Titus Pekei : Sejarah Misi Katolik di Tanah Papua Dimulai dari Pater Cornelis Le Cocq d’Armanville

Tukan Ben
Acara wisuda STK Touye Paapaa Deiyai Keuskupan Timika 23 Oktober 2020 di Gedung Gereja St Yohaner Pemandi Wakeitei Tigi-Papua

 

TIFFANEWS.COM,- Karya misi gereja katolik di Tanah Papua dimulai sejak kedatangan misionaris Pater Cornelis Le Cocq d’Armanville SJ pada 22 Mei 1894. Tonggak awal kedatangan misionaris pertama ke Papua ini menjadi penting untuk diketahi, mengingat banyak pihak belum mengetahauinya, sehingga pada peringatan 127 tahun  misi karolik di Papua yang jatuh pada 22 Mei 2021 lalu, tidak banyak menjadi perhatian umat katolik Papua.

Pegiat budaya Papua yang juga dosen Sekolah Tinggi Katolik ‘Touye Paapaa’ (STK TP) Deiyai, Keuskupan Timika- Papua Titus Pekei mengatakan hal itu kepada tiffanews. com dalam obrolan sejarah, Minggu (23/10).

Sebelumnya Titus Pekei sempat membahas sejarah misi katolik Papua ini  dalam seminar sehari dengan topik “Pater Cornelis Le Cocq D’Armanville, SJ: Tantangan dalam karya misi Katolik pertama di Tanah Nieuw Guinea kini Tanah Papua antara 22 Mei 1894 – 27 Mei 1896”, yang digelar STK TP Deiyai di gedung aula SMP YPPK Waghete, Tigi, Kabupaten Deiyai Sabtu (22/5/2021) lalu.

Menurut Titus Pekei, pada tanggal 22 Mei 1894 mendaratlah Pater Cornelis Le Cocq d’Armandville SJ di kampung Sekeru dekat Fakfak. Pater Le Cocq tiba di Fakfak setelah berkarya di Flores dan Kei pada tahun 1884-1891.

Pada pertengahan tahun 1891 Pater Le Cocq mendapat tugas baru di kepulauan Seram. Dari daerah inilah kemudian Pater berlayar menyusuri pantai hingga sampai di daratan Papua.

“Ya misionaris dari Gereja Katolik saat itu memiliki semangat berpetualang untuk menyamatkan jiwa-jiwa yang lemah. Mereka masuk ke Papua menghadapi masyarakat yang sederhana tapi  merindukan pencerahan injil, sekaligus keinginan untuk berkembang,” kata Titus Pekei.

Menurut Titus Pekei, perjalanan yang penuh tantangan tidak hanya saat mengarungi lautan untuk ke Papua, melainkan saat hendak menginjak kaki di daratan Papua,  Pater Le Cocq jatuh sakit dan pingsan. Dengan tergesa-gesa kedua Bruder yang menemani Pater berupaya untuk  mendirikan tenda untuk menidurkan Pater Le Cocq. Keesokan harinya ditempat itu dibangunkan gubuk sebagai tempat tinggal sementara.

“Dan kedua Bruder mulai pelan-pelan mendirikan sebuah pastoran. Pastoran itu terletak 150 meter dari pantai air besar, beberapa kilometer dari tempat yang sekarang disebut kota Fak-Fak,” kata Titus Pekei.

Arsip Foto : Titus Pekei saat jadi pemicara pada Diskusi Ragam Budaya Papua, di Jakarta, Senin 18 November 2019.

Dari beberapa literatur yang dipelajari, menurut Titus Pekei, dari tempat itu Pater Le Cocq mulai mengembara dari satu dusun ke dusun lain untuk bertemu dan berkenalan dengan masyarakat. Dengan bahasa yang sangat terbatas Pater berusaha berkomunikasi dengan masyarakat.

Berdasarkan kebaikan dan ketulusan yang terpancar dari diri Pater Le Cocq, masyarakat pun pelanpelan mulai berkenalan dan bersahabat dengannya. Di tahun 1895 ini pula, Pater Le Cocq juga membuka sekolah dengan 10 murid dan seorang guru Protestan dari Ambon, yakni Christianus Pelletimu.

Jiwa dan semangat misi pater Le Cocq yang membara mendorong dia pada tanggal 5 Maret 1896 barlayar lebih jauh ke wilayah timur, ke tempat penduduk yang padat. Ia menelusuri setiap perkampungan yang dijumpai dalam perjalanannya. Daerah Kipia dan Mimika merupakan daerah yang tak terlewatkan oleh jamahan Pater Le Cocq karena daerah ini cukup padat penduduknya.

Ia pun pergi dan menjelajah dari kampung ke kampung untuk menemukan masyarakat. Pada tanggal 27 Mei 1896, ketika hari menjelang petang, kira-kira jam 5 sore, Pater Le Cocq hendak kembali ke kapal yang menunggu di lautan. Ia harus menggunakan sampan untuk menuju perahunya. Waktu ia berada di sampan untuk menuju ke perahunya, ia tenggelam. Namun diduga keras, Pater Le Cocq mati dibunuh oleh anak buah kapal yang mendayung sampan, dan jenazahnya ditenggelamkan di laut

“Pater Le Cocq gugur dalam menjalankan tugas. Dengan demikian tamatlah riwayat sang perintis Pater Cornelius Le Cocq d’Armandville SJ pada usia 50 tahun. Inilah misionaris pertama yang gugur di tanah Papua dalam tugasnya,” kata Titus Pekei.

Titus mengharapkan agar pihak gereja Katolik Papua dalam hal ini para Uskup regio Papua, untuk dapat menyepakati menjadikan Pater Le Cocq  sebagai perintis misi katolik Papua, sehingga setiap tahun umat Katolik Papua dapat memberi tempat bagi peringatan akan misi awal Pater Le Cocq.

“Para Uskup Regio Papua mohon untuk menyepakati dan menetapkan setiap tanggal 22 Mei menjadi hari misi katolik Papua. Dengan demikian, selain rasa syukur, umat katolik juga selalu diberi pengetahuan tentang sejarah sendiri. Masyarakat tanpa sejarah, tentu akan kehilangan orientasi akan masa depannya,” tutup Titus Pekei penggagas noken Papua untuk diakui unesco ini. (*bn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Pangdam Diponegoro Kunjungi Kodam Cenderawasih

TIFFANEWS.COM – Dalam rangka meningkatkan sinergitas, Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Ignatius Yogo Triyono, MA, didampingi para pejabat Kodam XVII/Cenderawasih menerima kunjungan Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Rudianto beserta rombongan di Ruang Cycloops, Makodam XVII/Cenderawasih, Jayapura, Senin (25/10/2021). Pangdam IV/Diponegoro dalam kunjungan tersebut menyampaikan ucapan terima kasih atas sambutan yang diberikan oleh […]
Translate »