Menkes : Pentingnya Perubahan Perilaku dalam Penanggulangan Pandemi

Tukan Ben
Arsip Foto. Sejumlah warga belum mematuhi anjuran pemerintah untuk menerapkan protokol kesehatan guna mencegah penularan COVID-19, termasuk memakai masker saat berada di tempat umum, di pasar tradisional Naikoten, Kota Kupang, NTT, Sabtu (31/7/2021). (Foto : ANTARA FOTO/Kornelis Kaha/foc)

TIFFANEWS.COM,-  Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menekankan pentingnya perubahan perilaku masyarakat dalam upaya penanggulangan pandemi COVID-19.

“Pandemi tidak mungkin selesai dalam waktu satu tahun. Bahkan pandemi polio, malaria, HIV, baru bisa selesai setelah puluhan hingga ratusan tahun,” katanya dalam acara pelatihan asisten tenaga kesehatan yang digelar virtual oleh DPP PDI Perjuangan di Jakarta, Senin (2/8).

“Jadi semua pandemi itu dari pesan Tuhan Yang Maha Esa untuk menyampaikan bahwa manusia itu harus melakukan perubahan perilaku. Saat ini, istilah kita itu protokol kesehatan. Dan itu yang paling penting,” kata Budi sebagaimana dikutip dalam siaran pers penyelenggara pelatihan.

Ia mengemukakan bahwa setiap kejadian pandemi menuntut manusia untuk melakukan perubahan perilaku. Pandemi COVID-19 menuntut orang untuk menjalankan pola hidup bersih dan sehat, memakai masker, menjaga jarak, dan mengurangi mobilitas untuk mencegah penularan virus.

Menteri Kesehatan juga mengatakan bahwa pemerintah sedang berusaha keras menekan laju penularan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 serta meminimalkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit tersebut.

“Kalau dari COVID ini, dari 100 yang kena, 80 persen akan otomatis sembuh sendiri, 20 persen butuh rumah sakit, lima persen perlu ICU, dan sekitar 1,7 persen meninggal,” katanya.

“Yang penting 20 persen itu selalu di bawah kapasitas pelayanan rumah sakit, sehingga kita harus rendah, kita harus mengurangi laju penularan,” ia menambahkan.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris menyampaikan pentingnya pembatasan mobilitas warga dalam upaya mengendalikan penularan COVID-19.

“Membatasi mobilitas masyarakat jadi penting untuk mengatasi (persebaran) virusnya. Saat ini pemerintah menerapkan PPKM dengan level. Ini langkah tepat, sehingga pembatasan ditetapkan berdasarkan indikator penularan, perawatan, dan positivity rate,” kata Charles.

Selain itu, ia melanjutkan, pemerintah harus memastikan masyarakat bisa mengakses pelayanan kesehatan, obat-obatan, dan fasilitas karantina.

“Pandemi ini tak bisa segera selesai, maka pemerintah harus bekerja keras untuk meningkatkan kemampuan dalam menyediakan oksigen, obat-obatan, hingga meningkatkan fasilitas kesehatan,” katanya. (ant/*bn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Menkes: Peningkatan Kasus Kematian karena Pasien ke Rumah Sakit Sudah Kritis

TIFFANEWS.COM,-  Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyimpulkan peningkatan kasus kematian akibat COVID-19 di 20 kabupaten/kota di Pulau Jawa karena pasien yang datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi berat dan kritis. “Kita mengamati, ada perbedaan dibandingkan dengan yang sebelumnya, bahwa kematian itu terjadi kalau sebelumnya rata-rata itu delapan hari […]
Instagram did not return a 200.
Translate »