oleh

Yanto Basna, “Bahasa Inggris Bukan Faktor Utama”

-SOSOK-367 views

TIFFANEWS.COM,- Masih ingat nama Yanto Basna, mantan pemain nasional dan pemain terbaik Piala Sudirman 2015 ? Sekarang ia di Thailand, dan menjadi salah satu pemain yang diperhitungkan. Tentu membanggakan, apalagi tidak banyak orang Indonesia yang bermain di luar negeri.

Selasa, 23 Juni 2020, di luar dugaan, ia hadir di acara We-Talkshow the Series,  Kementerian Luar Negeri yang bertajuk Indonesia “Muda untuk Dunia”. Talkshow yang dipandu jurnalis Kompas TV Yasir Nene Ama ini, menampilkan Yanto Basna, Steve Mara dari Papua Muda Inspiratif, Runner up 2 Puteri Indonesia 2017 Karina Nadila dan Pelari Serafi Anelies.

Sudah pasti kehadiran mereka karena berhubungan dengan prestasi yang diraih yang juga berhubungan dengan luar negeri atau juga bisa dikatakan berhubungan dengan dunia. Maklum penyelenggaranya kementerian luar negeri. Tapi apakah prestasi yang mereka raih hanya khusus buat mereka, dan tidak bisa diikuti yang lain? Tentu tidak. Mereka justru hadir untuk membawakan ceritra sederhana bahwa apa yang mereka raih bisa dituruti yang lain.

Yanto Basna punya ceritra yang begitu sederhana. Sejak kecil, ia memang memiliki bakat sebagai pemain sepak bola. Namun ia lahir dan bertumbuh dalam keluarga yang lebih menekankan pendidikan. Ini bukan berarti bahwa pesepak bola tidak boleh mengenyam pendidikan, tapi kalau sudah terlibat dalam klub yang banyak latihan dan pertandingan, untuk sekolah mungkin sudah tidak punya waktu.

Pemuda, kelahiran Sorong, 12 Juni 1995 yang bernama lengkap Rudolof Yanto Basna, lahir dari keluarga Otis Basna (ayah) dan Jekelina (ibu). Ia punya pengalaman yang penuh tantangan dan keberanian yang dapat menjadi contoh bagi siapa saja yang ingin berprestasi lebih dari yang dipunyai saat ini.

Ia berceritra, suatu malam saat esoknya ia hendak meninggalkan Papua, keluarga, ayah, ibu, kaka dan adik  berkumpul di ruang tamu. Saat itu ayahnya bertanya kepadanya apakah mau main bola atau sekolah. Maklum ayahnya memiliki harapan agar ia dapat memperoleh pendidikan yang lebih tinggi.

Saat itu ia menjawab bahwa ia mau main bola. Persoalan sederhana bahwa keberangkatan sudah di depan mata yakni besok harinya. “Jadi saya tidak berpikir pendidikan. Bapa saya ngomong,  oke lah, kau punya keputusan kami keluarga mendukung. Tapi kami usul main bola 60 persen dan pendidikan 40 persen. Kau tidak boleh tinggalkan salah satu.  Akhirnya dengan perjanjian itu, orang tua setuju. Untuk lebih fokus ke sepak bola,”kenang Yanto.

Keputusan untuk meninggalkan Papua, meninggalkan keluarga karena ia hendak masuk ke Sekolah Sepakbola (SSB) Numbay Star, bersama tim SAD Uruguay.  Sejak 2011 dia bermain Futboll SAD U-17 di Urugauay sampai ke Deportivo Indonesia U19 (Uruguay).

Usai berlatih di Uruguay, ia tidak kembali  ke Papua, tapi menetap di Jakarta, melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) khusus bagi pelajar pendidikan dan olahraga di Ragunan, Jakarta Timur.

Bakat bermain bola terus diasah. Sekalipun ia dari Papua, klub profesional pertama bukan klub Persipura, tetapi Mitra Kukar dengan posisi bek tengah. Saat itu ia berumur 20 tahun. Dari Mitra Kukar, ia pindah ke klub Persib Bandung sambil kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta pada 2013.

Sebagai pemain bek, ia mendapat perhatian dari para pengasuh Timnas kala itu. Ia pun jadi pemain Timnas Indonesia. Walau bergabung Timnas U-19 saat preparatory camp di Spanyol, menjadi center back bukan lah barang baru. Ia sebenarnya sudah bergabung dengan Timnas U-19 sebelum Piala AFF U-19 2013. Dia juga penghuni tetap lini belakang SAD dalam tiga musim.

Seperti diketahui, di usianya yang baru mencapai 25 tahun, Yanto sudah dua kali memakai ban kapten tim Garuda. Jabatan kapten itu diembannya ketika menghadapi Vietnam dan Malaysia di dua laga terakhir timnas Indonesia dalam Kualifikasi Piala Dunia 2022. Pelatih Simon Mc Menemy mantan pelatih timnas saat itu memilih Yanto Basna sebagai kapten karena memiliki mental bertanding yang kuat dan berpengalaman main di luar Indonesia.

Saat menjadi pemain, ia semakin percaya diri dan berkeinginan untuk melompat dan mencari tantangan. Dipersib bandung dia menemukan bakatnya. Penonton pun mulai mengenalnya. Inilah tantang berikutnya ia mulai berpikir untuk main di luar negeri. Yang penting keluar dari Indonesia.

Dari Persib Bandung, ia kemudian pindah ke Sriwijaya yang kemudian datang tawaran untuk bermain di luar negeri tepatnya di Thailand. Ia menunjukkan kemampuan dan nyalinya sebagai salah satu pemain asing yang berhasil didatangkan Prachuap FC. Di klub inilah dirinya selalu menjadi pilihan utama untuk mengawal sektor pertahanan.

***

Sekarang, sudah tiga tahun ia Klub Sukhotai Liga I Thailand. Waktu yang cukup untuk mengukur kemampuan yang tidak kalah dengan pemain-pemain Thailand.

Ia mengenang saat pertama kali bertemu dengan pemain-pemain Thailand, dirinya memang tidak diperhitungkan. Maklum ia datang dari Indonesia yang iklim sepak bola belum semaju Thailand.

Melalui Talkshow itu, ia menegaskan bahwa meski dari Indonesia, ia sama sekali tidak gentar menghadapi iklim sepak bola Thailand yang lebih berkualitas. Bagaimana pun, Thailand selalu menjadi rujukan untuk meningkatkan level permainan, karena di sana memiliki kompetisi terbaik untuk kawasan Asia Tenggara.

“Klub-klub luar menganggap Indonesia berada di bawah mereka. Mereka tahu Indonesia, tapi Papua mereka tidak tahu. Saya berusaha menjelaskan, tapi saya pikir oke lah, nanti kita lihat saja di pertandingan,” ujarnya.

Saat awal datang ke Thailand pun ia punya cerita sendiri tentang penggunaan bahasa. Ia sama sekali tidak mahir dengan bahasa Inggris, apalagi bahasa Thailand. Dia mengaku, waktu latihan-latihan awal, dia tidak mengerti apa yang dibicarakan pelatih.

“Pelatih mau marah atau apa juga saya tidak mengerti. Baru setelah selesai latihan saya tanya ke asisten pelatih dengan bahasa isyarat, apa yang disampaikan pelatih tadi kepada saya, dan dari jawaban asisten itulah saya menjadi tahu. Saya hanya bermodal nyali saja. Bahasa Inggris saya juga belum bisa. Saya hanya bisa yes no, yes no. tapi itu tidak masalah yang penting bisa sampai dulu. Jadi perjuanganlah”ujarnya.

Sudah tiga tahun dia di Thailand, berarti kini sedikit banyak dia sudah mengetahui daerah dan orang-orang di sana, yang berarti pula ia juga mulai menguasai bahasa di sana.

Ternyata kehadirannya di sana diperhatikan juga oleh pesepak bola Indonesia yang juga ingin sekali bisa menunjukkan kemampuan di luar negeri.

“Beberapa waktu lalu, saya ditanya oleh salah seorang di Indonesia,  apa harus mengerti Bahasa Inggris untuk bisa bermain di Thailand? Bagi saya Bahasa Inggris itu kedua, yang penting mental dan berani  untuk keluar dari zona nyaman. Prinsip saya yang penting sampai dulu,” ucapnya.

Dia menjelaskan, banyak pemain Indonesia tidak mau ambil langkah ke luar karena masalah mental atau sudah senang dengan zona nyaman.  Padahal ketika kita berprestasi di luar negeri ada sesuatu yang kita dapat yakni pengaturan hidup dan kemandirian.

“Bukan uang yang didapat, melainkan juga ada sesuatu yang penting bagaimana kita mengatur hidup, bagaimana kita mengambil keputusan. Karena saya di sini sendiri selama tiga tahun. Banyak hal yang bisa saya lakukan,”jelasnya.

Yanto Basna memiliki mental bertanding yang luar biasa, yang tak hanya di lapangan hijau tapi juga dalam kehidupan kesehariannya. Keputusan untuk meninggalkan keluarga dalam usia yang sangat muda hingga ke Thailand bukan perkara gampang.

Menapaki karir sebagai pemain bola pun ia sering mendapatkan tantangan yang tidak ringan. Saat menjadi kapten timnas, ia selalu mendapatkan komentar negatif dari para pecinta sepak bola tanah air. Tapi komentar itu tidak membuatnya mundur tapi terus maju.

“Masa sulit dan jatuh bangun sudah sering saya alami. Saya pernah cedera. Saya cukup kehilangan semangat waktu itu, karena sebenarnya posisi saya waktu itu bisa menjadikan saya pemain bintang. Tapi karena saya cedera saya hanya dibelakang layar. Atas dukungan orang tua saya bisa bangkit lagi,” kenangnya.

***

Berjalan jauh dari Papua, Uruguay hingga Thailand, akankah Yanto Basna mengakhiri karir bolanya di Thailand? Ternyata tidak.  Kini ia bercita-cita untuk bermain di Jepang. Ia ingin meraih mimpi yang lebih besar.

“Saya kesini (Thailand-red) tahun 2018, pemain-pemain atau orang-orang Thailand justru pergi bermain di Jepang. Saya jadi berpikir, bahwa mereka semua main ke Jepang, tidak ke Malaysia atau ke Indonesia. Mereka berorientasi kaluar. Kalau tidak Jepang maka Eropa.  Saya mulai berpikir kenapa saya tidak mengikuti mereka. Sejak itu saya berkeinginan suatu saat saya ke Jepang,”ucapnya.

Dia merencanakan tahun depan bisa ke Jepang, walau sekarang belum terkoneksi.

“Saya percaya saja, Tuhan sudah membawa saya seperti saat ini, tidak mungkin saya dibiarkan. Tentu Tuhan punya rencana tertentu membawa saya seperti ini. Jadi ada rencana besar.  Saya juga belum berpikir untuk Kembali ke Indonesia, sebelum target saya tercapai,” katanya.

Di akhir perbicangan dalam Talkshow itu dengan tegas dia mengatakan kehadirannya di Thailand tidak lain adalah membawa nama Indonesia.

“Orang pasti tahu saya karena saya dari Indonesia dan pulau Papua. Saya hanyalah jembatan, bukan tembok. Jadi saya di sini, saya membuka jalan untuk adik-adik yang berkarir di sepak bola. Mental itu sangat penting dan yakinlah setiap orang punya talenta, sayang tidak digunakan.  Sebelum saya melangkah ke Jepang harus ada yang menggantikan saya di Thailand,” tutupnya. (Bn)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed