Noken Menjadi Cenderamata PON XX Dan Identitas Budaya Papua

Tiffa News

Oleh : Christina Paulina Kano *

NOKEN  adalah  tas tradisional masyarakat asli Papua yang digunakan dengan memakai dahi atau bagian depan kepala dan  mengalungkannya ke arah belakang punggung, terbuat dari serat kulit kayu yang berfungsi  untuk membawa barang-barang kebutuhan sehari-hari. Noken ini akan menjadi salah satu cenderamata (suvenir) khas Tanah Papua bagi para atlet dan official serta tamu undangan perhelatan akbar olahraga PON XX Papua pada Oktober 2021 mendatang.

Panitia Besar (PB) PON XX Tahun 2021 telah memutuskan menjadikan Noken sebagai salah satu cenderamata khas Papua bagi para atlet dan para tamu undangan yang berdatangan dari berbagai penjuru Tanah Air ketika mereka berada di Papua dalam rangka pesta olahraga tingkat nasional empat tahunan itu.

“Noken itu adalah tas asli yang khas dari masyarakat asli Papua. PB PON XX ingin menjadikan noken sebagai salah satu cenderamata PON XX tahun 2021. Kita berharap, dengan dijadikannya noken sebagai cenderamata PON XX maka hasil kerajinan tangan mama-mama asli Papua ini dapat terjual untuk meningkatkan pendapatan keluarga di rumah,” kata Ketua Bidang I PB PON XX, Yusuf Yambe Yabdi.

Lebih dari itu, noken adalah penunjuk identitas budaya Papua. Ini yang harus dimunculkan pada PON XX pada Oktober mendatang.

Dia mengatakan, pihak yang membuat rencana menjadikan noken sebagai salah satu cenderamata khas Papua pada PON XX adalah Bidang II yang menangani  pemasaran PB PON Papua dan Sub PB PON di empat klaster PON yaitu Klaster Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Mimika dan Klaster Kabupaten Merauke.

Peneliti Profesional Independent di Noken Ekologi Papua, Titus Pekei berpendapat, tas  noken adalah karya budaya kearifan lokal daerah.

“Orang Papua harus mulai aksi mencintai jati diri atau identitas yang ada dalam simbol noken itu dengan cara dan gaya masing-masing. Dimana pun dan  kapan pun, identitas itu sangat melekat pada diri kita. Noken ini identitas orang Papua,” tuturnya seperti diberitakan media Jubi.com.

Sementara itu, Arkeolog pada Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto berpendapat, noken yang merupakan tas tradisional asli buatan mama-mama (ibu-ibu) Papua merupakan simbol dari kesuburan dan perdamaian bagi masyarakat Papua.

Dari aspek ekonomi , ajang PON XX dapat menghasilkan keuntungan lebih besar bagi mama-mama Papua dari hari biasanya. Dengan harga noken berbeda pada ajang PON XX Papua.

Harga noken bervariasi mulai dari ratusan sampai dengan jutaan rupiah, sesuai dengan bahan yang digunakan dalam pembuatan noken.

Seperti Noken anggrek emas atau toya agiya buatan Suku Mee di Kabupaten Dogiyai, Papua, noken anggrek emas ini dibanderol jutaan rupiah.

“Harga satu buah noken anggrek emas Rp 4 juta hingga Rp 10 juta lebih,” kata Hari Suroto.

Tas Noken  sebagai hasil  karya kebudayaan yang memiliki nilai sangat tinggi melambangkan sebuah  identitas daerah. Kerajinan noken  telah dilakukan secara turun temurun, dari masa ke masa dan lahir melalui proses yang alami.

Noken dimanfaatkan untuk menyimpan barang, juga hasil kebun  seperti umbi-umbian dan sayur-mayur.

Noken terbuat dari  serat kayu. Serat kayu itu kemudian diwarnai dengan menggunakan pewarna alami yaitu kunyit, arang, kulit kerang yang sudah ditumbuk halus, kapur dan bahan alam lainnya.

Walikota Jayapura sekaligus Ketua Umum Sub PB PON XX Kota Jayapura, Dr Benhur Tomi Mano, berpendapat, noken sebagai suvenir yang disediakan dalam PON XX dapat meningkatkan semangat para pengrajin noken dalam memproduksi tas noken.

Menurut Mano, Pemkot Jayapura terus menggiatkan para pengrajin noken di Kota Jayapura untuk tidak henti-hentinya membuat noken dengan berbagai ukuran.

“Noken dari Port Numbay (sebutan Kota Jayapura) akan menjadi suvenir PON XX 2021,” kata Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano.

Noken yang terlihat  polos, oleh pengrajinnya  dapat dihiasi  ikon PON XX sehingga kelihatan unik sekaligus menarik minat peserta PON XX untuk memilikinya.

Tomi Mano berpendapat bahwa kehadiran  tas noken pada PON XX Tahun 2021 tidak hanya bertujuan  memperkenalkan budaya Papua bagi para peserta PON XX, namun suvenir ini diharapkan dapat berdampak positif  bagi peningkatan perekonomian  masyarakat di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura.

Para peserta PON Papua  yang berdatangan dari seluruh penjuru Tanah Air Indonesia, khususnya bagi mereka yang belum  pernah berkunjung ke Papua akan menjadikan noken sebagai cenderamata khas Papua untuk dibawa pulang ke daerah asal masing-masing.

Warisan Budaya Papua

Seperti telah dipaparkan di atas, masyarakat asli Papua biasanya menggunakan noken  untuk membawa hasil-hasil pertanian seperti sayuran, umbi-umbian, dan juga untuk membawa barang-barang dagangan ke pasar. Karena keunikannya yang dibawa dengan kepala, noken ini di daftarkan ke Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) sebagai salah satu hasil karya tradisional dan warisan kebudayaan dunia. Pada 4 Desember 2012, noken khas masyarakat Papua ditetapkan sebagai warisan kebudayaan tak benda oleh organisasi di bawah naungan PBB itu.

Berbagai sumber literatur yang dirangkum penulis menerangkan  bahwa tas Noken itu adalah  asli buatan mama-mama di Papua. Tas tradisional Noken memiliki simbol kehidupan yang baik, perdamaian, dan kesuburan bagi masyarakat di Tanah Papua khususnya masyarakat asli dari suku Mee/Ekari, Damal, Yali, Dani, Lani dan suku Bauzi.

Kaum perempuan  dari suku-suku asli tersebut di atas  sejak kecil sudah harus belajar untuk membuat noken, karena membuat Noken dari dulu hingga sekarang  juga  melambangkan kedewasaan si perempuan itu. Bagi masyarakat tradisional, apabila  perempuan Papua belum  mampu dan mahir merajut tas  noken  berarti dia belum dianggap dewasa dan belum dapat menikah membangun hidup berumah tangga.

Noken dibuat karena suku-suku di Papua membutuhkan wadah yang dapat memindahkan barang ke tempat yang lain.

Berbagai sumber hasil penelitian tentang noken menjelaskan bahwa noken terbuat dari bahan baku kayu pohon Manduam, pohon Nawa atau Anggrek hutan dan masih banyak lagi jenis pohon yang umum digunakan. Masyarakat Papua biasanya menggunakan Noken untuk bermacam kegiatan, Noken yang berukuran besar (disebut Yatoo) digunakan  untuk membawa barang seperti kayu bakar, tanaman hasil panen, barang-barang belanjaan, atau bahkan digunakan untuk menggendong anak.

Noken yang berukuran sedang (disebut Gapagoo) digunakan untuk membawa barang-barang belanjaan dalam jumlah sedang, dan noken yang berukuran kecil (disebut mitutee) digunakan untuk membawa barang-barang pribadi.

Keunikan Noken juga difungsikan sebagai hadiah dan kenang-kenangan untuk tamu yang biasanya baru pertama kali menginjakkan kaki di Bumi Cenderawasih ini  dan dipakai dalam upacara.

Ternyata, PON XX Papua Tahun 2021 yang akan digelar pada 2-15 Oktober 2021 mendatang selain merupakan ajang pembuktian prestasi para atlet Tanah Papua pada khususnya,  dan Indonesia pada umumnya, tetapi juga  menjadi momentum yang sangat tepat untuk mempromosikan noken yang adalah hasil kerajinan tangan masyarakat asli Papua sebagai  identitas (jati diri)  budaya masyarakat asli Papua.

*Christina Paulina Kano : Mahasiswa FMIPA UNCEN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

KESUNGGUHAN PB PON XX PAPUA PERSIAPKAN AKOMODASI BAGI ATLET

Oleh    :  Fitria Christin Lumban Gaol* PESTA akbar dibidang olahraga  PON XX Tahun 2021 sudah di ambang pintu. Pesta olahraga tingkat nasional empat tahunan itu  menurut rencana digelar pada 2-15 Oktober mendatang dimana Papua telah ditetapkan sebagai tuan rumahnya. Salah satu bidang yang tidak dapat disepelekan oleh tuan rumah adalah […]
Instagram did not return a 200.
Translate »