oleh

Ucapan Terimakasih Gubernur Papua, Bukti Kerendahan Hati dan Keteladanan

-OPINI-433 views

Oleh: Peter Tukan*

GUBERNUR Provinsi Papua  Lukas Enembe sudah sehat setelah menjalani perawatan di Jakarta selama sekitar tiga bulan  meskipun kondisi kesehatannya belum 100 persen pulih.

Lukas Enembe menyampaikan sendiri kabar gembira kesehatannya itu pada Selasa (14/7) di Jakarta dan langsung disiarkan berbagai media massa dan media sosial.

“Saya pribadi menyampaikan terimakasih kepada masyarakat Papua yang sudah mendoakan saya terus menerus untuk sembuh. Menurut dokter, saya harus istirahat total tiga hingga empat  bulan,” ungkap Lukas Enembe.

Peter Tukan

Pada kesempatan itu juga, Enembe juga tak lupa menyampaikan terimakasih kepada Pemerintah Republik Indonesia, khususnya Presiden Jokowi yang sudah perintahkan Menteri Kesehatan dr.Terawan Agus Putranto untuk menangani dirinya selama di rumah sakit.

“Secara pribadi saya menyampaikan ucapan terimakasih untuk Presiden dan Menkes serta para tenaga medis yang sudah merawat saya selama di rumah sakit hingga saya boleh keluar dan kembali ke Papua,” ujar Lukas.

Selain itu pula Gubernur juga menyampaikan terimakasih kepada seluruh jajaran Forkopimda Papua, yang sudah membantu tugas-tugas gubernur selama ini dalam menangani Covid-19 dan agenda pemerintahan lainnya.

“Kondisi kesehatan saya sekarang masih dalam tahap pemulihan pasca menjalani perawatan di Rumah Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta,” tutup Gubernur Lukas Enembe.

Tahu Berterimakasih

Satu kata sederhana: “Terimakasih!” –  itu sungguh-sungguh  penuh makna. Ini bukti sebuah sikap kerendahan hati sekaligus keteladanan!

Ucapan “Terimakasih” Lukas Enembe yang tertera di atas, sepintas dirasakan sederhana dan biasa-biasa saja namun sebenarnya memiliki makna yang sangat dalam! Itulah seorang Lukas Enembe – “Anak Koteka” yang tahu berterimakasih di tengah begitu banyak orang yang tidak tahu berterimakasih atau lupa berterimakasih.

Tentu saja, ucapan syukur dan terimakasih pertama-tama dia lambungkan ke hadirat Allah Sang Pencipta Semesta Alam yang telah mengaruniakan kepadanya rakhmat kesehatan rohani dan jasmani. Madah syukur dan pujian ini tidak henti-hentinya dia kumandangkan ke hadiratNya karena sungguh  disadari bahwa mati atau hidup manusia sepenuh-penuhnya berada di dalam tangan  Sang Pencipta.

Menyusul ucapan “Terimakasih” disampaikan Lukas Enembe kepada seluruh rakyat di Tanah Papua dan secara khusus  dan istimewa kepada Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang telah menugaskan Menteri Kesehatan untuk menangani  seluruh proses perawatan kesehatannya  selama berada  di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.

Ucapan “Terimakasih” juga disampaikan kepada para tenaga medis yang telah merawatnya dan semua orang yang berkehendak baik yang menyertainya selama hari-hari dia terbaring di Rumah Sakit itu. Tidak lupa pula dia menyampaikan “Terimakasih” kepada jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Fokopimda) Provinsi Papua  terutama Wakil Gubernur Klemen Tinal yang telah mambantu “menahkodai” kapal besar Provinsi Papua selama dia berada di luar provinsi yang dipimpinnya.

Mungkin saja, banyak orang akan mengatakan bahwa ucapan “Terimakasih” itu adalah hal yang biasa-biasa saja, tidak ada yang luar biasa. Namun justru yang dianggap “biasa-biasa” itulah yang merupakan bagian dari inti dari kehidupan manusia, bagian penting dari tata krama kehidupan bersama, bagian penting  etika hidup bermasyarakat. Justeru karena menganggap “biasa-biasa” itulah, maka sering orang mengabaikan tata krama kehidupan  bersama itu  di dalam pergaulan antarsesama manusia.

Lukas Enembe ternyata telah memberikan teladan  hidup yang sangat baik dan bijak  bagi seluruh rakyatnya di Bumi Cenderawasih.

Realitas membuktikan bahwa Gubernur Papua Lukas Enembe adalah salah satu dari sekian banyak Gubernur di Indonesia. Dia, selain kepala pemerintahan di provinsi tertimur dari Indonesia ini tetapi juga adalah wakil Pemerintah Pusat di provinsinya. Karena itu, sangatlah tepat dan sudah sepatutnya, dia menyampaikan ucapan “Terimakasih” yang tulus kepada Presiden Joko Widodo atas perhatian Pemerintah Pusat bagi  seluruh proses pemulihan kesehatannya.

Pertanyaan cerdas adalah, apakah perhatian Pemerintah Pusat atas kesehatan Lukas Enembe  itu adalah juga merupakan bagian integral dari pelaksanaan Hak-hak Asasi Manusia bagi Sang  “Anak Koteka”  ini? Jawaban yang cerdas pula  adalah: Ya!

Pada 10 November 1948, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyepakati setidaknya 30 macam Hak Asasi Manusia (HAM) dalam Deklarasi Universal HAM PBB. Terkait dengan perawatan kesehatan Gubenrur Lukas Enembe selama sekitar tiga bulan itu, setidaknya telah terlaksana enam macam amanat HAM yang sudah dipatuhi dan dipenuhi yaitu:

  1. Lukas Enembe berhak untuk dirawat ketika sakit. Hal ini sudah terlaksana selama tiga bulan dan pasti akan terus dilakukan kapan saja jika Lukas Enembe membutuhkan perawatan
  2. Lukas Enembe berhak untuk istirahat : Selama dirawat di RSPAD Gatot Soebroto, Lukas Enembe benar-benar diberikan waktu untuk beristirahat – membebaskan dia dari semua tugas rutinnya sebagai Gubernur Papua agar dia segera pulih dari sakit yang dideritanya. Bagaimanapun juga seluruh rakyat di Tanah Papua menantinya untuk pulang dalam keadaan sehat rohan i dan jasmani. Rakyat masih membutuhkan seorang Lukas Enembe.
  3. Lukas Enembe diberikan kekebabasan menjalankan ibadah agama yang dipeluknya . Inilah kebebasan beragama sesuai amanat HAM PBB. Artinya,  selama Lukas Enembe berada di RSPAD Gatot Soebroto ditemani sang istri tercinta Yulce Enembe, dia dan keluarga serta orang-orang dekatnya senantiasa diberikan kebebasan untuk beribadah. Sudah pasti bahwa Lukas Emnembe bersama sang istri tercinta begitu rajin membaca dan merenungkan Firman Tuhan yang termaktub di dalam Alkitab. Alkitab selalu menemaninya siang dan malam, dikala suka maupun susah,tertawa maupun menangis,   dikala sakit maupun sehat.
  4. Lukas Enembe berhak untuk hidup dan berhak pula untuk hidup dalam kebebasan dan keamanan: Lukas Enembe benar-benar merasakan dirinya diberikan kebebasan untuk istirahat selama tiga bulan berlalu.
  5. Lukas Enembe mendapatkan Hak untuk tidak diperlakukan secara diskriminatif. Tanpa pembedaan apapun, seperti ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, dan agama. Lukas Enembe benar-benar diperlakukan sebagai “Saudara” bagi sesama dan Saudara dari sesama  sebangsa dan se-Tanah Air Indonesia.
  6. Lukas Enembe berhak mendapatkan perlakuan yang sama dengan cara yang sama. Hal ini sudah dialami sendiri oleh Lukas Enembe selama dirawat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.

Inilah sepenggal Hak yang didapat Gubernur Lukas Enembe selama dia menjalani perawatan kesehatan di Jakarta.

Hendaklah Kamu pun Melakukannya

Alkisah, seorang Guru menggelar sebuah perjamuan  bersama murid-muridNya.  Sebelum dimulainya makan bersama, Sang Guru menghampiri  satu demi satu murid-murid  yang dikasihNya itu. Sambil mengenakan sehelai handuk dan mengikat handuk itu pada pinggangnya, kemudian ia menuangkan air ke dalam sebuah baskom, dan mulai membasuh kaki murid-muridNya itu lalu mengeringkannya dengan handuk yang terikat pada pinggangNya itu. Maka sampailah ia pada seorang muridNya bernama Simon. Melihat apa yang hendak diperbuat Sang Gurunya itu, Simon dengan sigap berdiri dan menolak perlakuan sang Guru kepadanya itu. Tetapi, sang Guru bersikeras untuk tetap membasuh kakinya.

Karena Sang Guru bersikeras membasuh kakinya, Simon berkata kepada Sang Gurunya, “Tuan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!”  Sang Gurunya itu pun berkata:”Barang siapa sudah mandi, dia tidak usah membasuh diri lagi karena dia sudah bersih seluruhnya!”

Usai  membasuh kaki semua muridNya itu, Sang  Guru itu pun mengatakan, Jika aku adalah Tuan dan Gurumu telah membasuh kakimu maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah aku perbuat kepadamu. Berbahagialah kami, jika kamu melakukan apa yang telah kuperbuat bagimu!”

Kembali kepada kisah Gubernur Lukas Enembe menyampaikan ucapan “Terimakasih”nya kepada semua orang yang telah berbuat baik kepadanya selama tiga bulan dirawat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, ternyata, Lukas Enembe  Sang “Anak Koteka” ini telah terbukti melakukan tindakan yang sangat sederhana namun berjuta maknanya.

Membayangkan kisah Sang Guru membasuh kaki para muridNya sebagai sebuah teladan kerendahan hati dan teladan  menjadi pelayan bagi semua orang, maka terbayang  juga seorang Lukas Enembe yang telah memberikan teladan hidup kepada semua warga masyarakat Papua dan kepada siapa saja,  dimana saja berada untuk tahu berterimakasih dan tidak lupa ucapkan kata “Terimakasih” kepada sesama di  dalam hidup bermasyarakat.

Sama seperti kisah Sang Guru di atas, kita pun dapat saja berimajinasi (membayangkan dalam pikiran kita)  sekaligus belajar dari apa yang sudah diperbuat Gubernur Lukas Enembe. Orang “nomor satu”  di Pemerintahan Provinsi Papua ini  telah memberikan teladan hidup bagi sesamanya.

Kita berimajinasi: Usai  meninggalkan RSPAD Gatot Soebroto,  Gubernur Lukas Enembe mengatakan : “Kamu menyebut aku Gubernurmu. Jika aku adalah Saudaramu dan Gubernurmu  telah menyampaikan ucapan “Terimakasih”  maka kamu pun wajib saling “berterimakasih”; sebab aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah aku perbuat kepada mereka yang telah memberikan  perhatian kepadaku selama tiga bulan berlalu. Berbahagialah kamu – rakyatku di Tanah Papua, jika kamu melakukan apa yang telah kuperbuat yakni mengucapkan kata  “Terimakasih” kepada semua orang yang telah berjasa bagi diri kita, keluarga dan masyarakat di Tanah Papua!”

Lukas Enembe telah memberikan teladan hidup untuk kita semua!

*Peter Tukan: Pemimpin Umum “Tiffanews”.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed