Uskup Leo Laba Ladjar Ulang Tahun ke-78 Penantian Panjang Keputusan Vatikan

Tiffa News
Uskup Leo Laba Ladjar,OFM

Oleh: Peter Tukan*

HARI  ini, Kamis, 4 November 2021, Pemimpin Umat Katolik (Uskup) Keuskupan Jayapura, Papua, Mgr.Leo Laba Ladjar,OFM merayakan Ulang Tahun ke-78. Ad Multos Annos!

Menapaki usia yang sudah senja ini, secara fisik, tentu saja dirinya sudah merasa kurang kuat lagi jika dibandingkan ketika masih sebagai seorang pemuda Leo yang gagah perkasa;  sekaligus dia sudah merasa lelah  menjalankan tugas sebagai Uskup Gereja Katolik di wilayah Keuskupan Jayapura yang penuh harapan dan tantangan yang berat ini.

Kini, Uskup Leo dengan penuh kesabaran sembari bertekun dalam doa yang khusuk,  menanti keputusan Paus Fransiskus di Vatikan untuk menerima permohonan  yang sudah lama diajukannya – agar dapat   pensiun dari Uskup Keuskupan Jayapura. Dia ingin cepat istirahat menikamti hari-hari senja hidupnya.

Menurut Hukum Kanonik Gereja Katolik, usia maksimal seorang uskup dalam memimpin keuskupan adalah 75 tahun maka,  tentu saja, ketika hari ini, Uskup Leo merayakan Ulang Tahunnya ke-78, dia pun semakin mendambakan cepat datangnya keputusan dari Vatikan itu.

Uskup Leo Laba Ladjar, OFM  lahir di Lembata, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 4 November 1943.  Menjadi Imam dalam Ordo Fransiskan (OFM), 29 Juni 1975. Diangkat oleh Sri Paus di Vatikan menjadi Uskup Auksilier Jayapura, 6 Desember 1993. Ditahbiskan menjadi Uskup 10 April 1994 dan resmi menjabat  Uskup Keuskupan Jayapura, 29 Agustus 1997.

(Catatan: Uskup Auksilier atau uskup bantu adalah uskup yang ditugaskan untuk membantu uskup diosesan dalam memenuhi kebutuhan pastoral dan administratif keuskupan.)

Secuil kisah awal pelayanan   Uskup Leo Laba Ladjar,OFM dalam memimpin  Keuskupan Jayapura ini,  Hardus Desa (seorang tokoh umat Katolik yang sudah kenyang  makan asam-garam dengan pengalaman karya  pengembalaan  Gereja Katolik di  seantero Tanah Papua)  dalam artikelnya  berjudul “Sejarah Keuskupan Jayapura 1973-2004” menulis antara lain: ”Segera setelah ditahbiskan menjadi Uskup auksilier, Uskup Leo langsung diserahi tugas secara khusus oleh Uskup  Munninghoff,OFM  untuk memperhatikan bidang pastoral dan ketenagaan. Selama satu periode waktu yang cukup, Uskup Leo mengadakan kunjungan ke daerah-daerah untuk dikenal dan berkenalan dengan umat, permasalahan serta kebutuhan mereka dan sekaligus juga mengalami sendiri beratnya medan layanannya. Kunjungan itu menambah pemahaman dan pengenalan akan umat dan wilayah”.

Pada awal tugas sebagai uskup Jayapura, Mgr Leo Laba Ladjar,OFM dihadapkan pada arus reformasi, ditantang oleh gerakan demokratisasi besar-besaran di tanah air, yang dampaknya ke Jayapura, Papua sangat terasa. Suasana kejenuhan, kecemasan, ketidakpuasan umum hidup kemasyarakatan sungguh mencapai puncaknya. Kemerosotan ekonomi, khususnya bidang keuangan  menciptakan keadaan bingung dan cemas yang meluas di dalam masyarakat. Dampaknya pada bidang politik sangat terasa,” tulis Hardus Desa (Baca buku: Profil Paroki & Unit Karya Keuskupan Jayapura,2006, hal.19-21).

Terkait  aktivitas Uskup Leo khususnya dalam hal  “mengadakan kunjungan ke daerah-daerah untuk dikenal dan berkenalan dengan umat, seperti yang ditulis Hardus Desa di atas, Uskup Leo Laba Ladjar,OFM sendiri pun pada 10 April 2019 lalu  menulis lagi kalimat itu dalam artikelnya berjudul “Pesan Awal” sebagai berikut:

“Selama 25 tahun saya berjalan bersama saudara-saudari. Dari tahun 1994 sampai 1997 masih bersama Emeritus Uskup Jayapura, Almarhum Bapak Uskup Herman F.M.Munninghoff,OFM. Waktu itu, saya memang banyak berkeliling untuk mengenal umat di hampir semua paroki dan stasi termasuk wilayah yang sekarang menjadi Keuskupan Timika.  Baru pada awal tahun 2004, dengan berdirinya Keuskupan Timika, wilayah keuskupan Jayapura menjiadi lebih sempit.  Kunjungan ke umat saya adakan lebih sering dengan harapan saya bisa mengenal Anda semuanya lebih dalam. Dan saya memang merasakan segala masalah yang Anda hadapi: suka dan duka, harapan dan kerinduan, permintaan dan tuntutan. Meskipun saya tahu semuanya itu dan turut merasakannya bersama Anda, namun tidak mampu saya tanggapi semuanya itu dengan pemberitaan Injil yang mengena dan menjawab keinginan saudara-saudari,” ( Buku: “Suara Uskup”,  Penerbit Obor,2019, hal.X).

Penulis dengan sangat sadar dan  sengaja memberikan warna hitam tebal pada beberapa kata dan kalimat  kutipan artikel di atas, baik yang ditulis oleh Hardus Desa maupun ditulis oleh Uskup Leo Laba Ladjar,OFM.

Kata kunci yang diberi warna hitam dan  patut (atau seharusnya) kita camkan baik-baik, kita  renungkan secara pribadi dan bersama-sama  dalam suasana Hati yang tenang dan penuh reflektif  yaitu:

  1. dikenal dan mengenal;
  2. mengalami sendiri….
  3. berjalan bersama;
  4. beratnya medan pelayanan…
  5. dampaknya pada bidang politik sangat terasa;
  6. kunjungan yang lebih sering;
  7. mengenal Anda semuanya lebih mendalam; merasakan segala masalah yang dihadapi: suka dan duka, harapan dan kerinduan, permintaan dan tuntutan……
  8. Meskipun saya tahu semuanya..
  9. merasakan bersama Anda;
  10. namun tidak mampu saya tanggapi semuanya itu…….

 

Pada hari ini, Kamis, 4 November 2021 diulang tahunnya yang ke-78; sepertinya, Uskup Leo Laba Ladjar,OFM — khusus kepada umat Katolik yang dipimpinnya di wilayah Keuskupan Jayapura —  tidak ingin kita memberikan kado HUT yang serba  “wah…” – mewah dan mencengangkan.

Kado terindah bagi Uskup Leo Laba Ladjar OFM yang didambakannya dan yang patut kita berkan hari ini  adalah: Kita semua dengan Hati yang sangat tenang, penuh kasadaran yang prima, kedewasaan diri serta kebijaksanaan, merenungkan 10 point kata dan kalimat kunci di atas.

Itulah kado kita untuknya di hari senja hidupnya ini ketika Uskup Leo Laba Ladjar OFM sudah mulai merasa lelah dan terus bersabar dalam penantian panjang datangnya keputusan Sri Paus Fransiskus di Vatikan agar dia pun mendapat kesempatan untuk istirahat juga . Dia memang sudah letih.

Selamat Ulang Tahun ke-78 Uskup Leo Laba Ladjar,OFM.

Ad Multos Annos – Semoga Umur Panjang!

 

*Peter Tukan : Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Adanya Keluhan Makanan yang Terlambat Datang, Ini Penjelasan Bidang Konsumsi PB Peparnas XVI

  TIFFANEWS.COM,- Koordinator Bidang Konsumsi PB Peparnas XVI Papua, Anike Rawar membantah  keluhan yang disampaikan kontingen mengenai makanan untuk atlet yang terlambat diantar ke hotel tempat menginapnya para atlet yang akan mengikuti kompetisi olahraga multicabang bagi atlet penyandang disabilitas itu. Seperti pemberitaan tiffanews.com  kemarin, selain keluhan mengenai makanan yang terlambat […]
Translate »