Penanganan Stunting di Papua Terkendala Keterbatasan Kader dan Sinyal

Tukan Ben
Arsip Foto. Seorang warga menggendong bayinya di Kampung As, Distrik Pulau Tiga, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Upaya penanganan masalah gizi pada balita di daerah pelosok Papua masih terkendala keterbatasan kader dan akses telekomunikasi. (Foto : ANTARA/Joko Susilo)

TIFFANEWS.COM,- Upaya penanganan stunting–gangguan tumbuh kembang anak akibat masalah gizi kronis yang ditandai dengan ukuran tubuh pendek– di wilayah pelosok Provinsi Papua antara lain terkendala keterbatasan jumlah kader posyandu dan sinyal telepon seluler, kata Direktur Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Eka Sulistiya Ediningsih.

“Sinyal masih sangat jarang dan media massa di sana juga jarang,” katanya dalam acara Forum Komunikasi Jurnalis yang digelar secara virtual di Jakarta, Rabu (23/6).

Eka mengatakan bahwa saat ini BKKBN hanya mempunyai total 1,2 juta kader untuk mendukung upaya penanganan stunting di seluruh wilayah Indonesia. Dengan jumlah kader sebanyak itu, daerah-daerah yang berada di pelosok, termasuk daerah pelosok di Papua, belum seluruhnya bisa dijangkau.

“Jumlah kadernya tidak cukup untuk menangani lima juta balita, sehingga harus bermitra dengan perangkat desa di sana,” katanya.

Guna mengatasi masalah keterbatasan kader dan akses jaringan telekomunikasi, Eka mengatakan, BKKBN menggagas program 1.000 mitra untuk 1.000 hari pertama kehidupan. Program itu mewadahi kemitraan para pihak yang terlibat dalam upaya penanganan stunting.

Eka menjelaskan pula bahwa upaya pencegahan dan penanganan stunting di Papua dilakukan melalui pendampingan bagi remaja sebelum menikah, pendampingan bagi ibu pada masa kehamilan, dan pendampingan pada saat kelahiran anak hingga anak berusia dua tahun.

“Usia ideal pernikahan menurut pakar adalah 21 tahun, ini diukur dari kesiapan reproduksinya. Kita juga mendampingi selama masa kehamilan janin untuk memastikan pasokan nutrisi tetap terjaga,” katanya.

Pada saat bayi dilahirkan hingga menginjak usia dua tahun, Eka melanjutkan, kader akan mendampingi orang tua dalam memberikan nutrisi yang tepat pada anak.

Eka mengatakan, pemerintah berupaya menurunkan angka kasus stunting yang pada tahun 2020 masih sekitar 27 persen menjadi 14 persen pada 2024. (ant/*bn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

346 desa di Papua dan Papua Barat Belum Teraliri Listrik

TIFFANEWS.COM,- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat hingga triwulan I 2021 masih terdapat 346 desa yang belum teraliri listrik di seluruh Indonesia dengan rincian 276 desa terletak di Papua dan 70 desa di Papua Barat. “Masih terdapat 346 desa belum berlistrik di seluruh Indonesia, yakni Papua ada 276 […]
Instagram did not return a 200.
Translate ยป