oleh

Perang Lawan Covid 19, Papua Tanpa Panglima

-OPINI-2.344 views

“With great power comes great responsibility”

Uncle Ben, Spiderman Movie (2002)

Dengan kekuatan/kekuasaan yang besar, datang tanggung jawab yang besar. Kutipan bijak di atas sengaja saya ambil dari salah satu film favorit saya, Spiderman, yang berkisah awal Peter Parker, seorang pemuda labil yang sederhana secara tidak sengaja menerima anugerah seketika dengan kekuatan luar biasa sebagai Spiderman. Okayit just a damn old movie… tetapi meski demikian, kisah-kisah superhero selalu dikemas begitu apik dengan pesan moral yang begitu dalam seperti Spiderman the Movie ini, bahwa setiap kekuasaan yang diamanahkan selalu membawa serta tanggung jawab untuk dituntaskan.

Setelah sedikit researching melalui web surfing, ternyata kutipan tersebut juga dituliskan dalam alkitab, Lukas 12:48 To whom much is given, much will be required, yang maknanya kira-kira seperti ini, bahwa jika kita dianugerahi dengan kekayaan, bakat, kekuatan, kekuasaan dan bahkan waktu, maka hendaknya kita memberikan kebaikan kepada sesama, dengan kata lain kita memiliki tanggung jawab atas apa yang kita miliki. Presiden AS ke-6, John Quincy Adams (1825-1829) mengatakan “If your actions inspire others to dream more, learn more, do more and become more, you are a leader.” Bahwa jika tindakan kita menginspirasi lainnya untuk bermimpi lebih, belajar lebih, melakukan lebih dan menjadi lebih, maka anda adalah seorang pemimpin.

Perkembangan situasi global saat ini menunjukkan dunia tengah menghadapi musuh yang tidak terlihat, sangat kecil namun luar biasa mematikan dengan penyebaran yang begitu massive hingga tak terelakkan bagi siapapun yang lengah menghadapinya. Lebih dari 11 juta jiwa terpapar di dunia, 5 juta sembuh dan lebih dari 524.000 orang meninggal dunia. Sebagian menilai bahwa COVID 19 adalah senjata biologis massal yang sangat berbahaya, hingga Negara-negara dengan persenjataan militer terkuat di duniapun tidak sanggup menghadapinya. Di AS, setidaknya 50.000 warganya terpapar COVID 19 setiap hari demikian juga di Negara-negara lainnya. Presiden Trump memimpin penanganan COVID 19 ini secara langsung, di tengah cacian dan makian serta ancaman kehilangan dukungan dalam Pilpres mendatang, ia tetap hadir di tengah-tengah rakyatnya untuk mengambil keputusan-keputusan sulit yang terkadang tidak selalu disukai rakyatnya, namun tanggung jawabnya sebagai pengemban amanah konstitusi menempatkan kepentingan Negara dan masyarakat AS di atas segalanya.

Di Indonesia, dilaporkan sebanyak 60.695 orang terpapar COVID 19, 27.568 sembuh dan meninggal sebanyak 3.036 orang. Berbagai langkah dilakukan pemerintah mulai dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga kebijakan new normal yang mengandalkan kedisiplinan warga dan lingkungan serta imunitas masing-masing orang. Presiden Joko Widodo melakukan hands on leadership dengan turun tangan langsung dalam penanganan COVID 19. Sama halnya dengan AS, Presiden Joko Widodo juga dihadapkan dengan keputusan-keputusan sulit, seperti me – Lock Down Indonesia yang berarti bersiap-siap menghadapi krisis ekonomi yang berpengaruh kepada kesejahteraan rakyat ataukah kebijakan new normal dengan mempertaruhkan popularitas politiknya?

Semua keputusan yang diambil membawa konsekuensi yang dipertanggungjawabkan oleh seorang pemimpin baik di dunia maupun di akhirat nantinya, namun setidaknya kehadiran seorang pemimpin sangat diperlukan oleh rakyatnya terutama di masa-masa krisis seperti saat ini.

Bagaimana dengan di Papua?

Laporan resmi Satgas Pengendalian Pencegahan dan Penanganan COVID 19 Provinsi Papua mulai tanggal 17 Maret s.d 3 Juli 2020,  tercatat 1906 orang terpapar COVID 19 meningkat 20 orang dari waktu sebelumnya, 901 dinyatakan sembuh dan 18 orang meninggal dunia. Provinsi Papua menjadi Provinsi pertama di Indonesia yang dengan tegas menerapkan kebijakan Lock Down sejak 26 Maret 2020 lalu,  sehingga menginspirasi wilayah-wilayah lainnya di Indonesia.

Pada awalnya saya menilai keputusan yang diambil oleh Pemprov. Papua ini, tergolong berani, dimana provinsi ini sendiri secara ekonomi tergolong sangat rendah pertumbuhan ekonominya, bahkan paling rendah di Indonesia sehingga berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan masyarakat Papua sendiri. Dengan diambilnya keputusan untuk me – lock down Papua, konsekuensi yang dihadapi jelas menurunnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) khususnya dari sektor jasa seperti transportasi. Namun dengan berjalannya waktu, saya mulai melihat penyebaran COVID 19 yang semakin meningkat di Provinsi Papua, evaluasi terbesar dari pelaksanaan kebijakan ini bukan hanya terletak pada rendahnya tingkat kedisiplinan masyarakat Papua, namun justru pada penanganan serta para pengambil kebijakan. Para pengambil kebijakan di Papua seolah terjebak dalam solusi yang sama dari waktu ke waktu. Lock down Papua dianggap menjadi jawaban dari semua persoalan COVID 19. Padahal banyak cara yang bisa dilakukan daripada sekedar memasang poster besar-besar bergambar para pejabat daerah sebagai imbauan kepada masyarakat untuk menggunakan masker dan mencuci tangan, misalnya dengan mengaktifkan platform belanja kebutuhan secara online untuk mencegah orang berbelanja di pasar atau di keramaian. Hal tersebut selain mencegah interaksi orang dengan orang secara langsung (social distancing) hal itu juga menumbuhkan ekonomi kreatif di Papua yang dapat memberdayakan perekonomian Papua di tengah krisis. Jika ada yang bertanya dananya darimana, bukankah dana otsus salah satunya diperuntukkan untuk pemberdayaan ekonomi Papua?

Banyak cara yang jauh lebih kreatif daripada contoh di atas, para akademisi dan intelektual Papua tentunya bisa memberikan masukan kepada pemerintah jauh lebih baik daripada saya sendiri. Namun sekali lagi, semua saran dan masukan itu tak akan bermanfaat tanpa kehadiran seorang pemimpin yang berada di tengah-tengah masyarakatnya sendiri untuk mengambil keputusan. Di tengah krisis seperti saat ini, yang dapat diibaratkan dalam kondisi perang, Papua seolah bertempur tanpa Panglima Perang. Sejak pertengahan April lalu, Gubernur dan keluarganya terbang ke Jakarta karena alasan sakit yang diderita Gubernur hingga saat ini. Lebih 3 bulan lamanya, Papua “bertempur” melawan musuh yang tak terlihat yang bahkan Negara-negara besar seperti AS pun dibuat gemetar dalam menghadapinya, dan selama itu pula Papua berperang tanpa panglima. Jika sakit yang menjadi kendala, bukankah Panglima Besar Jenderal Sudirman juga memimpin langsung perang gerilya dengan sebelah paru-parunya selama lebih dari 3 bulan?

“With great power comes great responsibility”

Ada kekuatan dan kekuasaan kepada seorang pemimpin yang diamanahkan baik oleh undang-undang maupun masyarakatnya karena percaya bahwa orang yang diminta sebagai pemimpin tersebut akan bertanggung jawab lahir dan batin kepada orang-orang yang mempercayainya. Saya percaya, bahwa pemimpin hebat lahir dan tumbuh di tengah-tengah krisis, ibarat batu permata terbaik di dunia dihasilkan karena dua hal yaitu suhu dan tekanan yang tinggi di perut bumi. Semakin tinggi suhu dan tekanan yang diperolehnya, jika bertahan dan tidak hancur, maka ia akan menjadi batu permata paling berkilau, keras dan kokoh serta bernilai sangat tinggi.

Rafli Hasan

Columnist, Blogger & Urban Traveller

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed