oleh

Merasa Dilecehkan, Masyarakat di Keerom Kembalikan Bantuan Sembako

-BERITA-2.413 views

TIFFANEWS-COM-Merasa dilecehkan dan dihina, masyarakat dari Distrik Arso Tengah dan Arso Timur mendatangi Dewan Adat Keerom (DAK) untuk mengembalikan paket bantuan sembako  yang diberikan oleh Tim Satgas Covid-19 Pemerintah Kabupaten Keerom untuk selanjutkan dikembalikan  ke Tim Covid-19 di Kabupaten Keerom. Masyarakat menilai bantuan yang diberikan oleh Bupati sebagai penanggungjawab dalam penanganan Covid-19 di Kabupaten Keerom ini sangat tidak layak.

Aksi pengembalian paket sembako tersebut dilakukan pada Minggu(10/5) di kediaman Ketua Dewan Adat Kabupaten Keerom di Arso Kota Kabupaten Keerom.

Dari pantuan tiffanews.com di lapangan, masyarakat ini datang  ke Dewan Adat Keerom (DAK) dengan menggunakan beberapa mobil dan motor dipimpin oleh Kordinatornya, Bernard Kamodi dengan membawa sejumlah paket sembako diantaranya Beras, Gula Pasir, Minyak Goreng, Susu Sachet dan lainnya.

Penyerahan paket sembako tersebut diterima langsung oleh Ketua Dewan Adat Keerom (DAK), Servo Tuamis didampingi Sekretarisnya, Lauren Borotian dan juga beberapa tokoh masyarakat adat lainnya.

Selain membuat pernyataan sikap, masyarakat ini juga membawa poster yang bertuliskan, Orang Asli Papua (OAP) tidak miskin, ini bama (bahan makanan-red) tidak layak, mana masker dan segera usut dan lapor juru bicara Bupati Keerom, Mtsobikhan yang telah melecehkan OAP melalui postingan tulisannya  di media sosial.

“Jadi  kami mendatangi Dewan Adat Keerom ini untuk menyerahkan kembali bantuan paket sembako yang diberikan Pemda Keerom melalui Tim Satgas Covid-19 kepada Dewan Adat Keerom untuk diserahkan kembali. Bantuan yang diberikan ini tidak memenuhi sembilan pokok (Sembako),”ungkap  Koordinator Pengembalian Sembako dari Arso Tengah dan Arso Timur Kabupaten Keerom, Bernard Kamodi.

Bernard mengaku, sebagai Orang Asli Papua (OAP) bantuan yang diberikan oleh Bupati sebagai penanggungjawab dalam penanganan Covid-19 di Kabupaten Keerom ini dinilainya sangat tidak layak. Pasalnya paket sembako seperti beras 20 kg tidak bagus dan kotor.

“Kami lihat beras bantuan yang diberikan oleh Pemerintah Kampung jauh lebih baik, daripada bantuan dari Pemerintah Kabupaten yang diserahkan oleh Tim Covid-19 Kabupaten Keerom,”terang Bernard.

Bernard menyampaikan, sesuai penyampaian dari Tim Covid-19 pada saat pembagian bama yakni beras 20 kg, gula pasir 2 kg, susu sachet,teh celup dua kotak,minyak goreng 2 liter dan supermi 3 bungkus untuk kebutuhan selama 3 bulan kedepan.

“Jenis bantuan bama seperti ini tentu saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kita selama tiga bulan kedepan.Apalagi jenis beras yang diberikan kotor dan tidak layak,” tuturnya.

Bernard mengatakan,bantuan ini diserahkan secara simbolis oleh Bupati melalui koordinator-koordinator wilayah. Sehingga pada kesempatan ini sebagai masyarakat adat pihaknya juga secara simbolis mengembalikan paket bantuan ini  melalui Dewan Adat  Keerom untuk dikembalikan ke Bupati.

“Kami merupakan masyarakat adat Orang Asli Papua (OAP).Kami menilai bantuan bama ini tidak layak. Alasan kami mengembalikan bama ini melalui DAK karena mereka sebagai lembaga adat yang merupakan representatif dari masyarakat adat di Kabupaten Keerom ini,” pintanya.

Menurutnya, apa yang dibagikan oleh Bupati Keerom sebagai penanggungjawab Tim Satgas Covdi-19 di Kabupaten Keerom sangat tidak adil..Pasalnya beras 20 kg itu tidak cukup untuk hidup selama tiga bulan kedepan,belum lagi jika jumlah satu keluarga capai sepuluh orang, seharusnya minimal 60 kg beras itu baru cukup.

Pada kesempatan ini pula ini menyoroti terkait isi postingan dari Jubir Bupati Keerom,Mtsobikhan di media sosial yang mengatakan “Buat rakyat Keerom tercinta khususnya Orang Asli Papua (OAP) jangan kalian sedih,hari ini sudah disiapkan 19.000 paket jaring pengaman sosial untuk tiga bulan kedepan berupa bama dan masker.Petugas akan hadir dirumah saudara di Kampung Adat” postingan tersebut Bernard menilai melecehkan OAP di Keerom.

“Postingan Jubir Bupati Keerom ini kami nilai tidak baik. Dengan kata (OAP jangan sedih) itu sudah mencederai kami sebagai Orang Asli Papua di Kabupaten Keerom.Untuk apa kami bersedih, ini negeri kami, dan untuk Wabah Covid-19 ini bukan cuma kami yang terkena dampaknya, tapi semua di negeri ini merasakan dampaknya, jangan sampai postingan seperti ini memicu banyak presepsi berbeda dan pada akhirnya menimbulkan konflik di Keerom ini,’’jelasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Adat Kabupaten Keerom, Servo Tuamis menjelaskan, pihaknya sebagai lembaga adat yang merupakan representatif dari masyarakat adat di Kabupaten Keerom akan siap menindaklanjuti dengan mengembalikan bantuan sembako ini kepada Pemda Keerom melalui Tim Covid-19 Kabupaten Keerom.

“Kita telah menerima apa yang menjadi keluhan dari masyarakat ini. Mereka merupakan Masyarakat Adat Papua yang ada di Kabupaten Keerom atau yang dikenal dengan istilah OAP (Orang Asli Papua).Tentu aspirasi yang disampaikan kami akan kawal dan lapor kepada pihak-pihak terkait,” ujar Servo.

Tuamis mengaku,sejauh ini memang masyarakat belum merasa sepenuhnya ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten Keerom dalam penanganan dan pencegahan Covid-19 di semua wilayah Kabupaten Keerom.

Bahkan bantuan sembako ini dinilainya belum layak karena belum memenuhi kebutuhan dari sembilan bahan pokok itu.Apalagi beras 20 kg yang diberikan itu kotor dan tidak mungkin untuk mencukupi kebutuhan masyarakat selama 3 bulan kedepan.

“Inikan aneh, kalau masyarakat kembalikan bantuan bama tersebut, itu berarti mereka tidak puas. Ingat Pemerintah Kabupaten Keerom sudah menetapkan anggaran sebesar Rp.50 Milar untuk pencegahan Covid-19 di Kabupaten Keerom,anggaran yang besar ini justru tidak jelas pengunaanya saat ini,”ucap Tuamis.

Tidak hanya itu, Servo berharap penggunaan dana untuk pencegahan dan pengendalian Covid-19 di Kabupaten Keerom harus transparan.Iapun meminta kepada pihak-pihak berwajib untuk mengaudit penggunaan dana Covid-19 di Kabupaten Keerom.

“Kami berharap Kapolda Papua dan Kejati untuk turun cek, yang kami dengar dana untuk Covid-19 ini sebanyak 50 M tapi masih ada persolan di sembako yang dibagikan,” tuturnya.

Sementara terkait postingan Jubir Bupati Keerom, Mtsobikhan di media sosial seperti apa yang dilaporkan masyarakat tersebut dimana ia juga dinilainya telah menghina OAP di Keerom ini. Untuk itu pihaknya meminta  agar Kapolda Papua dan Kejati harus turun supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Saya lihat ini sebuah penghinaan terhadap Orang  Asli Papua  dan  Masyarakat Adat di Keerom ini.Atas hal ini maka kami  dari Dewan Adat siap memimpin untuk menduduki Kantor Bupati Keerom guna mempertanyakan pengunaan  anggaran Rp. 50 miliar dalam penganana Covid-19 di Kabupaten Keerom termasuk anggaran lainnya dari yang diberikan oleh Pemerintah Proinsi Papua,”tegasnya.

Untuk itu Dewan Adat akan mengusut terus dukungan masyarakat baik OAP maupun Nusantara untuk dorong proses ini bersama sama. Karena bagi Servo hal tersebut merupakan hak hidup bersama di Kabupaten Keerom dan tidak boleh ada perbedaan yang justru menimbulkan konflik.

Hal senada disampaikan Sekretaris Dewan Adat Keerom,Laurens Borotian, apa yang terjadi saat ini adalah sebuah bukti nyata  terhadap  keburukkan kinerja kerja dari Tim Satgas Covid-19 di Kabupaten Keerom dalam penanganan kebutuhan paket sembako kepada warga yang terkena dampak covid-19 di Kabupaten Keerom ini.

Apalagi, lanjutnya,  setelah dicek bantuan bama ini sangat tidak layak, masyarakat diberikan jenis beras yang kotor. Padahal ada bantuan dari Pemerintah tingkat kampung dengan jenis beras yang jauh lebih bagus dan sangat lengkap, justru dari Pemerintah Kabupaten punya yang jelek.

“Ini aksi spontanitas dari masyarakat. Sebagai Dewan Adat Keerom, kami harus menerima mereka dengan baik. Karena mereka yang datang merupakan masyarakat adat Orang Asli Papua  (OAP). Sehingga sebagai lembaga adat yang merupakan representatif dari masyarakat adat di Kabupaten Keerom akan siap menindaklanjuti dengan mengembalikan bantuan sembako ini kepada Pemda Keerom melalui Tim Covid-19 Kabupaten Keerom,”tutup Borotian.(ans).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed