oleh

“Pistol Perdamaian” Ditengah Konflik

“Man behind the gun, istilah yang sering kita dengar. Seseorang atau siapa saja dibelakang pistol perdamaian, sesungguhnya ia adalah tokoh perdamaian.”

 

Oleh: Karl Karoluz Wagab Meak

PENERBIT Kompas di tahun 1996 menerbit delapan belas cerpen pilihan yang pernah dipublikasi di Harian Kompas. Salah satu cerpen yang terpilih adalah cepen miliknya Kuntowijoyo, cerpenis favorit saya.

Judul buku dari kumpulan cerpen itu selanjutnya dijuduli “Pistol Perdamaian”. Judul ini datang, mengambil judul dari cerpen miliknya Kuntowijoyo. Saya membacanya disuatu malam dan sampai saat ini, ketika menyaksikan konflik, saya selalu mengingat pistol perdamain.

Pistol perdamaian bercerita tentang  pertentangan pendapat antara Kuntowijoyo dan istrinya akan kehadiran pistol yang merupakan warisan kakeknya. Menurut istrinya, sudah tidak semestinya pistol diletakan atau disimpan didalam rumah sebab terlalu berbahaya untuk seisi rumah.

Jika diletakan di kamar tidur, tidak baik karena jika, tiba-tiba ada sesuatu, dan kaget bangun, pistol bisa digunakan untuk menghajar isterinya. Di ruang tamu, tidak baik kalau tamu tahu, kalau mereka memiliki pistol. Jika di ruang makan, tak baik juga, jika sambil makan membayangkan perang. Singkat cerita, pistol itu lalu di simpan di perpustakaan pribadi.

“…salah pakai bisa berakibat bencana. Kalau tidak bagi pemakainya ya, bagi orang-orang disekiarnya.” Itulah kekuatiran isterinya.

Pistol itu merupakan barang sisa-sisa peninggalan revolusi, di jaman Jepang. Disimpan dalam sebuah peti sebelumnya akhirnya dibuka dan dibagikan sebagai warisan bersama barang kuno lainnya.

Lalu apa itu pistol perdamain?

“Demikianlah selama revolusi kakek selalu membawanya, tanpa harus mengurus isinya. Tak seorangpun tahu kalau pistol  itu kosong. Pada tahun 1965 pistol itu dibawa kakek meronda dan ternyata desa kami aman, tidak ada yang terbunuh, tidak ada pembunuhan. Dengan bangga kakek menyebutnya pistol perdamaian.”

Apa Jenis Pistol Kita?

Ditengah konflik, sebaik-baiknya pistol, adalah pistol perdamaian.

Pistol perdamaian adalah senjata ampuh untuk melawan musuh tanpa harus menghilangkan nyawanya. Ia adalah senjata yang  menakutkan tetapi tetap berwajah humanis.

Pistol perdamaian adalah pistol yang ketika kita memiliki kekuasaan untuk menarik pelatuknya, kita masih diberi ruang untuk berpikir: Jika peluru ini menembus dadanya dan membunuhnya, bagaimana keluargannya? Bagaimana pekerjaannya? Jika ia mati, siapa yang akan menghidupi anak-istrinya? Bagaimana jika orang yang saya tembak adalah saya sendiri?  dan seterusnya.

Mungkin kita, apalagi seorang yang sering memegang pistol beranggapan bahwa sangatlah konyol membawa pistol dengan isi yang kosong.

Namun, pistol perdamaian dapat dihadirkan dengan beragam cara. Isi yang kosong salah satunya.

Pistol perdamaian menuntut kejernihan berpikir dan sikap solider. Selama pandangan kita masih rabun kemanusiaan, selama itu pistol perdamaian tak pernah ada, lalu yang tersisa hanyalah air mata, cerita tentang kehilangan dan balas dendam.

Butuh manusia dengan kemanusiaan dan nurani yang utuh untuk dapat menghadirkan sebuah pistol yang disebut dengan pistol perdamaian. Dan, hanya seorang pengecutlah yang bersembunyi dibalik sebuah peluru yang menerjang sesamanya manusia.

Man behind the gun, istilah yang sering kita dengar. Seseorang atau siapa saja dibelakang pistol perdamaian, sesungguhnya ia adalah tokoh perdamaian.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed