oleh

OBITUARI : Yairus Gwijangge Sang “Arsitek” dari Nduga

TIFFANEWS.COM,- Bupati Nduga-Papua, Yairus Gwijangge meninggal dunia di Jakarta pada Minggu (15/11/2020) dini hari. Sebelum meninggal kabarnya sudah dua hari ia menjalani perawatan di Rumah Sakit Mayapada-Jakarta.

Begitu cepat Yairus pergi meninggal Papua dan Nduga. Ia meninggal dunia dalam usia 52 tahun dan di tengah perhatian dan pembicaraan banyak orang terhadap kabupaten yang dipimpinnya. Ada persoalan yang penting di sana yakni masalah pengungsian dan konflik yang belum juga selesai.

Bupati dua periode ini, pertama kali terpilih 2011 dan kemudian terpilih kembali 2017 untuk periode kedua, menjadi tumpuan orang bertanya tentang masalah-masalah yang terjadi di Nduga juga berharap di bawah kepemimpinannya apa pun caranya,  masyarakat bisa kembali menikmati kedamaian seperti sedia kala.  Semua itu ia kerjakan hingga ajal memanggilnya kembali ke rumah Bapa di Surga.

Yairus adalah salah satu tokoh penting dalam pendirian kabupaten Nduga, yang pada tahun 2008 dimekarkan dari kabupaten induk, Kabupaten Jayawijaya. Di tengah usulan ke DPR RI tentang pentingnya kabupaten Nduga, Yairus adalah salah satu tokoh yang ikut mengkawal proses dari Wamena-Jayawijaya hingga senayan gedung DPR RI. Akhirnya Kabupaten Nduga resmi terbentuk melalui pengesahan Undang-Undang No 6 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Nduga di Provinsi Papua.

Dalam Undang-Undang No 6 Tahun 2008, jelas disebutkan bahwa pembentukan Kabupaten Nduga sebagai sebuah langkah awal untuk mewujudkan kemajuan daerah.  Lainnya adalah perlunya peningkatan penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, dan pelayanan publik guna mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat.

Sebelum pemekaran Kabupaten Nduga dan kabupaten lainnya, kabupaten Jayawijaya terkenal begitu luasnya. Barangkali,  seluas deretan pegunungan Jayawijaya yang sebagian besar masuk ke dalam bagian wilayah taman nasional Lorentz. Taman Nasional Loretnz yang luasnya mencapai 2.505.600 hektar adalah sebuah wilayah hutan tropis terluas di Asia Pasifik.  Di sudut-sudut hutan di taman nasional Lorentz itu, hidup beragam kebudayaan termasuk Nduga di dalamnya.

Tekad untuk membuka daerah terisolir  menjadi salah satu tujuan dimekarnya kabupaten Nduga. Bagaimana pun, di wilayah Pegunungan Tengah ketika itu , wilayah sekarang menjadi Kabupaten Nduga  adalah gambaran nyata bagaimana keterisolasian wilayah dan minimnya pelayanan publik.

Bupati Nduga Yairus Gwijangge tengah menunjukan peta pembangunan kabupaten Nduga

Absennya praktek-praktek penyelenggaraan pemerintahan dibarengi dengan ekspolitasi  alam mulai merusak kedamaian masyarakat pedalaman yang menganggap bumi adalah bagian sakral dalam kehidupan mereka. Banyak penyebab lain, yang juga turut memberi andil bagi keterpurukan masyarakat di sana.

Itulah sebabnya, terbentuknya wilayah Nduga sebagai sebuah kabupaten tersendiri, diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mendorong peningkatan kualitas pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah, mempercepat pembangunan serta meningkatkan efektivitas partisipasi masyarakat, dan dapat memberikan kemampuan dalam pemanfaatan potensi daerah secara bijak dan bertanggungjawab.

Letak wilayah Kabupaten Nduga pada 121o,73’ BT-123o,15 BT dan 03o,15’ LS-04o,25’ LS.2 Wilayah ini mencakup delapan distrik seperti yang disebutkan dalam UU 6 Tahun 2008  meliputi; Distrik Kenyam, Distrik Mapenduma, Distrik Yigi, Distrik Wosak, Distrik Geselma, Distrik Mugi, Distrik Mbuwa, dan Distrik Gearek.

Setelah disahkannya Undang-Undang No 6 Tahun 2008, proses pemerintahan transisi menjadi awal menata kabupaten baru ini.  Setelah kemeriahan pesta adat sebagai simbol sukacita masyarakat menyambut keberadaan kabupaten baru, proses selanjutnya yang dilakukan adalah memasuki  masa transisi pembentukan unit pemerintahan baru hingga proses pemilihan kepala daerah defenitif.

Arsitek Pemekaran 

Saat proses pengajuan usulan pemekaran, Yairus ketika itu duduk sebagai salah satu anggota DPRD Kabupaten Jayawijaya. Di lembaga dewan ini, ia adalah wakil rakyat dari tanah kelahirannya Mapenduma-Nduga yang saat itu masih berada dalam wilayah Kabupaten Jayawijaya.

Saat pengajuan usulan pemekaran, berbiasa terjadi pro-kontra. Itulah politik, masing-masing memiliki argumentasi tentang sesuatu yang belum terjadi, hanya berangkat dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Yairus berada di pihak yang mendukung yang berarti ia berada di jalur yang menganggap  bahwa keterisolasian wilayah dapat ditempuh dengan mendekatkan pelayanan publik, salah satunya dengan pemekaran kabupaten.

Jalur ini, kemudian mengantarnya untuk membuktikan anggapan tersebut agar benar-benar pemekaran membawa pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat. Setelah masa transisi pemerintahan, proses politik  memasuki tahapan lain yakni pemilihan pemimpin defenitif. Yairus pun terpanggil ke sana  untuk menjadi calon bupati. Pemilu usai dan ia terpilih sebagai Bupati Nduga.

Yairus  yang telah memulai kepadanya diberi beban lain yakni harus menyelesaikan, minimal menahkodahi peletakan dasar-dasar pemekaran bagi kabupaten Nduga. Sebagai salah satu tokoh pengusul pemekaran, yang kemudian menjadi bupati, ia bisa dibilang sebagai seorang arsitek, seorang perancang pembangunan. Sebelum pemekaran, ia ikut merancang bentuk-bentuk baru wajah pembangunan pegunungan tengah dengan memekarkan wilayah dari kabupaten Jayawijaya. Setelah pemekaran ia merancang dan meletakan dasar pembangunan kabupaten tanah kelahirannya.

Saat menjadi bupati, sosok yang dikenal sangat  bersahaja dan merakyat  semasa hidupnya ini, mulai terlibat begitu intens dalam pembangunan kabupaten Nduga. Ia kepala daerah, berarti banyak hal dari pembangunan harus berangkat dari keputusannya. Fokus perhatian adalah  pemberdayaan masyarakat dan peningkatan sumber daya manusia (SDM). Perhatian pada peningkatan ekonomi, pendidikan dan kesehatan adalah sebagian sedikit perhatian yang harus diberikan, bila menghendaki SDM Nduga.

Setelah sumber daya manusia, maka ia juga memikirkan pembangunan infrastruktur yang dapat memanusiakan manusia ke arah yang lebih baik. Pembangunan ibukota kabupaten salah satunya. Sementara membuka keterisolasian antar distrik dan dengan kabupaten-kabupaten lainnya ditempuh dengan pembangunan jalan, bandara dan jembatan. Bagaimana pun Nduga  harus lebih cepat berhubungan dengan Wamena, Jayapura juga kota-kota lainnya.

Membangun kota di tengah hutan, demikian orang sering menyebut berhubungan dengan pembangunan ibukota kabupaten di pegunungan tengah, berbagai  infrastruktur digenjot seperti jembatan dan bangunan, mendorong percepatan pembangunan  pemukiman yang layak huni termasuk pengadaan gedung-gedung kantor yang siap melayani masyarakat.

Merajut hubungan-hubungan politik itu juga peran yang ia jalani termasuk harus turun tangan menyelesaikan konflik-konflik dalam masyarakat. Hubungan keluar pun demikian, harus ia ciptakan termasuk menjadikan kabupatennya layak diperhatikan karena rama pada hidup manusia. Usaha ini tidak sia-sia,  hingga suatu saat yang lalu tepatnya 31 Desember 2015, Presiden Jokowi dan Ibu Negara datang sendiri mengunjunginya di Nduga.

Pemimpin yang Sederhana

Sosok seorang Yairus adalah sosok pemimpin yang sederhana dan merakyat. Kesederhanaannya tampak dari cara ia menyapa orang, dan berpenampilan. Ia sering berpakaian sederhana, dan berewokan yang dibiarkan apa adanya.  Saat mengunjungi warga, seringkali ia  berjalan kaki, dan kadang pula naik ojek. Ia lebih banyak berkantor di tengah masyarakat dengan mendatangi tempat – tempat dimana warga berkumpul. Ia mengunjungi warga di kampung-kampung, termasuk mereka yang mendiami hutan berantara.

Ia tak sekadar mengunjungi dalam pengertian melihat-lihat keadaan, tapi justru datang untuk berdialog dengan masyarakat. Ia juga sering memfasilitasi forum-forum dialog warga sehingga aspirasi dan keinginan rakyat bisa langsung disampaikan.  Rumahnya pun mudah dikunjungi karena terbuka bagi siapa saja.

Suami dari  Debora Nirigi, SE ini juga dianggap sebagai pribadi yang tulus. Ketulusan yang selalu nampak dalam tindakan itu, membuat dirinya tampil apa adanya. Orang tulus tidak punya agenda di luar kemampuannya. Apa yang diperbuat adalah apa yang sanggup dia perbuat. Tidak mengada-ada atau sekedar menyenangkan pihak tertentu. Tidak ada pamrih, trik, dan siasat, apalagi soal pertimbangan untung rugi.

Yairus  memiliki sikap rendah hati. Ia tidak pernah bicara sinis. Ia selalu membungkuk bila ditemui orang. Siapa saja disapa dan ditanya kabarnya. Ia sama sekali tak memandang orang dari jabatannya. Ia lebih memandang jabatan sebagai “kerja” bukan status sosial.

Bupati Nduga Yairus Gwijangge sosok yang sederhana dan merakyat

Menelusuri pemberitaan dan beberapa terbitan yang berhubungan dengan sosok ini, ternyata karakter melayani, dan rendah hati ini  memang sudah terbentuk sejak masa kecil. Ia lahir dari keluarga yang sangat mendorong anak-anak menjadi orang-orang yang mandiri dan menghargai orang lain.

Yairus Gwijangge lahir pada 1 Januari 1968 di Mapnduma dari pasangan Kugianep Gwijangge (ayah) dan Poksaningga Unue (ibu).  Yairus kecil terbiasa ikut berpindah-pindah bersama kedua orang tuanya dalam wilayah Nduga.

Sebagai anak petani sikap  ingin maju terpampang dalam benaknya sejak kecil. Kesadaran akan pentingnya pendidikan telah tertanam sejak kecil. Saat keluarganya berpindah dari Mapnduma menuju Sigimbut (Gilpit), Yairus dapat  menyelesaikan Sekolah Dasar di SD YPPGI Mapnduma pada tahun 1985. Setelah lulus, Yairus kemudian meneruskan sekolahnya di SMP YPK Sentani dan tamat pada tahun 1988.

Kegigihan Yairus dan besarnya dukungan keluarga dalam pendidikan dapat dilihat dari keteguhan Yairus untuk melanjutkan jenjang pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Setelah menyelesaikan SMP, Yairus berpindah lagi untuk melanjutkan sekolahnya ke SMP YPK Sentani dan diselesaikannya pada tahun 1988. Hingga kemudian Yairus memutuskan untuk berpindah ke Jayapura dan mendaftarkan diri ke Sekolah Pendidikan Guru di SPG AKP Sentani.

Usaha Yairus untuk melanjutkan sekolah tidaklah selalu berjalan mulus. Yairus sempat mengalami kesulitan pembiayaan baik untuk biaya pendidikan, maupun biaya penginapan, yang menyebabkan orangtuanya di kampung harus bekerja ekstra keras. Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari selama jauh dari orang tuanya, Yairus pun harus bekerja keras. Dirinya terbiasa berkebun atau menanam singkong yang hasilnya dijual ke pasar.

Dari hasil kerja kerasnya inilah, Yairus mampu menunjukkan kemandiriannya memenuhi kebutuhan sekolah dan kebutuhan sehari-harinya selama di Sentani. Sehingga pada waktu itu Yairus remaja telah mampu memenuhi kebutuhan sekolahnya sendiri, seperti membeli buku, sepatu, seragam juga makan.

Selama tinggal di Asrama Taruna Sosial, ia memiliki banyak teman.  Bakat pemimpin yang ada pada dirinya, membuatnya diberi kepercayaan oleh ketua asrama Ninmin, yaitu Bapak Anamagal Yarinap untuk mengawasi mereka yang khusus tinggal di Taruna Polomo. Yairus menyelesaikan Sekolah Pendidikan Guru pada tahun 1991.

Selepas dari SPG,Yairus ingin meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi semakin besar. Ia mencoba mendaftarakan diri di dua perguruan tinggi yaitu STT GKI Iskine di Abupura dan STT Walterpos di Kampung Harapan. Ternyata dirinya berhasil lolos ujian dan dinyatakan diterima di kedua perguruan tinggi tersebut.

Saat harus memilih di antara keduanya, Yairus sebenarnya lebih memilih STT GKI Iskine Abepura, namun ketua Asrama Ninmin yang saat itu menjadi donatur pendidikannya memberikan rekomendasi agar Yairus masuk ke STT Walterpos Kampung Harapan.

Yairus kemudian mulai membangun keluarga bersama istrinya Debora Nirigi di Wamena, sekaligus menjadi mahasiswa di program D2 Akademi Agama Kristen Effata Wamena (AKK). Di sekolah ini Yairus melanjutkan studinya yang sempat terputus. Tahun 1995, ia  lulus dari program D2 Effata Wamena.

Pendidikan guru yang ditempuhnya mengantarkan Yairus menjadi seorang guru pada tahun 1995 dengan status pegawai negeri. Saat itu pemerintah membuka formasi baru untuk 4 orang guru. Setelah mengikuti berbagai ujian, akhirnya Yairus diterima menjadi guru di SD Inpres Yigi yang terletak di tanah kelahirannya, Mapenduma. Selama tujuh tahun dirinya mengabdi di SDN Inpres Yigi.

Menjadi seorang guru tidak membuat Yairus berhenti belajar. Yairus kembali memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dengan mengikuti tugas belajar untuk program S1 di Universitas Cendrawasih (Uncen), Jayapura dan berhasil diselesaikannya pada tahun 2005.

Suatu perubahan terjadi pada diri Yairus. Setelah tamat dari Uncen, Yairus justru mulai meminati politik. Selain guru yang dekat dengan kehidupan masyarakat, menjadi politisi pun juga mendekatkan diri pada masyarakat.

Pada tahun 2004 Yairus menjalani karir baru sebagai politisi. Pada tahun ini, seiring dengan agenda penting demokrasi yaitu pelaksanaan pemilu, Yairus mendaftarkan diri sebagai salah satu calon wakil rakyat di Kabupaten Jayawijaya melalui Partai Damai Sejahtera (PDS).  Dukungan masyarakat membuatnya mendulang suara terbanyak hingga duduk sebagai wakil rakyat Kabupaten Jayawijaya.

Setelah menjadi  anggota DPRD, ia tidak tinggal diam. Ia mulai ikut terlibat dalam memperjuangkan pemekaran kabupaten Nduga. Ia terpilih menjadi ketua tim pemekaran atau pemekaran Kabupaten  Nduga dan sekretarisnya Drs. Edizon Nggawijang dan Paul Nap (alm) dan bersama tokoh yang lain.

Seiring dengan pemekaran maka ia mencalonkan diri pada tahun 2012 dengan mengendarai partai Golkar.  Akhirnya momen ini mengantarkanya menjadi Bupati Kabupaten Nduga.

Sebagai kabupaten baru, Yairus selama menjadi pemimpin telah melatakan dasar pembangunan kabupaten Nduga. Dari dasar-dasar ini membuka peluang bagi pemimpin setelahnya untuk melanjutkannya. Ia seorang arsitek, pemimpin yang sederhana, murah hati, berani dan merakyat.  Selamat jalan kembali ke Rumah Bapa di Surga  (Benjamin Tukan/dari berbagai sumber)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed