oleh

Primus Ewrepit Menafkahi Keluarga dengan Mengukir

-SOSOK-151 views

TIFFANEWS.COM,-  Tuntutan ekonomi memaksa orang Asmat untuk keluar dari peradaban mereka. Hal ini membuat Primus Ewrepit memutar otak untuk berpikir bagaimana dia bisa mendapatkan makanan dan bisa menafkahi keluarganya.

Primus adalah seorang pengukir asal Kampung Per, Distrik Agats, Kabupaten Asmat. Dia memiliki istri dan beberapa anak. Perjalanan dari kampung Per menuju ibu kota Distrik Agats yang juga adalah ibu kota Kabupaten Agats dengan jarak tempuh dua puluh sampai tiga puluh menit dengan mengunakan perahu jonson atau speedboat. Kalau mengunakan perahu dayung jarak tempuh satu sampai satu jam lima belas menit.

“Saya tinggal di jalan Bintang Laut persis di pinggir sungai Asuwet. Saya hidup di kota Agats dengan bermodalkan fisik untuk bekerja. Pekerjaan saya adalah mengungkir. Setiap hari saya mengungkir. Saya mengukir dengan alat seadanya saja. Alat-alat yang saya gunakan itu adalah kampak, gergaji, pesau, amplas, parang, kikir dan meter, tutur Primus.

Primus memilih jalan melukis untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan kebutuhan dalam rumah. Kebutuhan itu seperti rokok, beli garam, vetsin, gula, kopi, dan lain-lain.

“Saya biasa ukir satu hari bisa enam sampai sepuluh ukiran,”ujarnya.

Namun menurutnya, tidak semua waktu dalam sehari, dihabiskan untuk mengukir. Ia juga harus menyempatkan waktu untuk mencari sisa kayu umpak atau balok sebagai bahan ukirannya.

“Macam hari ini, saya biasa pergi pagi untuk cari kayu potongan-potongan bekas bangunan baru, kayu umpak atau kayu balok. Setelah saya dapat kayu itu, saya bawa pulang ke rumah. Saya langsung kerja,”ucapnya.

Dia menuturkan, kalau ukiran patung yang berukuran pajang 60 cm sampai 25 cm itu tidak butuh waktu lama. Hanya dalam satu setengah jam atau dua jam ia bisa menghasilkan 5-9 patung.

Kalau sudah selesai mengukir, biasanya ia mempersiapkan diri untuk pergi menjual hasil ukurannya kepada orang-orang yang sudah ia kenal.

“Saya langsung pergi saja ke situ untuk menawarkan ukiran saya,”katanya.

Harga ukiran yang ia tawarkan juga bervariasi sesuai jenis dan bentuk ukuran. Ukiran yang berukuran kecil  biasa dihargai dengan Rp.  50.000,-, sedangkan ukuran 60 cm, harganya Rp. 100.000- Rp. 200.000.

Harga itu memang harga standart yang ia patok untuk ukirannya. Namun kadang ukuran patung yang sama dihargai dengan dengan harga Rp. 500 ribu hingga Rp. 1 juta. Ada beberapa lukisan yang dia patok dengan harga yang tinggi dan tidak bisa ditawar-tawar.

Mengenai proses pembayaran pun bervariatif. Ada yang membayar tunai tapi ada juga yang mencicil. Kalau yang membayar cicil atau belum lunas, dia  tak segan-segan menagih cicilan pembayaran itu, apalagi kalau lukisan itu menurutnya sangat bagus.

Tapi lagi-lagi ia mengakui bahwa seringkali kondisi keuanganya yang tidak menentu dan kebutuhan yang perlu segera diselesaikan, membuatnya dirinya memberi harga seadanya pada lukisannya.

“Kalau kebutuhan mendesak saya bisa kasih harga perpatung dengan harga Rp. 20.000-Rp. 30.000,” ucapnya.

Dia mengakui bahwa lukisan yang dibuatnya tidak lepas dari tuntutan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi harian dirinya bersama keluarga.

Bapak setengah paruh baya ini terlihat serius saat mengerjakan patung ukirannya. Hanya sekali-sekali senyum dengan  asap rokok mengumpal keluar dari mulutnya. Keseriusan itu lebih nampak saat dia bolak-balik patung ukirannya.

Dia nampak begitu teliti memperhatikan ukirannya, sampai-sampai berbicara dengannya begitu sangat terbatas. Namun, jika ia pastikan ukirannya sudah selesai dan tinggal merapikan peralatan kerja, maka di situ sangat nampak kesan yang begitu bersahabat.

Usai kerja baru ketahuan kalau sejak dari awal ia mengukir ternyata dia tidak menggunakan sketsa. Semuanya mengalir begitu saja dari pikiran dan perasaannya. Itulah sebabnya, saat melihat hasil dari ukirannya,  ukirannya begitu unik dan memposana. Suatu yang tak terbayangkan sebelumnya. Dia mengukir seperti para pelukis profesional tanpa mengunakan sketsa.

Sikap santai dan bersahabat yang ditunjukkan saat mengakhiri kerja sangat beda dengan saat ketika ukirannya itu terjual habis. Saat patung-patung itu terjual habis senyum dan kegembiraan berlipat ganda.

Dia biasa berjualan keliling, tapi juga punya orang yang dia kenal dan biasa membeli ukirannya.  Seorang langganannya bernama Petrus. Langganannya ini sudah tidak asing bahkan terlihat seperti mereka sudah bersahabat lama. Petrus sering menyapanya dengan sebutan  kaka Primus ini.

Kalau Primus datang membawa ukiran kepada Petrus, tanpa segan-sengan meraka bercanda, senda gurau, saling tegur seperti kakak beradik. Kalau Petrus mengambil ukiran , wajah Primus  terlihat ceria, penuh dengan bahagia. Namun jika ukirannya tidak dibeli, terlihat kecewa, emosi dan tidak pamitan langsung pergi.

Prinsip Primus adalah ukiran yang dia buat hari ini adalah untuk menafkahi hidup keluarga dan kebutuhan pribadinya hari ini juga. Kalau besok nanti dia masih bisa mencari kayu, buat patung dan jual lagi.

“Saya harus dapat uang dari hasil ukiran saya, dan untuk memenuhi kebutuhan keluarga hari ini. Karena hasil hari ini untuk hari ini, besok nanti saya cari lagi,” ungkapnya.

Tepat sekali dengan pepatah kuno bahwa hasil hari ini untuk hari ini, besok nanti cari lagi. Alkitab mencatat bahwa Yesus mengajarkan hal yang sama tentang doa Bapa Kami, ayat 11 (Mat 6:9-13) sangat jelas dinyatakan bahwa “berilah kami pada hari ini makanan yang secukupnya”.

Rupanya dia meyakni bahwa  Yesus tidak mengajarkan, “berilah kami makanan pada minggu ini, pada bulan ini dan pada tahun ini, tetapi pada hari ini dan secukupnya”.

Primus percaya Tuhan telah menyediahkan berkat pada hari ini untuk hari ini, besok pasti ada lagi. Dengan alasan itu Primus tidak pernah merasakan kekurangan tetapi dia selalu merasa berkecukupan setiap harinya.

Dan dia selalu bersyukur bisa menafkahi keluarga dengan hasil ukirannya.***( Yosef Biweng)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed