Seruan Moral Pastor Katolik Papua Demi Kemanusiaan OAP Berikan Definisi Baru Tentang Arti Kemanusiaan

Tiffa News 1
Jumpa Pers Pastor Gereja Katolik se-Papua

Tiffanews.com – Seruan moral kedua yang disampaikan para Pastor (gembala) Gereja Katolik se-Papua melalui siaran pers pada Kamis (11/11) yang dibacakan perwakilan para Pastor se-Papua, Pastor John Bunai, setidaknya  telah menggemparkan dunia ilmu pengetahuan khususnya filsafat manusia, etika dan moral serta teologi moral  terkait definisi, paham dan pemahaman baru seputar manusia dan nilai-nilai kemanusiaan. Hal itu disampaikan pemerhati sosial, politik dan kemanusiaan di Papua, Omega Bastian (Om Bas) melalui telepon selularnya kepada Tiffanews.com di Jayapura, Jumat (12/11).

“Luar biasa judul dan isi siaran pers para pastor Gereja Katolik di Papua demi kemanusiaan, keadilan, kebenaran dan keselamatan hidup orang asli Papua disingkat OAP di atas tanah leluhurnya. Pokok pemikiran dan seluruh isi seruan yang cukup panjang-lebar dan mendalam ini, setidaknya  telah menggemparkan dunia filsafat, etika-moral dan teologi Katolik terkait paham tentang manusia dan kemanusiaan itu sendiri,” kata Om Bas.

Patut dipuji karena para pastor Gereja Katolik di Papua  terus berkomitmen menyampaikan suara kenabiannya berlandaskan paham dan pemahaman tentang kemanusiaan Orang Asli Papua (OAP),  Keadilan OAP, Kebenaran OAP dan Keselamatan OAP.

Om Bas menguraikan bahwa,  dalam seruan moral para pastor Gereja Katolik itu, telah  dipaparkan  peristiwa kemanusiaan di Maybrat, Provinsi Papua Barat.

Peristiwa penyerangan pihak TPNPB OPM ke Pos Ranmil Kampung Kisor, Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat,  Kamis, 2 September 2021, telah menewaskan secara tragis empat prajurit  TNI. Pihak TNI memperkirakan terdapat puluhan anggota kelompok bersenjata Papua yang melakukan penyerangan sementara jumlah anggota TNI yang bertugas menjaga Pos Ranmil itu tidak sebanding dengan jumlah para penyerang.

Para pastor Gereja Katolik dalam siaran persnya itu samasekali tidak menyinggung tentang empat manusia yang berprofesi sebagai prajurit TNI dibunuh secara sangat keji di luar batas-batas kemanusiaan. Para pastor Gereja Katolik hanya mengutip seruan Koalisi Masyarakat Sipil Peduli Pengungsi Maybrat di Sorong, Papua Barat yaitu hentikan operasi militer di Maybrat secara damai.

“Mungkin, bagi para pastor Gereja Katolik, empat manusia yang kebetulan berprofesi sebagai TNI yang dibunuh secara sangat keji di luar batas-batas kemanusiaan yang adil dan beradab itu bukanlah manusia sesama ciptaan Tuhan sehingga tidak perlu dibahas di dalam naskah siaran pers ini. Hal ini dapat dibenarkan karena para pastor dengan sengaja ataukah  tidak dengan sengaja, sadar ataukah tidak sadar  telah tidak menyebut dan telah tidak menganggap  empat prajurit TNI yang tewas itu adalah manusia karena judul siaran pers itu sendiri  adalah kemanusiaan, keadilan, kebenaran dan keselamatan bagi Orang Asli Papua disingkat OAP. Itu berarti, manusia yang bukan serumpun budaya, bukan se-asal, bukan se-suku, bukan se-agama dan bukan pula se-geraja dengan para pastor,  adalah bukan manusia,” katanya.

Lebih lanjut Om Bas mengatakan, dengan demikian, pertanyaan umat manusia berabad-abad lamanya tentang “Siapakah manusia – siapakah sesamamu?” sepertinya harus didefinisikan atau dipahami secara baru sesuai pemahaman para pastor yang melakukan siaran pers ini, lantaran judul siaran pers ini adalah “Kemanusiaan, Keadilan, Kebenaran dan Keselamatan Bagi OAPbukan bagi sesama manusia yang menderita, mati, miskin, terlantar dan yang terpinggirkan lintas suku, agama,ras, daerah, kelompok dan golongan.

Para pastor Gereja Katolik diketahui telah bertahun-tahun menekuni ilmu filsafat manusia, etika dan moral, serta teologi yang mengupas tentang relasi Allah dan manusia dan  relasi manusia dengan manusia,  sepertinya telah membuat definisi baru tentang siapakah manusia dan siapakah sesama manusia itu?

Para pastor Gereja Katolik di Papua, seperti ceritera banyak orang bahwa,  hampir setiap hari mereka membaca dan merenungkan Firman Tuhan melalui Kitab Suci yang antara lain merenungkan tentang Kisah Kain dan Habel. “Kain, dimanakah Saudaramu Habel?”  Pertanyaan Yahwe di dalam Kisah Kain dan Habel ini,  ketika berhadapan dengan isi siaran pers para Pastor Gereja Katolik di Papua, maka sepertinya kita perlu mendefinisikan secara baru “Siapakah sesama manusia dan siapakah Saudaramu? Benarkah, saudaramu dan sesamamu  manusia adalah orang yang se-asal, se-suku dan se-rumpun budaya dengan saya, sebaliknya yang tidak se-rumpun budaya, se-suku, se-daerah dan se-kampung  dengan saya adalah bukan manusia dan bukan sesama manusia serta bukan saudaraku dan bukan pula ciptaan Tuhan (Imago Dei) sama dengan saya?

“Ilmu tafsir Kitab Suci sepertinya perlu direvisi baru terkait  definisi, paham dan pemahaman tentang manusia. Mungkinkah pemahaman tentang manusia dan kemanusiaan itu mengikuti pemahaman para pastor Gereja Katolik di Papua dalam siaran pers mereka,” kata Om Bas.

Om Bas kembali mencermati pernyataan para pastor se-Papua tentang peristiwa kemanusiaan di Kiwirok, Kabupaten Pegnungan Bintang dimana dikatakan bahwa “ratusan rumah warga di Kiwirok dibombardir oleh TNI. Bom jenis roket ditembakkan dari udara, dengan menggunakan helikopter. Beberapa gagal meledak. Ratusan warga sipil dikabarkan mengungsi hingga ke PNG. Belum diperkirakan berapa korban nyawa dan rumah yang hancur. Banyak orang yang sakit dan meninggal karena lapar di hutan. Saat ini rakyat butuh bantuan kemanusiaan (Papuanize, 20 Oktober 2021).

Apa yang disampaikan para pastor tentang kasus kekerasan di Kiwirok ini ternyata tidak sedikitpun menyinggung tentang tenaga Kesehatan Gabriella Maleani yang tewas mengenaskan di luar batas-batas peri kemanusiaan dan peri keadilan.

“Nakes Gabriella adalah seorang manusia perempuan beragama Katolik tewas sangat keji. Namun, sepertinya, Gabriella bukanlah seorang manusia dan sesama manusia karena itu almarhumah  tidak perlu dibahas dan ditulis di dalam siaran pers para Pastor se-Papua ini. Gabriella adalah penganut Katolik dari Gereja Keuskupan Jayapura namun dia bukanlah manusia walaupun se-agama dan se-gerja Katolik dengan para pastor dalam siaran pers ini karena dia tidak termasuk dalam judul siaran pers ini yaitu Kemanusiaan, Keadilan, Kebenaran dan Keselamatan Bagi OAP,” kata Omega Bastian.

Dengan mencermati isi dan makna siaran pers para pastor se-Papua ini, maka menurut Om Bas, dunia ilmu filsafat, etika-moral dan teologi yang mengupas tentang manusia dan kemanusiaan serta tentang siapakah manusia itu dan siapakah sesamamu manusia, sepertinya perlu ditinjau ulang — mengikuti pemahaman para pastor se-Papua dalam siaran pers mereka.

Om Bas mengakui bahwa dirinya tidak mengenyam ilmu  filsafat manusia dan etika serta moral Katolik malahan, tidak pernah membaca literatur-literatur tentang Teologi Katolik yang membahas tentang relasi Allah dan manusia, namun paham dan pemahaman tentang manusia, kemanusiaan, serta siapakah sesamamu manusia selalu didengarnya melalui kotbah para pastor yang namanya tercantum  dalam siaran pers itu ketika mereka memimpin ibadah  di rumah-rumah anggota umatnya dan di dalam gedung gereja.

“Sepertinya, pemahaman tentang siapa manusia dan siapa pula sesamamu manusia yang dikotbahkan berbeda sangat jauh dengan judul siaran pers para pastor se-Papua itu. Saya perlu banyak belajar lagi dari mereka,” kata Om Bas.

Om Bas berharap, kiranya  siaran pers para pastor  Gereja Katolik se-Papua ini tidak sampai menghilang di telan waktu – tak bermakna  dan tanpa dihiraukan,  bagaikan “membuang garam di laut” alias sia-sia belaka.

“Sayang sekali, jika suara 194 Pastor Gereja Katolik dalam siaran pers ini pada akhirnya pergi begitu saja ditelan waktu,” kata Om Bas (Ade/Cel)

One thought on “Seruan Moral Pastor Katolik Papua Demi Kemanusiaan OAP Berikan Definisi Baru Tentang Arti Kemanusiaan

  1. Pertama,
    Om Bas membust kesalahan logika:
    Premis mayor: Semia OAP adalah manusia.
    Premis minor: Niko bukanl OAP
    Konllusi: Niko buikanlah manusia
    Para Pastor tidak mengatakan bahwa HANYA OAP adalah manusia.
    Kedua,
    Banyak sekali publikasi ttg korban di pihak TNI-POLRI dan orang non-Papua, khususnya dlm media nasional yg sumbernya ialah Pemetinfah Indonesia. Demi keseimbangan pemberitaan maka para pastor menarik perhatian akan jumlah korban yg begitu banyak di pihak.OAP . Hal ini tidak berarti bahea mereka tidak peduli akan korban lain yg bulan OAP.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Bank Papua Siapkan Kredit Usaha Rakyat Rp110 Miliar

  TIFFANEWS.COM,-  Manajemen Bank Papua pada tahun 2021 menyiapkan alokasi anggaran sebesar Rp110 miliar untuk program Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi pelaku usaha mikro kecil menengah di daerah ini. Kepala Divisi Bisnis UMK dan Konsumer Bank Papua Abraham Krey dalam keterangan pers di media center Kominfo Jayapura, Kamis (11/11),, mengatakan, […]
Translate »