Problematik di Balik Tingginya Cakupan Vaksinasi Ujung Timur Indonesia (Bagian Pertama)

Tukan Ben
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke, dr. Nevile Muskita. Ketika memberikan keterangan di ruang kerjanya.

 

TIFFANEWS.COM –  Merauke merupakan salah satu kabupaten di Provisi Papua, ujung timur Indonesia yang memiliki cakupan vaksinasi covid-19 tertinggi. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, cakupan vaksinasi per 24 Januari 2022 untuk Kabupaten Merauke mencapai 85,11 persen

Selain Merauke, Kabupaten lain yang masuk 5 besar cakupan vaksinasi disusul Kota Jayapura 78,35 persen, Kabupaten Keroom 75,62 persen, Kabupaten Jayapura 74,17 persen, dan Kabupaten Mimika 74,17 persen. Sementara itu, untuk kabupaten dengan cakupan paling terendah, yakni. Kabupaten Tolikara 1,59 persen dan Lani Jaya 1,34 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke dr. Nevile Muskita menjelaskan. tingginya vaksinasi ini, bisa tercapai berkat kerjasama Pemerintah, TNI dan Polri di daerah, yang gencar malaksanakan vaksinasi massal sejak awal.

“Tidak hanya kami, mereka (TNI-Polri) kan turun juga sampai ke kampung-kampung. jadi saya rasa kolaborasi dan peran serta mereka sangat baik, sangat mendukung pencapaian target vaksinasi kita,” tutur Nevile saat ditemui di ruang kerjanya.

Dijelaskan. jenis vaksin yang diberikan ke masyarakat umumnya Sinovac, dengan cakupan untuk dosis pertama mencapai 101 ribu lebih atau sekitar 81 persen. Sedangkan dosis kedua sebanyak 77 ribu jiwa atau 61 persen, sesuai data per 13 Desember 2021.

Dari data tersebut, jika diuraikan lebih detil, maka cakupan tertinggi terjadi di kota Merauke. Kondisinya berbeda dengan distrik yang mayoritas penduduk lokal, dimana cakupannya sangat rendah.

 

Data statistik cakupan vaksinasi covid-19 Provinsi Papua 24 Januari 2022

 

“Angkanya sekitar 40 persen untuk lokal dan 60 persen pendatang,” ungkap Nevil saat ditemui di ruang kerjanya.

Menurutnya, minimnya vaksinasi bagi penduduk lokal, karena maraknya penolakan. Di Distrik Okaba dan sekitarnya, misalnya, banyak dari warga kampung-kampung lokal masih percaya isu-isu negatif terkait vaksinasi.

Untuk itu, dia menawarkan solusi agar tokoh-tokoh kampung harus divaksin terlebih dahulu. “Contoh beberapa kampung di Distrik Muting yang masyarakatnya mau divaksin setelah diawali kepala kampungnya,” ujarnya.

Untuk menjawab berbagai tantangan khususnya penduduk lokal, kata Nevile, penting selain sosialisasi adalah keteladanan. “Jika kepala kampung belum divaksin, maka sulit bagi masyarakat mengikutinya. Demikian juga dengan tokoh adat dan tokoh geraja.” katanya.

Oleh sebab itu, pelibatan tokoh-tokoh kunci di masyarakat menjadi penting. Mereka menjadi contoh nyata bagi masyarakat. “Karena dampaknya menurut saya jauh lebih luas dari sekedar sosialisasi,” ucap Nevile.

 

Paustina Itarop Korai bersama anaknya menunjukan bukti vaksin

 

Jika dilihat dari angka tersebut, masih ada sekitar 14,89 persen masyarakat yang belum bahkan menolak untuk divaksin. Hal itu terlihat dari hasil penelusuran pada perkampungan masyarakat lokal, tepatnya di Kampung Tambat, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke.

Salah satu warga RT.01/RW.01 Kampung Tambat, Paustina Itarop Korai (55) yang ditemui di kediamannya, menceritakan pengalamanya divaksin. Sejak awal dia dan anaknya sudah mempunyai keinginan untuk menyelesaikan vaksin tahap kedua, karena dinilai memiliki manfaat positif bagi keluarganya.

“Saya memang mau vaksin, jadi pas dorang (petugas) datang yang pertama di balai kampung saya dengan anak perempuan langsung ikut,” ujar Paustina yang akrab dipanggil Mama Tina.

Menurutnya, warga yang mengikuti vaksinasi tahap pertama tidak banyak. “Jadi kalau RT kita itu ada sekitar 6 orang yang sudah vaksin pertama, sisanya dari RT lain,” paparnya.

Warga yang hadir saat itu cukup banyak. Hanya saja seiring proses skrining banyak yang tidak memenuhi persyaratan, sehingga warga yang bisa divaksinasi hanya 10 orang.

Menurut ibu dua anak itu, vaksinasi tahap petama dilakukan pada tanggal 10 Juni 2021. Lalu saat mereka datang untuk menyelesaikan vaksinasi tahap kedua, penundaan selalu terjadi. Akibatnya mereka kecewa dan memutuskan berhenti mengikutinya.

“Karena begini, hari berikut tanggal 8 Juli 2020 kami datang, dari petugas kesehatan tunda, terus tanggal berikutnya kami datang lagi, dorang tunda lagi. Maksudnya tunda-tunda sampai 3 kali, sudah!! Mama tidak mau vaksin lagi. Sudah malas,” ungkapnya dengan wajah kesal.

Setelah itu, beredar informasi yang menyebutkan  pelayanan vaksinasi terus digelar di sejumlah lokasi seperti kantor bupati dan Distrik (kecamatan) Tanah Miring. Karena itu, Paustina disarankan untuk pergi kesana.

Dia menolak hadir lantaran jarak yang jauh, serta tidak memiliki kendaraan. “Dong bilang ikut di kota (kabupaten) sana, tapi saya bilang ah tidak. Terlalu jauh tidak ada motor. Jadi harus petugas yang datang ke kampung boleh,” terangnya.

 

Bruno Kimbinaka, warga RT.01/RW.01 Kampung Tambat Distrik Tanah Miring

 

Berbeda dengan Mama Tina yang menolak vaksinasi karena terjadinya penundaan, seorang kakek berusia 65 tahun, Bruno Kimbinaka, warga RT.01 menolak vaksin secara tegas karena ia menderita penyakit sesak nafas (Asma).

“Seperti itu pernah disampaikan, tapi saya tolak!! Jangan sampai saya punya sakit sudah lama ini, kalau vaksin masuk (disuntikan) jangan sampai musnahkan kita,” tegasnya dengan nafas terengah-engah.

Menurut kakek dengan 11 cucu itu, pemahaman bahwa vaksinasi dapat membahayakan jiwanya ia yakini kebenarannya. Ia menolak mengakui saat ditanya kemungkinan adanya informasi hoaks yang beredar di masyarakat, ataupun informasi menyesatkan di televisi.

“Tidak, tidak, tidak. Tidak ada yang kasih tahu saya. Itu menurut pemikiran saya bukan dari siapa-siapa. Jadi saya tolak. Sebab hidup dan mati Tuhan yang punya,” katanya.

Dengan suara lirih, Bruno juga menjelaskan bahwa penyakit Asma yang dideritannya sudah menahun, dan penyakit itu bukan hal baru bagi penduduk lokal. Banyak orang asli Papua (OAP) yang menderita penyakit yang dikenal sebagai ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan)

 

Ekspresi Bruno saat menyebutkan tidak mau divaksin karena sakit

 

“Biasa, biasa itu di sini sakit Asma dan kita itu di Papua begitu sudah,” tuturnya.

Lebih jauh Bruno juga mengomentari  soal metode sosialisasi dan penyuluhan vaksin yang dilakukan. Menurutnya, peran penting aparat kampung layak diapresiasi. Pasalnya, mereka yang gencar melakukan sosialiasi kepada masyarakat.

Sementara dari tim gugus tugas pengendali Covid-19, menurut Bruno telah hadir beberapa kali. Mereka datang menggunakan mobil keliling, sembari menyerukan imbauan tentang pentingnya vaksinasi dan meminta warga untuk mengikutinya. Namun Bruno menolak untuk mengikuti anjuran tersebut

“Ada juga dari kampung. Diinas Kesehatan juga ada, tapi mereka ajak secara umum, pakai  suara-suara,” ucapnya.

 

Ketua RT.01/RW.01, Nicalaus Bonaujop

 

Terjadinya perubahan jadwal serta pengalihan tempat vaksinasi di Kantor Distrik Tanah Miring menjadi penyebab banyaknya masyarakat yang batal mengikuti vaksinasi. Salah satunya dialami oleh Ketua RT.01/RW.01, Nicalaus Bonaujop. Hingga kini ia tak kunjung divaksin.

“Informasi itu memang saya tahu, tapi hanya dari jadwalnya itu yang saya tidak tahu. Pas waktu itu saya ke balai kampung cek, ada yang bilang buatnya di kantor distrik. Saya mau jalan bagaimana, tidak ada kendaraan, terus sudah, saya balik,”jelasnya.

Ketika vaksinasi tahap pertama dilakukan di balai kampung, Nicalaus tidak hadir karena sedang sibuk bekerja di ladang. Ia lupa jika hari itu vaksinasi tengah berlangsung.

“Bapa tidak sengaja karena sibuk di kebun. Itu sudah bersamaan dengan mama Tina. Memang ada informasi sebelumnya, tapi sudah terlambat,” sesalnya.

Meskipun gagal divaksin, Nicalaus tetap menyambangi kantor kampung untuk menanyakan waktu pelaksanaan vaksinasi susulan. Ia berharap kegiatan tersebut kembali digelar. “Iya mau ikut, tapi ya itu sudah. Sekarang kan belum ada informasi. Nah kalau mau vaksin, biasanya kan ada jadwal,” katanya.

Nicalaus juga berharap, petugas kesehatan kembali datang ke kampung untuk melakukan sosialisasi serta pelayanan vaksinasi. Pasalnya, sebagian besar warga Kampung Tambat belum mengikuti vaksinasi, sementara serbuan kabar bohong terkait vaksinasi terus beredar.

“Sebenarnya, banyak warga yang mau ikut, tetapi karena dong dengar itu, akhirnya. Ah, sudah tidak usah, dari pada kita ikut, kita pulang lego (meninggal). Nah itu, mereka harus memberikan sosialisasi, harus turun ke masyarakat di kampung. Tapi belakangan ini tidak ada,” ujar Nicalaus.

 

Kepala Tata Usaha dan Umum Kampung Tambat Samuel Heremba saat ditemui di Kantor Kampung Tambat

 

Kepala Tata Usaha dan Umum Kampung Tambat Samuel Heremba membenarkan jika pelaksanaan vasinasi di wilayahnya hanya berlangsung sekali. Selanjutnya jadwal pelayanan yang sudah diinformasikan sebelumnya selalu ditunda.

“Vaksin dosis satu sudah di sini, yang dosis kedua tidak ada, tapi kenapa mereka tunda?,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kampung Tambat.

Sejauh ini, aparat kampung selalu mengimbau warga agar ikut menyukseskan vaksinasi. Hanya saja, penundaan itu semakin menguatkan kecurigaan masyarakat untuk menolak vaksin. Di saat yang bersamaan, sosialisasi dari Distrik Tanah Miring juga jarang dilakukan.

“Adanya kendala-kendala seperti itu, akhirnya masyarakat, ‘ah ini kenapa’?”

Sementara itu, ada pemandangan berbeda di kampung-kampung sebelah, khususnya kampung transmigran yang mayoritas penduduknya berasal dari luar Papua. Meskipun tetap ada penolakan, pelaksanaan vaksinasi tetap berjalan lancar dengan tingkat antisiasme warga cukup tinggi. Sebuah kondisi yang berbeda dengan Kampung Tambat.

“Kalo vaksin tidak ada, saya pikir tidak. Karena di kampung-kampung lain ada, jadi kita punya jatah pasti ada,” kata Samuel.

Meskipun demikian, Samuel tidak ingin menyalahkan siapapun. Ia hanya berharap agar pihak Puskesmas Tanah Miring tidak melupakan kampung – kampung lokal.

“Karena kita bukan salahkan petugas, tapi kita tidak tahu kendalanya seperti apa. Kami juga belum pasti mereka seperti itu,” ujarnya.  Bersambung 

 

Penulis : Dwi Bobby Kurniawan

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Problematik di Balik Tingginya Cakupan Vaksinasi Ujung Timur Indonesia (Bagian Kedua-Habis)

  TIFFANEWS.COM, – Untuk membuktikan kebenaran terkait kendala vaksinasi di Kampung Tambat, penulis melakukan penelusuran ke Puskesmas Tanah Miring. Disana, salah seorang vaksinator, Katarina Timung (38) menjelaskan, pembatalan mereka lakukan karena jumlah warga yang hadir tidak memenuhi jumlah kuota minimum, yakni 10 orang. “Sebelumnya kita sudah melakukan pertemuan dengan Distrik […]
Translate »