Refleksi Perjalanan Panjang Partai Golkar dalam Perpolitikan Nasional

Tukan Ben
Politisi Partai Golkar Papua Paskalis Kossay (Foto : tiffanews)

 

Oleh Paskalis Kossay

Pada 20 Oktober 1964 adalah waktu yang bersejarah cikal bakal lahirnya Golongan Karya sebagai entitas partai politik di Indonesia walaupun secara eksplisit tidak diakui sebagai partai politik. Namun secara implisit dibungkus dengan sebutan Golongan Karya.

Memang harus disebut Golongan Karya karena yang mendirikan Golkar adalah mereka yang berhimpun dalam induk organisasi profesi dan kekaryaan yang terdiri dari 7 ( tujuh ) Kelompok Induk Organisasi (Kino) yaitu : Kosgoro, Soksi, MKGR, Organisasi Profesi,  Hankam, Gakari, dan Gerakan Pembangunan.

Pada 20 Oktober 1964 ketujuh Kino ini bersatu membentuk Sekretariat bersama yang sering disebut Sekber Golkar untuk menyikapi perkembangan politik nasional yang semakin carut marut pada saat itu yang dimotori oleh Kino Hankam khususnya dibawah TNI Angkatan Darat.

Pada Pemilu 1971 Sekber Golkar resmi menjadi peserta Pemilu dan menang cukup meyakinkan pada posisi 62,79 %. Dengan demikian menjadi salah satu kekuatan politik mengendalikan kekuasaan pemerintahan dan haluan negara sesuai dengan ideologi Pancasila dan UUD 1945.

Setelah Pemilu 1971 sebutan Sekber Golkar dirubah menjadi Golongan Karya ( Golkar ) . Memperkuat posisi Golkar sebagai entitas politik dalam penyelenggaraan Pemilu selanjutnya dan menguasai struktur serta sistem penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan nasional dengan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Kekuasaan Pemerintahan dikuasai sepenuhnya di bawah Pimpinan Presiden Soeharto maka dari Pemilu ke Pemilu selama tiga dekade, Golkar tetap menang Pemilu diatas 70 % . Hal ini membuat Gokar menjadi Singel Mayority dalam perpolitikan nasional.

Presidem Soeharto memanfaatkan kekuatan politik Golkar sebagai alat melegitimasi kekuasaannya. Semua lembaga politik dan pemerintahan tidak dapat berkutik banyak. Diantaranya jumlah partai politik dibatasi hanya  dua, PDI dan PPP ditambah satu golongan yaitu Golkar. Sistem Pemilu seolah diatur berazaskan jurdil dan rahasia namun prateknya dikendalikan. Sistem penyelenggaraan pemerintahan dikendalikan terpusat pada satu kekuasaan, yaitu Presiden Soeharto.

Memasuki era reformasi , semua bangunan otoriterisme penyelenggaraan negara pada satu kekuasaan terpusat tersebut rubuh dan anjlok menjadi terpisah-pisah. Golkar sudah tidak lagi menjadi alat politik kekuasaan pemerintahan. Golkar mulai mandiri berdiri sebagai entitas partai politik bukan lagi Golongan Karya namun sudah disebut Partai Golongan Karya.

Sebagai Partai Politik, Golkar mulai membenahi diri baik secara kedalam (organisasi) maupun secara keluar antara lain memutuskan hubungan dalam struktur partai yaitu dengan jalur Pemerintah dan ABRI yang sering disebut jalur A (ABRI) dan jalur B (Beringin/Pemerintah).

Sejak Reformasi sudah mendeklarasikan diri partai politik dan menyatakan komitmen menjadi salah satu pilar demokrasi untuk mengawal agenda reformasi. Akhirnya pada awal Pemilu Reformasi (1999) , Partai Golkar tampil sebagai salah satu peserta Pemilu dan berhasil menduduki pada posisi setelah PDI Perjuangan. Pemilu Reformasi kedua ( 2004 ) partai Golkar mendapat kepercayaan rakyat menjadi partai pemenang Pemilu pada posisi pertama.

Selama era reformasi ini dari Pemilu ke Pemilu, Partai Golkar tetap berada pada posisi kedua dalam urutan lima besar partai peserta Pemilu. Hal ini menunjukkan bahwa rakyat Indonesia masih mencintai Partai Golkar walaupun dihujat oleh lawan-lawan politik yang  anti pemerintahan orde baru.

Dewasa ini Partai Golkar sudah sepenuhnya menjadi partai politik yang solid, mandiri dan demokratis. Saat ini pula Golkar sudah menata diri menuju partai yang maju dan moderen dengan menjunjung tinggi azas demokratisasi.

Sebagai partai yang menuju partai moderen dan demokratis, Partai sudah membuka diri seluas-luasnya kesempatan bagi kelompok orang muda dan kaum milineal untuk bergabung dalam rumah Partai Golkar. Sekaligus pula Partai Golkar mempersiapkan diri sebagai sarana pengembangan potensi kader bangsa dengan mendirikan sekolah pendidikan kader di bawah pimpinan Bung Ketua Umum Ir. Airlangga Hartarto.

Kedepan Partai Golkar tetap bergerak pada rel politik yang diakui negara dengan kekuatan sumber daya partai, solidiras para kader di semua tingkatan menampilkan citra Partai Golkar sebagai partai moderen dan demokratis sertai partai yang dicintai rakyat.

Dengan demikian cepat atau lambat dalam proses waktu, Partai Golkar akan tampil sebagai partai pemenang Pemilu untuk merebut kembali kekuasaan politik pemerintahan dan mengendalikan pembangunan nasional demi kemakmuran serta kesejahteraan rakyat. Semoga.

Dirgahayu Partai Golkar ke-57 . (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Keberhasilan PON XX Papua Bukti Kinerja Jokowi-Ma'ruf

  TIFFANEWS.COM,- Bupati Puncak Willem Wandik mengakui, keberhasilan pelaksanaan PON XX di Papua merupakan salah satu bukti hasil kinerja Presiden Jokowi dan Wapres Ma’ruf Amin beserta jajarannya termasuk Gubernur Papua Lukas Enembe. Presiden mengambil langkah tepat dan penuh perhitungan karena PON dilaksanakan masih di masa pandemi COVID-19 namun dengan kerja […]
Translate »