Papua Damai atau Konflik Tergantung Elit Politik dan Cendekiawan

Tukan Ben
Foto Ilustrasi : Alam pegunungan tengah Papua (Foto : Dok tiffanews)

TIFFANEWS.COM –  Apakah Tanah Papua (Provinsi Papua dan Papua Barat) ini akan menjadi wilayah yang damai (kondusif) atau  sebuah daerah penuh konflik (pertikaian atau perseteruan)  berkepanjangan bersimbah darah dan air mata, sepenuhnya bergantung pada para elit politik dan kaum cendekiawan (terpelajar)  Papua itu sendiri.

Hal itu disampaikan pemerhati masalah sosial-politik Tanah Papua, Omega Bastian (Om Bas) di Jayapura, Minggu (27/6) kepada Tiffanews.com mencermati eskalasi politik dan keamanan-ketertiban masyarakat (Kamtibmas) yang terjadi di Jayapura, ibukota Provinsi Papua  pada pekan terakhir ini.

“Situasi konflik  atau perseteruan  ataukah situasi damai dan kondusif  dalam kehidupan  seluruh warga masyarakat di Tanah Papua  sejak dulu, sekarang hingga yang akan datang sepenuhnya bergantung pada para elit politik dan kaum cendekiawan atau  cerdik-pandai   di Tanah Papua.  Sebaliknya,  bukan tergantung pada masyarakat kecil dan sederhana yang setiap hari  sudah dengan susah payah mengarungi hidup, bersimbah keringat dan air mata hanya untuk mempertahankan dan menyambung hidup mereka dari jam ke jam dan dari hari ke hari,” kata Om Bas.

Dia mengatakan, terkait gonjang-ganjing jabatan pelaksana harian (Plh) yang dijabat oleh Sekda Papua Dance Yulian Flassy yang diperdebatkan para elit politik dan kaum cendekia, sebenarnya dapat dijelaskan secara baik-baik, sejuk dan bijaksana  oleh pihak Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) atau oleh Sekda Dance  Flassy sendiri apabila penugasan tersebut tidak atau belum dipahami secara baik dan benar oleh kita semua.

“Justru kekacauan terjadi ketika sekelompok elit politik dan cendekiawan Papua mendadak bersikap sangat emosional ketika membaca isi telegram Kemendagri yang dipikirkan atau diduga  sebagai sebuah kudeta  terhadap jabatan Gubernur yang dipangku oleh Lukas Enembe. Oknum  elit dan cendekiawan ini  secara emosional langsung berprasangka  buruk  seolah-olah Gubernur  Lukas Enembe dijatuhkan  dengan lahirnya telegram tersebut,” katanya.

Dari sikap emosional dan penuh curiga yang  muncul secara mendadak  akibat ketidakmengertian atas isi telegram itulah akhirnya melahirkan konflik politik dan amukan massa pendukung Gubernur Lukas Enembe.

“Massa pendukung  Lukas Enembe yang berkumpul dan berorasi serta  melakukan pawai itu adalah warga  kecil dan sederhana, kaum muda yang sedang bertumbuh menuju kedewasaan, rakyat biasa yang tidak tahu akan lahirnya telegram tersebut. Mereka dengan serta merta penuh emosional berkumpul dan berpawai itu justru karena diajak, dikomandoi oleh elit politik dan cendekiawan. Bagaimana mereka tahu bahwa ada telegram dan ada dugaan kudeta jabatan gubernur  jika tidak diberitahu oleh oknum elit politik dan  cendekiawan itu?” tanya Om Bas bernada reflektif.

Berita atau informasi berviral tentang telegram Kemendagri terkait jabatan Plh gubernur Papua  dan disusul polemik keras terkait hal itu, akhirnya  sampai ke telinga kaum muda  dan ditelan mentah-mentah oleh para pendukung dan simpatisan Lukas Enembe itu  diduga   datang dari oknum-oknum  elit politik dan kaum cerdik-pandai Papua sendiri.

Pertanyaan kritis adalah siapa yang menggerakkan kaum muda, warga sederhana yang sedang sibuk mencari nafkah untuk  berkumpul serta berpawai kalau bukan dari  elit politik dan orang terpelajar itu sendiri?

“Bagaimana mungkin sebuah telegram terkait pelaksana harian gubernur Papua begitu mudahnya  ditanggapi secara dangkal, emosional, terburu-buru, penuh intrik dan curiga sembari mengajak dan menggerakkan kaum muda seperti yang terjadi beberapa hari dalam pekan terakhir ini? Bukankah  seorang elit politik dan cendekiawan dituntut menggunakan akal sehat, sejuk dan bijaksana dalam menanggapi sebuah permasalahan yang terjadi di tengah kehidupan bermasyarakat,”  katanya dengan nada bertanya.

Kesimpulan menjadi sangat jelas dan terang benderang yaitu bahwa kekacauan atau kedamaian Tanah Papua justru sangat  bergantung pada kemampuan dan kecerdasan serta  kedawasaan emosional, intelektual, serta kedewasaan mental-spirtitual dari seorang elit politik dan cendekiawan Papua itu sendiri.

Dia berharap kiranya aparat keamanan tidak hanya menjaga Kamtibmas di Tanah Papua tetapi juga ikut mencermati “dalang” di balik perseteruan ini. Tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan dan dituntaskan dengan baik dan sejuk apabila semua pihak terutama oknum  elit politik dan cendekiawan tidak menjadikan atau memanfaatkan  rakyat kecil dan sederhana  khususnya kaum muda sebagai alat perjuangan politik   yang instant.

“Kiranya, para elit politik dan cendekiawan tidak menjadikan aparat keamanan TNI – Polri sebagai  pemadam kebakaran ketika mereka dengan sangat terpaksa  harus berhadap-hadapan dengan massa pengunjukrasa  yang tidak berdosa yang bertindak brutal akibat diprovokasi oknum atau kelompok orang tertentu yang ingin mengail di air keruh. Orang lain yang punya kepentingan politik, tetapi justru tentara dan polisi yang jadi korbannya,” kata Om Bas. (Ade/*bn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Peralatan Biliar untuk PON XX Segera Dikirim ke Papua

TIFFANEWS.COM,- Panitia Besar Pakan Olahraga Nasional (PB PON) XX 2021 Papua melaporkan sebagian perlengkapan pertandingan yang dibutuhkan sudah berada di tanah air dan segera dikirim ke masing-masing klaster penyenggelaran multi ajang olahraga nasional empat tahunan itu. Salah satu pelaratan yang siap distribusikan adalah peralatan biliar. Peralatan olahraga bola sodok itu […]
Instagram did not return a 200.
Translate »