oleh

Paradigma Baru dalam Prinsip New Normal Pandemi Covid-19

-OPINI-510 views

Oleh : Methodius Kossay

Dunia saat ini sedang dilanda Pandemi Covid-19 yang sangat mengerikan. Virus Korona atau Corona Virus adalah sekumpula virus dari subfamili Orthocoronavirinae dalam keluarga Coronaviridae dan ordo Nidovirales. Kelompok virus ini dapat menyebabkan penyakit pada burung dan mamalia (termasuk manusia). Pada manusia corona virus dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan yang umumnya ringan, seperti pilek, meskipun beberapa bentuk penyakit seperti SARS, MERS dan Covid-19 sifatnya lebih mematikan.

Korban jiwa akibat virus korona pun terus bertambah. Update global terkini jumlah kasus Covic-19 (23 Mei 2020) di 216 kawasan atau negara yang dilansir dari situs resmi Covid19.com ; kasus terkonfirmasi 5.105.881 dan jumlah kematian 333.446 jiwa.

Sedangkan untuk wilayah Indonesia, kasus positif Covid-19 mencapai 21.745, jumlah total sembuh 5.249 dan jumlah kematian mencapai 1.351 jiwa. Perkembangan pendemi Covid-19 yang terjadi, terus mengalami peningkatan.

Langkah-langkah Pemerintah Indonesi melalui Kementerian Kesehatan dengan dibentuknya tim gugus covid-19 terus berupaya dalam menekan angka penyeberan covid-19. Beberapa kebijakan telah diambil dan dilakukan diantaranya adalah Sosial Distance, Pembatasa Social Berskala Besar (PSBB) dan lain lainnya. Namun angka positif Covid-19 terus mengalami signifikan walaupun sudah ada imbauan dan larangan dari pemerintah. Hampir di setiap negara menerapkan beberapa kebijakan untuk menekan angka penyebaran Covid-19.

Munculnya Virus Korona ini merubah tatanan masyarakat dunia saat ini. Guna mencegah penularan wabah virus korona yang meluas, masyarakat diimbau bahkan dipaksa untuk tinggal di rumah. Sekolah, bekerja bahkan beribadah pun dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja.

Hampir semua negara mengimbau warganya untuk tidak beraktivitas di luar rumah jika tidak ada kepentingan yang mendesak. Terkecuali, memang bagi mereka yang harus keluar dan kegiatannya tidak bisa dilakukan dari rumah.

Perubahan tersebut tentu sangat berdampak luas di banyak sektor. Pasalnya berubahnya aktivitas masyarakat tersebut membuat dunia usaha sepi, seperti bidang pariwisata, transportasi online, penjuaan retail dan masih banyak lagi.

Berjalannya waktu, tinggal di rumah dinilai tidak bisa selamanya diterapkan untuk menjaga keseimbangan perekonomian. Sejumlah negara pun mulai melonggarakan kebijakan terkait mobilitas warganya.

Di sinilah, pola hidup baru atau new normal akan diimplementasikan. Lantas, apa dan seperti apa new normal tersebut?

Dikutip dari kompas.com ; Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmita mengatakan, new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.

Menurut Wiku, prinsip utama dari new normal itu sendiri adalah dapat menyesuaikan dengan pola hidup. “Secara sosial, kita pasti akan mengalami sesuatu bentuk new normal atau kita harus beradaptasi dengan beraktivitas, dan bekerja, dan tentunya harus mengurangi kontak fisik dengan orang lain, dan menghindari kerumunan, serta bekerja, bersekolah dari rumah,”.

Wiku juga menerangkan, secara sosial disadari bahwa hal ini akan berpengaruh. Pasalnya, ada aturan yang disebutkan dalam protokol kesehatan untuk menjaga jarak sosial dengan mengurangi kontak fisik dengan orang lain.

Masyarakat, kata Wiku, akan menjalani kehidupan secara new normal hingga ditemukannya vaksin dan dapat digunakan sebagai penangkal virus korona. “Transformasi ini adalah untuk menata kehidupan dan perilaku baru, ketika pandemi, yang kemudian akan dibawa terus ke depannya sampai tertemukannya vaksin untuk Covid-19,” katanya lagi.

Beberapa ahli dan pakar kesehatan dunia telah memastikan bahwa kemungkinan paling cepat dapat ditemukannya vaksin adalah pada 2021.

Pendemi Covid-19 menjadi Monster bagi umat manusia di belahan dunia manapun di bumi ini. Crisis dan anomaly dalam paradigma baru harus dilakukan dan dimuculkan oleh para pakar kesehatan dunia di bawah badan kesehatan dunia WHO. Dengan perkembangan ilmu pengetahan dan teknlogi yang terus berkembang dengan paradigm baru tentu para pakar kesehatan dituntut untuk menemukan vaksin covid-19 tersebut.

Thomas Kuhn dalam teorinya mengatakan bahwa sejarah ilmu pengetahuan merupakan starting point dalam mengkaji permasalahan fundamental dalam epistemologi keilmuan karena sains pada dasarnya selalu ditandai dengan kuatnya paradigma serta revolusi ilmiah setelahnya.

Fase inilah yang diistilahkan Thomas Kuhn sebagai fase sejarah lahirnya ilmu pengetahuan baru, dimulai dengan normal science, kemudian terjadi anomaly dan crisis, setelah itu barulah muncul revolusi ilmiah sebagai bentuk lahirnya ilmu pengetahuan baru.

Maka suatu harusan bagi para pakar yang ahli dibidangnya untuk melakukan inovasi berupa penemuan vaksin covid-19 jika tidak maka kasus kematian terus meningkat dan bisa memusnakan umat manusia.

Tidak bisa dipastikan, kapan akan berakhirnya pendemi covid-19 ini; para pakar kesehatan pun mengalami  kebingungan dan kewalahan untuk menemukan vaksinnya.

Perputaran roda kehidupan terus berjalan seiring ditengah pendemi Covid-19. Manusia terus bergerak mempertahankan kelangsungan hidup dan diharuskan beradaptasi dengan situasi dan kondisi saat ini. management hidup manusia dalam Paradigma baru pun tidak terlepas dalam berinovasi di tengah pandemi Covid-19. Tuntutan adaptasi adalah suatu keharusan dalam membangun paradigma baru terutama dalam prinsip new normal.

Sebagai bangsa yang beragam budaya, bahasa dan suku; sangat penting bagi setiap individu dan masyarakat mendisiplinkan diri bersama keluarga tinggal di rumah mengikuti protokol kesehatan untuk keselamatan diri dan keluarga.

Dalam penelitian dimensi kebudayaan Hofstede mengatakan bahwa budaya mempengaruhi kuat perilaku orang dalam situasi organisasi. Perilaku budaya yang ada dalam setiap pribadi manusia kini harus dirubah dalam paradigma baru sehingga hal tersebut secara tidak langsung terbentuk kebiasaan dalam prinsip new normal.

Kehidupan manusia sebelum terkena dampak Covid -19 akan sangat berbeda dengan kondisi saat ini ditengah pendemi Covid-19. Sehingga setiap diri kita sebagai umat manusia harus memulai kehidupan yang baru dalam konteks paradigma baru untuk memulai kehidupannya.

Setiap sektor bagi dari pemerintah, swasta, LSM, ormas dan lain sebagainya harus memulai untuk membuat solusi dalam menyikapi perkembangan covid-19 yang belum bisa dipastikan kapan akan berakhir dan hingga ditemukannya vaksin covid-19. Setiap intansi maupun badan usaha harus mencari mekanisme baru dalam menjalankan bekerja dan bisnis usahanya di sektor ekonomi dan di sektor lainnya. Memulai kebiasaan baru dalam paradigma baru dengan tetap pada prinsip new normal.

Selain itu bahwa pentingnya bagi setiap manusuia untuk menjaga pola hidup sehat; yang belum terbiasa olahraga maka akan mulai dibiasakan untuk berolahraga, yang belum terbiasa disiplin akan berusaha menjadi disiplin, dan lain sebagainya akibat pandemic covid-19.

Semua kegiatan dan aktivitas manusia kembali kepada diri kita masing-masing. Menjaga dan melindungi kembali kepada diri masing-masing orang. Pandemi covid-19 memaksa manusia harus keluar dari zona nyaman untuk memulai kehidupan baru.

Upaya dan langkah yang dilakukan oleh pemerintah untuk menekan penyebaran covid 19 belum bisa di pastikan kapan akan berakhirnya. Maka yang bisa dilakukan adalah upaya disiplin dan kesadaran oleh setiap orang. Setiap individu (Individualisme) harus memiliki kesadaran penuh dalam melihat situasi dan kondisi saat ini. Ada kerjasama (kolektivitas); baik dari pemerintah, masyarakat dan setiap invidu dalam memutus mata rantai penyebaran pendemi covid-19.

Sinergitas Pemerintah Pusat, BUMN lintas kementerian dan  pemerintah daerah baik provinsi/ kabupaten kota di Indonesia dari sabang sampai dengan merauke , serta LSM, ormas bersama-sama melawan Korona; ini harus dilakukan dalam perwujudan aksi nyata. Termasuk dalam update informasi  jumlah pasien positif atau PDP dan lain sebagainnya harus bersinergi dan imput berbasis data. Monitoring berkesinambungan dari setiap sektor  sangat penting.

Setiap orang harus memiliki kesadaran dan memiliki motivasi menekan angka penyebaran dan positif Covid-19. Robbins (1991) melalui teorinya mengatakan bahwa motivasi adalah ” kemauan untuk mengeluarkan usaha dengan keras terhadap tujuan organisasional, dikondisikan oleh kemampuan untuk memuaskan tingkat kebutuhan individu”.

Bagian penting dari pengertian tersebut mengarah pada tingkat kebutuhan individu. Jadi diperlukan motivasi dari kemuan individu dalam penyadarannya untuk menekan angka penyebaran Covid-19 di Indonesia. Membantu pemerintah dalam mengikuti protokol kesehatan dan disiplin.

Jika kita tetap mengasihi keluarga kita dan sesama manusia termasuk teman-teman kita untuk ikut imbauan dari pemerintah.

 

Methodius Kossay, Tokoh muda Papua, yang sekaligus sebagai motivator. Saat ini sedang melanjutkan pendidikan Doktor (S3) di Universitas Trisakti Jakarta.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed