Indonesia. Kenapa takut  yang berlebihan?

“  Kemesraan ini..  Janganlah cepat berlalu.  Kemesraan ini.. Inginku kenang selalu.. Hatiku damai. Jiwaku tentram di samping mu.. Hatiku damai.. Jiwa ku tentram..Bersamamu “ (Iwan Fals).

Golkar Jangan Salah Pilih

Almarhum KT adalah Ketua DPD I  Partai Golkar Provinsi Papua. Apabila ada keinginan agar wakil gubernur Papua pengganti Alm.KT adalah orang yang berasal dari Golkar maka kiranya Golkar sendiri tidak salah atau tidak keliru mengusung calon Wagub pendamping Gubernur LE.

Golkar harus dapat mengusung calon Wagub yang orangnya paling tidak mendekati atau sama dengan karakter KT di mata Hati LE yaitu tidak “mengganggu” LE,  dan yang memberikan rasa nyaman  bagi LE sebagai gubernur. Begitu pula, sebaiknya calon wagub yang diusung Golkar adalah kadernya sendiri dan sedapat mungkin “datang dari Gunung”.

Apabila Golkar salah mengusung calonnya itu maka Golkar pun harus siap menerima kenyatana hasil pemilihan calon Wagub  di gedung DPR Papua (DPRP) nanti.

Ingat baik-baik bahwa mayoritas anggota DPRP hari ini adalah “Anak-anak Koteka”. Terlapas dari partai politik mana mereka itu berasal  tetapi ketika dilakukan pemilihan calon Wagub menjadi Wagub Papua pendamping LE  maka “Solidaritas Gunung” akan mengkristal di dalam  kotak suara “One man – one vote” nanti.

Kita juga tidak boleh lupa bahwa LE itu dikenal sangat baik oleh hampir semua anggota DPRP sekarang ini. Banyak dari mereka yang ketika mempersiapkan diri maju dalam pemilihan umum  legislatif (Pileg)  untuk menjadi anggota DPRP, telah banyak mendapat “kebaikan” dari Kaka LE.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia, LE itu “ringan tangan” membantu sesamanya tanpa membeda-bedakan dari partai poliitk mana anggota DPRP itu berasal.

Ketika hari ini digelar pemilihan  Wagub Papua, maka “kebaikan Hati” seorang LE itu tidak akan pernah dilupakan atau diabagikan.

Sukses PON XX Papua Tahun 2021

Pesta olahraga nasional empat tahunan PON XX Tahun 2021 sudah di ambang pintu.

Dalam proses pemilihan Wagub Papua, perhelatan PON XX ini tidak boleh diabaikan. Paling tidak, wakil gubernur Papua pendamping LE nanti adalah orang yang mampu membantu LE untuk menyukseskan PON XX Tahun 2021 yang saat ini sedang dalam masa persiapan menuju hari H PON XX yakni 2-15 Oktober 2021.

Gubenrur LE dalam Hati kecilnya paling tidak mempertimbangkan  kiranya Wagub Papua yang akan mendampinginya adalah figur yang sukses menghantar Papua menjadi “tuan rumah” PON yang baik!

Akhirnya, dari sekian banyak calon Wagub Papua yang disung Parpol koalisi, kiranya semua pertimbangan yang dipaparkan di atas tidak boleh disepelekan.

Selamat memilih Wagub Papua yang baru!

Semoga Damai dan Keadilan membaharui  wajah  bumi Cenderawasih – Tanah Papua – sorga kecil jatuh ke bumi dan, melimpahi semua penghuninya dengan Kegembiraan dan Kesejahteraan berlimpah

*Peter Tukan: Jurnalis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

One thought on “Membaca Kepiawaian Lukas Enembe Memilih Wakil Gubernur Papua

  1. Arah, maksud dan tujuan uraian ini dgn terang benderang menyimpulkan bahwa sang pengganti antar waktu di sisah masa jabatan wagub Provisnsi Papua adalah
    1. Berasal dari orang papua gunung.
    2. Yang mampu menyelenggarakan PON XX.
    Maka ada dua nama yang cocok yaitu YW (PD) dan KK (PH).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Yan P. Mandenas: Ini Mekanisme Tata Kelola Baru Anggaran Otsus Papua

TIFFANEWS.COM,- Pengelolaan Dana Otonomi Khusus (Otsus) Papua telah mengalami perubahan tata kelola, sesuai amanat yang terdapat dalam Undang – Undang (UU) Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua yang telah diparipurnakan di Gedung DPR-RI pada Kamis (15/7/2021) lalu. Selain itu, ada juga ketentuan mengenai besaran alokasi anggaran bagi bidang pendidikan dan kesehatan […]
Instagram did not return a 200.
Translate »